Sebuah pernyataan filosofis yang cukup mengguncang banyak orang, pernyataan yang tertata rapi menjadi sebuah tanya, “Siapakah wanita yang ingin membakar surga dan memadamkan api neraka?” Kiasan yang cukup bertentangan dengan filsafat religius dengan suara lantang dari seorang wanita. Wanita tersebut adalah Rabi’a Al-Adawiyah.
Rabi’a Al-Adawiyah lahir di Basrah, Irak pada tahun 717 M dan wafat pada tahun 801 M. Dia adalah seorang wanita sufi dan teologi Islam, yang terkenal karena kasih sayang dan pengabdian spiritualnya. Dialah wanita yang diungkapkan dalam pernyataan tadi. Wanita yang “membakar surga dan memadamkan api neraka” dalam makna kiasan.
Ini bukan tentang penyangkalan atas adanya surga atau neraka, Rabi’a mampu melihat lebih dalam, bahwa esensi sebenarnya dari iman adalah cinta tulus kepada Sang Pencipta, bukan dilandasi oleh rasa takut akan siksa neraka atau harapan atas kenikmatan surga. Dia merasa bahwa mencintai Tuhan semata-mata karena takut akan neraka atau mengharapkan surga adalah bentuk keserakahan dan ketakutan, bukan cinta sejati. Oleh karena itu, Rabi’a menganggap surga dan neraka sebagai hambatan dalam mencintai Allah dengan tulus.
Dia berpendapat bahwa seseorang harus mencintai Tuhan karena Dia, bukan karena balasan yang akan dia terima. Cinta ini harus merupakan cinta yang murni dan tidak dicampuri oleh nafsu atau ketakutan, dan inilah inti dari ajaran sufi yang diajarkan oleh Rabi’a Al-Adawiyah.
Akhirnya, Rabi’a Al-Adawiyah diingat sebagai seorang pelopor dalam tradisi Sufisme Arab tentang cinta kasih kepada Tuhan. Dia percaya bahwa cinta adalah kekuatan yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, dan bahwa melalui cinta sejati, manusia dapat mencapai pencerahan spiritual dan berkomunikasi dengan Tuhan.
Wanita hebat tersebut telah meninggalkan filosofi tentang cinta kepada Sang Pencipta yang luar biasa. Ia menyerukan agar cinta kepada Tuhan tidak terbatas pada sangkaan surga dan neraka, namun mencintai Tuhan apa adanya, siapakah Dia dan apa yang telah Dia lakukan. Ini adalah hikmah yang menjadi inti filosofi “membakar surga dan memadamkan api neraka” oleh Rabi’a Al-Adawiyah.









Tinggalkan komentar