Pihak berwenang Amerika Serikat tengah menghadapi gelombang pertanyaan serius terkait serangkaian kematian dan hilangnya personel yang terlibat dalam riset nuklir dan antariksa. Setidaknya sepuluh individu dengan latar belakang keilmuan sensitif ini dilaporkan meninggal atau menghilang dalam beberapa tahun terakhir. Fenomena ini memicu spekulasi mengenai kemungkinan adanya kaitan antar kasus, atau sekadar kebetulan yang membingungkan.
Menanggapi situasi yang tidak biasa ini, Federal Bureau of Investigation (FBI) telah menyatakan kesiapannya untuk menyelidiki potensi keterkaitan antar para ilmuwan yang menjadi korban. Upaya ini akan melibatkan kolaborasi erat dengan Departemen Energi, Departemen Pertahanan, serta lembaga penegak hukum lainnya untuk mencari titik terang dan jawaban.
Di sisi lain parlemen, Komite Pengawas Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Amerika Serikat, yang diketuai oleh Partai Republik, juga mengumumkan akan melakukan investigasi terpisah. Fokus penyelidikan ini adalah pada laporan kematian dan hilangnya para ilmuwan yang dianggap memiliki akses terhadap informasi ilmiah yang sangat sensitif. NASA sendiri melalui platform X (sebelumnya Twitter) mengonfirmasi bahwa mereka berkoordinasi dengan berbagai lembaga terkait untuk menindaklanjuti perkembangan kasus ini.
Beragam Latar Belakang Kasus
Kasus-kasus yang diselidiki ini menampilkan pola yang berbeda-beda. Beberapa di antaranya merupakan kasus pembunuhan yang hingga kini belum terpecahkan. Sementara itu, ada pula yang berstatus sebagai orang hilang tanpa indikasi adanya tindak kejahatan. Dalam setidaknya dua kejadian, keluarga korban menyebutkan adanya kondisi medis yang sudah ada sebelumnya atau pergumulan pribadi yang dialami oleh kerabat mereka. Namun, hingga kini, pihak berwenang belum menemukan adanya kaitan yang menghubungkan satu kasus dengan kasus lainnya.
Gedung Putih pun tidak ketinggalan dalam merespons isu krusial ini. Pekan lalu, mereka menyatakan komitmen untuk bekerja sama dengan seluruh lembaga federal dalam investigasi potensi keterkaitan. Bahkan, Presiden Donald Trump telah menyatakan keprihatinan yang mendalam terhadap situasi ini, menyebutnya sebagai masalah yang cukup serius.
"Sangat kecil kemungkinannya ini hanyalah kebetulan," tegas Ketua Pengawas DPR, James Comer, yang merupakan anggota Partai Republik. Ia menambahkan, "Kongres sangat mengkhawatirkan hal ini. Komite kami menjadikannya salah satu prioritas utama kami saat ini karena kami memandangnya sebagai ancaman keamanan nasional."
Pandangan serupa juga diungkapkan oleh Anggota DPR dari Partai Demokrat, James Walkinshaw. Ia sepakat bahwa investigasi sangat diperlukan, namun ia tidak yakin bahwa ada motif yang terkoordinasi di balik semua kejadian ini. "Amerika Serikat memiliki ribuan ilmuwan dan pakar nuklir. Ini bukanlah jenis program nuklir yang berpotensi dapat terdampak signifikan oleh musuh asing hanya dengan menargetkan 10 individu," jelasnya.
Rangkaian Peristiwa yang Mengundang Tanya
Serangkaian kematian dan penghilangan yang penuh misteri ini dilaporkan dimulai pada tahun 2023 dengan meninggalnya Michael David Hicks. Ia adalah seorang ilmuwan yang telah mengabdikan hampir 25 tahun hidupnya di Jet Propulsion Laboratory (JPL) milik NASA.
Hicks, yang berusia 59 tahun, meninggal dunia pada 30 Juli 2023. Spesialisasinya adalah dalam penelitian mengenai komet dan asteroid. Penyebab pasti kematiannya tidak diungkapkan kepada publik. Putrinya, Julia Hicks, sempat menyebutkan bahwa ayahnya sedang berjuang dengan masalah medis, dan spekulasi yang beredar belakangan ini cukup mengguncangnya.
"Saya tidak mengerti hubungan antara kematian ayah saya dengan para ilmuwan lain yang hilang. Saya sulit menahan tawa mendengarnya, namun di sisi lain, ini mulai menjadi serius," ujar Julia Hicks.
