Dua anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, Lutfi dan Suwardi, menjadi korban intimidasi dan penganiayaan menjelang Pemungutan Suara Ulang (PSU) Pilkada Banggai. Kejadian ini dilaporkan telah terjadi pada Sabtu, 5 April 2024.
Insiden bermula dari razia yang dilakukan oleh sekelompok orang yang mencurigai praktik politik uang. Razia ini dilakukan di beberapa lokasi, termasuk rumah mertua Lutfi dan rumah warga berinisial YT tempat Suwardi berada.
Lutfi, yang berada di rumah mertuanya sekitar pukul 03.00 WITA, menolak untuk menyerahkan dokumen Daftar Pemilih Tetap (DPT) dan hasil survei yang berada di mobilnya. Penolakan ini memicu aksi kekerasan. Ia mengaku dicekik hingga bajunya robek. Massa akhirnya membubarkan diri setelah gagal menemukan bukti yang mereka cari.
Sementara itu, Suwardi mengalami insiden serupa di Desa Tanah Abang, Kecamatan Toili, sekitar pukul 06.30 WITA. Sekelompok orang mendobrak pintu kamar mandi tempat ia berada dan memaksanya keluar. Meskipun menolak karena telanjang, ia dipaksa mengeluarkan barang-barangnya untuk diperiksa. Salah satu pelaku bahkan menarik bajunya dan mendorongnya keluar untuk dilihat warga.
Kedua anggota DPRD tersebut telah melaporkan kejadian ini ke pihak kepolisian. Kapolres Banggai, AKBP Putu Binangkari, menyatakan bahwa laporan tersebut akan ditangani oleh Polres Banggai, dengan melakukan pemeriksaan saksi dan pelapor. Pihak kepolisian akan melakukan penyelidikan, pengumpulan keterangan, dan gelar perkara untuk menentukan langkah selanjutnya.
Kejadian ini semakin memanas dengan kehadiran seorang anggota DPR RI di Desa Sentral Timur. Lutfi menyatakan bahwa kehadiran anggota DPR RI tersebut membuat massa semakin bersemangat melakukan razia. Ia menjelaskan bahwa situasi menjelang PSU memang tengah memanas.
Kronologi Penganiayaan Lutfi Samaruddin
Menurut keterangan Lutfi, massa awalnya hanya memantau, namun setelah kedatangan anggota DPR RI, mereka semakin gencar melakukan razia. Mereka memeriksa mobil dan bahkan masuk ke dalam rumah. Lutfi menjelaskan bahwa map yang dirampas hanya berisi DPT dan hasil survei, bukan bukti politik uang seperti yang disangka massa.
Aksi kekerasan terjadi ketika Lutfi menolak menyerahkan dokumen tersebut. Ia menjelaskan secara rinci bagaimana ia dicekik dan bajunya robek akibat tindakan kekerasan yang dilakukan oleh massa.
Kronologi Penganiayaan Suwardi
Suwardi menceritakan pengalamannya saat sekelompok orang mendobrak pintu kamar mandi dan memaksanya keluar meskipun ia dalam keadaan telanjang. Setelah keluar, ia dipaksa mengeluarkan semua barang dari tasnya untuk diperiksa. Ia juga dipaksa untuk keluar dari rumah agar dilihat oleh warga.
Pengalaman Suwardi menggarisbawahi situasi yang tidak aman dan intimidatif yang dihadapi para anggota DPRD menjelang PSU. Aksi kekerasan yang dilakukan oleh massa ini menjadi bukti nyata adanya intimidasi dan ancaman terhadap proses demokrasi.
Klarifikasi Anggota DPR RI Beniyanto Tamoreka
Anggota DPR RI dari Fraksi Golkar, Beniyanto Tamoreka, membantah terlibat dalam intimidasi atau persekusi menjelang PSU Pilkada Banggai. Tim Media Centre Beniyanto Tamoreka menyatakan bahwa kehadiran Beniyanto bertujuan untuk mendamaikan massa yang telah berkumpul.
Mereka menjelaskan bahwa Beniyanto menerima informasi tentang pengumpulan massa dan segera datang ke lokasi untuk melerai situasi. Mereka juga menyatakan bahwa Bawaslu Kabupaten Banggai dan anggota Polres Banggai datang ke lokasi tak lama setelah Beniyanto tiba. Mereka membantah tuduhan bahwa Beniyanto melakukan kekerasan atau menyuruh massa untuk melakukan kekerasan, seraya menyatakan bahwa video yang beredar di media sosial dipelintir.
Kejadian ini menimbulkan pertanyaan serius tentang keamanan dan integritas proses Pemilihan Suara Ulang (PSU) di Kabupaten Banggai. Tindakan intimidasi dan kekerasan yang dialami oleh para anggota DPRD perlu ditindaklanjuti secara hukum. Penting untuk memastikan agar proses demokrasi berlangsung secara adil dan bebas dari intimidasi.
Perlu adanya penyelidikan yang menyeluruh dan transparan untuk mengungkap aktor intelektual di balik kejadian ini, serta menjamin perlindungan bagi para saksi dan korban. Kejadian ini juga menjadi pengingat pentingnya menjaga kondusifitas dan keamanan dalam setiap tahapan proses pemilihan umum.









Tinggalkan komentar