NPC Indonesia: “Mendobrak Batas” Raih Prestasi Dunia, Semangat Menggema!

Kilas Rakyat

18 Januari 2026

3
Min Read

Kabar gembira datang dari ajang Asian Youth Para Games 2025 di Dubai, Uni Emirat Arab. Atlet angkat berat asal Wonogiri, Imam Nur Shaleh, berhasil meraih medali perak. Prestasi membanggakan ini disambut hangat oleh National Paralympic Committee of Indonesia (NPC Indonesia). Keberhasilan Shaleh menjadi bukti nyata dari program pencarian atlet berbakat “Mendobrak Batas”.

Shaleh, yang akrab disapa, adalah salah satu dari 2.600 bibit atlet potensial yang teridentifikasi melalui program tersebut. Ia kemudian dipilih oleh NPC Jawa Tengah untuk dikembangkan melalui Program Jangka Panjang Atlet Potensial (PJPAP). Progres Shaleh dalam olahraga yang baru ditekuninya selama lima bulan sangat pesat, hingga tim pelatih para angkat berat Indonesia memasukkannya ke dalam daftar atlet yang diberangkatkan ke Dubai.

Perjuangan Imam Nur Shaleh di Dubai

Keputusan untuk mempercayai potensi Shaleh terbukti tepat. Turun di kelas -54 kilogram putra kategori rookie, Shaleh berhasil meraih medali perak.

Jebolan “Mendobrak Batas” Bersinar

Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) NPC Indonesia, Rima Ferdianto, mengungkapkan bahwa Shaleh bukanlah satu-satunya atlet jebolan “Mendobrak Batas” yang berhasil menorehkan prestasi di Dubai.

“Program Mendobrak Batas berhasil mengidentifikasi, diantaranya adalah 13 atlet yang diberangkatkan ke Dubai dan kini membuahkan hasil yang manis. Kita bangga karena dari program identifikasi talenta ini kita menemukan bibit atlet yang berkualitas, bahkan kelasnya bukan nasional lagi tetapi Asia. Sudah ada satu atlet yang berhasil mendapatkan medali perak,” kata Rima Ferdianto pada Kamis (11/12/25).

Pencarian Bakat yang Berkelanjutan

NPC Indonesia telah melakukan pencarian bakat di 19 provinsi dan mengidentifikasi lebih dari 2.600 bibit atlet. Program ini rencananya akan diperluas hingga menjangkau 35 provinsi yang memiliki kepengurusan.

Rima menjelaskan bagaimana proses seleksi dan pembinaan atlet-atlet berbakat ini.

“Kita sudah melakukan talent scouting ke 19 provinsi, sudah mengidentifikasi sebanyak 2.600 bibit atlet muda. Nantinya dari jumlah itu akan disaring lagi oleh para pelatih, fisioterapis dan tim dokter untuk dipilih mana yang profilnya paling bagus dan dicabor mana mereka bisa berperforma paling bagus,” jelas Rima.

Rima melanjutkan dengan menjelaskan bagaimana pembinaan atlet dilakukan.

“Bakat yang sangat menonjol akan dibina langsung oleh pusat. Sementara bakat-bakat potensial lainnya menjadi tugas NPC provinsi untuk mengasah melalui pelatihan daerah, membina mereka sehingga bakat-bakat ini menjadi mahir, skill olahraganya menjadi bagus dan nantinya juga bisa bersaing di level internasional,” imbuhnya.

Target dan Harapan di Asian Youth Para Games 2025

Prestasi yang diraih Shaleh diharapkan dapat menginspirasi atlet-atlet lain jebolan “Mendobrak Batas”. Pada hari pertama ajang Asian Youth Para Games 2025, Indonesia berhasil meraih satu medali emas dan dua perak.

Medali emas diraih oleh atlet para renang binaan Sentra Khusus Disabilitas (Skodi), Siti Aisyah. Sementara medali perak dipersembahkan oleh Shaleh dan I Komang Aditya Pradnyana, atlet para renang asal Bali, di nomor 50 meter gaya kupu-kupu putra S6 kategori usia 12-16 tahun.

Rima Ferdianto optimis target 4 medali emas, 8 medali perak, dan 10 medali perunggu dapat tercapai. Bahkan, ia berharap Indonesia bisa melampaui target tersebut.

Rima menyampaikan harapannya untuk pencapaian medali.

“Kita bersyukur karena peraih medali emas ini awalnya tidak kita targetkan untuk meraih emas, sehingga nanti cabor yang dari awal kita targetkan seperti atletik dan para bulu tangkis bisa menambah pundi-pundi medali emas. Mudah-mudahan kalau medali emasnya bisa lebih dari empat, berarti kita sudah melebihi target,” jelas Rima.

Asian Youth Para Games 2025 yang diikuti oleh ribuan atlet potensial dari 35 negara ini masih akan berlangsung hingga Sabtu (13/12/25).

Tinggalkan komentar


Related Post