Pada tahun-tahun berikutnya, beberapa individu lain yang memiliki kaitan dengan JPL juga dilaporkan meninggal atau menghilang. Frank Maiwald, seorang spesialis penelitian antariksa, dilaporkan meninggal di Los Angeles pada tahun 2024 di usianya yang ke-61. Monica Reza, seorang insinyur kedirgantaraan berusia 60 tahun, dilaporkan menghilang saat melakukan pendakian di hutan Los Angeles pada Juni 2025. Ia menjabat sebagai direktur di salah satu laboratorium NASA.
William Neil McCasland, seorang pensiunan Mayor Jenderal Angkatan Udara AS, juga termasuk dalam daftar orang hilang. Ia belum terlihat sejak meninggalkan rumahnya di Albuquerque pada 27 Februari, meninggalkan ponsel, kacamata resep, dan perangkat pintarnya. McCasland diketahui terlibat dalam beberapa penelitian kedirgantaraan paling canggih yang dikembangkan oleh Pentagon.
Dua individu lain yang dilaporkan hilang adalah Melissa Casias dan Anthony Chavez. Keduanya diketahui bekerja di Laboratorium Nasional Los Alamos, sebuah fasilitas penelitian nuklir terkemuka yang berlokasi di New Mexico.
Casias, 53 tahun, terakhir kali terlihat berjalan di sebuah jalan dekat Talpa, New Mexico, pada bulan Juni 2025. Ia meninggalkan semua barang pribadinya di rumah, termasuk ponsel yang telah dikembalikan ke pengaturan pabrik. Chavez, seorang pensiunan berusia 78 tahun yang pernah bekerja sebagai mandor pengawas konstruksi di fasilitas tersebut, juga dilaporkan menghilang pada Mei 2025.
Beberapa Kematian Lain yang Memantik Spekulasi
Beberapa bulan terakhir, kematian beberapa ilmuwan ternama juga semakin memanaskan spekulasi publik. Profesor Nuno F.G. Loureiro dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) dilaporkan ditembak mati di rumahnya dekat Boston pada Desember 2025. Pelaku penembakan tersebut juga dilaporkan menyerang Universitas Brown, menewaskan dua mahasiswa. Loureiro, seorang fisikawan dan ilmuwan fusi berusia 47 tahun, sebelumnya memimpin Pusat Sains Plasma dan Fusi MIT.
Carl Grillmair, seorang ahli astrofisika, tertembak di usianya yang ke-67 di rumahnya di pinggiran Los Angeles pada bulan Februari. Pihak berwenang telah menangkap seorang tersangka yang diyakini tidak mengenal Grillmair. Ahli astrofisika ini bekerja di California Institute of Technology, berkolaborasi dengan NASA, dan dikenal luas atas studinya mengenai pencarian air di planet-planet asing.
Mantan perwira intelijen Angkatan Udara AS, Matthew James Sullivan (39), juga meninggal dunia pada tahun 2024, sebelum ia sempat memberikan kesaksian dalam sebuah kasus whistleblower terkait UFO. Anggota DPR Eric Burlison dari Missouri mendesak FBI untuk menyelidiki kasus ini. Burlison menyebutkan bahwa Sullivan meninggal karena bunuh diri, sebuah fakta yang dinilainya sangat mencurigakan.
"Ia dijadwalkan datang untuk sebuah wawancara. Dalam waktu dua minggu, ia secara mencurigakan meninggal karena bunuh diri," ungkap Burlison.
Beberapa hari terakhir, kematian Amy Eskridge pada tahun 2022 kembali disorot publik. Eskridge adalah salah satu pendiri Institute for Exotic Science di Alabama. Pihak keluarga Eskridge menyatakan bahwa ia adalah individu yang sangat cerdas namun menderita nyeri kronis. "Orang harus menyadari bahwa para ilmuwan juga meninggal, dan jangan membesar-besarkan hal ini," imbau pihak keluarga Eskridge, berharap agar tidak ada spekulasi yang berlebihan.
Pihak berwenang terus bekerja untuk mengumpulkan fakta dan mencari jawaban atas serangkaian peristiwa yang membingungkan ini, sembari masyarakat umum menanti kejelasan mengenai misteri yang menyelimuti para ilmuwan kunci Amerika Serikat.









Tinggalkan komentar