PT Identix Kopi Nusantara dan KUB Doa Coffee Bondowoso menjalin kolaborasi strategis untuk merambah pasar internasional. Keduanya akan bekerja sama dalam mengekspor kopi asal Bondowoso ke Uni Emirat Arab (UEA) dan Tiongkok.
Kesepakatan ini ditandai dalam Forum Temu Bisnis Pelaku Usaha Antarprovinsi di Hotel PO Semarang, Kamis (29/1/2026). Acara tersebut dihadiri langsung oleh Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, dan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menunjukkan dukungan pemerintah daerah terhadap penguatan ekspor komoditas unggulan nasional.
Kolaborasi ini diharapkan berjalan berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi petani kopi Bondowoso. Identix Kopi Nusantara, sebagai eksportir kopi asal Jawa Tengah, memiliki rekam jejak dalam menghimpun pasokan kopi dari berbagai daerah di Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar global.
Target Ekspor Kopi Bondowoso
Chief Executive Officer Identix Group, Irma Susanti, menegaskan komitmen perusahaannya untuk mendorong kemajuan industri kopi nasional. Ia juga menekankan pentingnya pelibatan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta petani lokal dalam rantai bisnis ekspor.
Melalui kerja sama ini, Identix menargetkan ekspor minimal 700 ton kopi Bondowoso per tahun. Nilai transaksi dari target ini diperkirakan mencapai Rp51 miliar, dengan potensi peningkatan seiring dengan permintaan pasar.
Dani Firsada, perwakilan KUB Doa Coffee Bondowoso, menjelaskan bahwa sebanyak 700 ton kopi dari lereng Gunung Argopuro akan dikirim ke Tiongkok dan UEA sebagai pesanan awal. Ke depan, volume pengiriman diharapkan dapat meningkat signifikan.
“Artinya kami siap mengumpulkan para petani kopi se-Jawa Timur. Jadi, kami akan menyamakan persepsi agar bisa mengekspor kopi ke luar negeri,” ujar Dani.
Dengan merambah pasar ekspor, nilai jual kopi Bondowoso diprediksi akan meningkat. Keunggulan kopi Bondowoso terletak pada ketertelusuran produksinya.
Seluruh proses, mulai dari pemanenan, produksi, hingga pengemasan, telah mengantongi sertifikat resmi dari Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Kementerian Perindustrian. Hal ini memberikan kejelasan mengenai asal-usul kopi, termasuk lokasi penanaman dan petani yang terlibat.
“Ini nanti akan menambah nilai jual produk kami, karena semua kopi diambil langsung dari perkebunan di Bondowoso. Kami sudah ada sertifikat dari Dirjen Hak Kekayaan Intelektual. Kita ada kejelasan, dari kopinya ditanam dimana oleh petani siapa rekam jejaknya jelas,” sambung Dani.
Kopi Bondowoso memiliki cita rasa yang khas dan merupakan salah satu dari lebih dari 50 jenis kopi yang ada di Indonesia. Di Bondowoso sendiri terdapat dua jenis kopi unggulan, berbeda dengan Jawa Tengah yang memiliki robusta Ungaran, Temanggung, dan arabika Temanggung.
Perwakilan Dinas Perindustrian Jawa Timur turut menyambut baik ekspor kopi Bondowoso ke UEA dan Tiongkok. Mereka mengapresiasi keunikan kopi Bondowoso yang akhirnya berhasil menembus pasar ekspor internasional.
Misi Dagang Perkuat Sinergi Antardaerah
Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen, menekankan bahwa misi dagang ini menjadi momentum penting bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM) serta UMKM untuk memperluas jejaring usaha lintas daerah.
“Melalui misi dagang ini, kami berharap potensi unggulan Jawa Timur dapat semakin dikenal dan dimanfaatkan di Jawa Tengah sesuai kebutuhan daerah. Begitu pula produk unggulan Jawa Tengah diharapkan dapat menjadi referensi dan role model pengembangan di Jawa Timur,” ungkap Gus Yasin.
Misi dagang ini melibatkan 218 pelaku usaha dari Jawa Timur dan Jawa Tengah. Hingga berita ini ditulis, nilai transaksi yang terbentuk dalam misi dagang ini tercatat mencapai Rp2,9 triliun.
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyatakan bahwa misi dagang dan investasi ke Jawa Tengah ini merupakan langkah awal yang positif dalam memperkuat sinergi ekonomi antardaerah.
“Ini pertama kalinya kami melakukan misi dagang dan investasi ke Jawa Tengah. Hingga pukul 13.00 WIB, nilai transaksi yang terbangun tercatat mencapai Rp2,9 triliun,” ujar Khofifah.
Transaksi tersebut mencakup berbagai komoditas, seperti kayu, telur, ikan, cengkeh, dan tembakau dari Jawa Timur. Sementara Jawa Timur membeli beras, kopi, daging ayam, hingga fillet dori dari Jawa Tengah.
Dari total transaksi tersebut, Jawa Timur berhasil menjual produk senilai Rp2,658 triliun dan membeli produk dari Jawa Tengah senilai Rp184 miliar. Selain itu, terdapat investasi dari Jawa Timur sebesar Rp96 miliar di Jawa Tengah.
“Investasi ini salah satunya untuk mendukung program nasional, karena di Jawa Timur lahan sawah yang dilindungi sebagai lahan pertanian pangan berkelanjutan sudah terbatas. Maka Jawa Timur melakukan investasi di Jawa Tengah,” jelasnya.









Tinggalkan komentar