Perempuan seringkali menjadi sasaran utama radikalisasi oleh kelompok-kelompok ekstrem. Banyak kasus terorisme di Indonesia melibatkan perempuan, mulai dari bom Surabaya hingga penyerangan Mabes Polri. Hal ini menyoroti pentingnya peningkatan imunitas perempuan terhadap paham radikalisme.
Dalam rangka memperingati semangat Kartini, penting untuk memberdayakan perempuan agar aktif berperan dalam penanggulangan terorisme. Alissa Wahid, aktivis perempuan, sosial, dan keagamaan, menekankan hal ini dalam sebuah wawancara baru-baru ini.
Tantangan Partisipasi Perempuan dalam Penanggulangan Terorisme
Alissa Wahid menyoroti beberapa tantangan utama. Pertama, peran perempuan sebagai ibu menciptakan ikatan emosional yang kuat, membuatnya rentan terhadap eksploitasi oleh ideologi ekstrem yang menekankan loyalitas dan militansi. Ikatan emosional ini dapat dimanfaatkan untuk merekrut dan memobilisasi perempuan ke dalam aksi-aksi terorisme.
Kedua, masih ada budaya patriarki yang menganggap perempuan kurang rasional dalam pengambilan keputusan. Hal ini memudahkan manipulasi dan menciptakan label negatif terhadap perempuan dalam konteks radikalisme. Stereotipe ini perlu dihancurkan.
Memberdayakan Perempuan Melalui Pendidikan dan Peran Publik
Alissa berpendapat bahwa dengan diberikan ruang untuk berkembang, memimpin, dan mengambil keputusan, perempuan dapat menjadi individu yang rasional dan berkontribusi positif bagi keluarga dan masyarakat. Pengembangan sisi loyalitas dan naluri mengasuh perempuan perlu diarahkan ke hal-hal positif, seperti mencintai Pancasila, bela negara, dan wawasan kebangsaan.
Dengan demikian, perempuan dapat menginternalisasi nilai-nilai tersebut dan berperan penting dalam pencegahan ideologi transnasional yang mengancam kedaulatan negara. Pentingnya peran perempuan dalam penanggulangan terorisme tidak hanya melalui pemahaman ideologi yang moderat, tetapi juga dengan memperkuat nasionalisme.
Membumikan Semangat Kartini di Era Modern
Mengembalikan semangat RA Kartini yang memperjuangkan emansipasi perempuan sangat relevan. Perempuan harus berdaya, terus mengasah diri, dan beradaptasi dengan kemajuan zaman. Namun, hambatan seringkali muncul dari internal, yaitu kepercayaan diri perempuan sendiri.
Banyak perempuan masih terkungkung oleh tradisi yang membatasi peran mereka di rumah dan menganggap laki-laki lebih unggul dalam kepemimpinan. Hal ini menghambat pengembangan keterampilan dan kemampuan perempuan untuk bersaing. Tantangan terbesar adalah kesiapan mental dan psikis perempuan sendiri.
Peran Pemerintah dalam Memberdayakan Perempuan
Pemerintah memiliki peran krusial dalam memberdayakan perempuan. Hal ini dapat dilakukan melalui peningkatan akses pendidikan, dan keterlibatan perempuan dalam musyawarah perencanaan pembangunan (musrembang) di berbagai tingkatan, mulai dari desa hingga pusat. Dengan demikian, suara perempuan dapat didengar dan diperhatikan dalam pengambilan kebijakan.
Pemerintah juga perlu mendorong kepercayaan diri perempuan dan memberikan fasilitas yang memadai untuk berpartisipasi aktif di ruang publik. Dengan begitu, potensi perempuan dalam membangun bangsa dapat dimaksimalkan, termasuk dalam penanggulangan terorisme.
Kesimpulan
Penanggulangan terorisme memerlukan pendekatan holistik yang melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk perempuan. Memberdayakan perempuan, menghancurkan stigma negatif, dan memberikan akses yang lebih luas merupakan langkah penting untuk mencegah radikalisasi dan menciptakan masyarakat yang lebih aman dan damai. Perempuan bukan hanya korban, tetapi juga agen perubahan yang potensial.









Tinggalkan komentar