Upaya menjaga kejayaan bulu tangkis Indonesia terus digalakkan secara masif. Pembinaan dilakukan hingga ke level paling dasar di sekolah-sekolah, dengan harapan muncul bibit-bibit unggul yang akan mengharumkan nama bangsa di kancah dunia. Salah satu inisiatif terbaru datang dari Pengurus Provinsi (Pengprov) PBSI Jawa Tengah dan Bakti Olahraga Djarum Foundation yang menyelenggarakan program pembinaan usia dini di Magelang.
Ribuan siswa Sekolah Dasar di Magelang menunjukkan antusiasme tinggi dalam program pembinaan bulu tangkis usia dini. GOR Djarum menjadi saksi bisu semangat anak-anak memegang raket, tanda kecintaan terhadap olahraga tepok bulu. Program ini bukan hanya sekadar latihan, tetapi juga ajang pengenalan yang menyenangkan bagi siswa kelas 1 hingga 3 SD.
Pembinaan Bulu Tangkis Usia Dini: Kunci Regenerasi Atlet
Program ini melibatkan 480 siswa dari 16 SD dan MI di Magelang. Ini sekaligus menjadi penutup rangkaian roadshow pembinaan yang telah menjaring 2.266 peserta di lima kota besar Jawa Tengah sepanjang tahun 2025.
Festival SenengMinton: Cara Edukatif Memperkenalkan Bulu Tangkis
Festival SenengMinton menjadi sarana pengenalan bulu tangkis yang edukatif. Hal ini bertujuan agar kecintaan pada olahraga dapat tumbuh lebih dahulu sebelum memasuki tahap latihan yang lebih serius.
Yoppy Rosimin, selaku Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, menekankan pentingnya strategi mengenalkan bulu tangkis melalui permainan. Ia menilai hal ini sebagai kunci keberlangsungan regenerasi atlet.
“Regenerasi dan pembinaan atlet adalah proses jangka panjang yang tidak bisa diperoleh secara instan,” ujar Yoppy.
Yoppy menambahkan bahwa prosesnya harus dimulai secara konsisten sejak usia dini. Pendekatan edukatif dinilai sangat penting agar anak-anak jatuh cinta pada olahraga terlebih dahulu.
Ketua Umum Pengprov PBSI Jawa Tengah, Basri Yusuf, turut memberikan pandangannya terkait program ini. Ia melihat antusiasme ribuan siswa sebagai angin segar bagi masa depan bulu tangkis nasional.
Basri menilai bahwa pendekatan jemput bola ke sekolah dasar sangat efektif untuk menjangkau bakat-bakat terpendam. Selama ini, bakat-bakat tersebut belum tersentuh oleh klub.
“Antusiasme para peserta untuk berkenalan dengan olahraga bulutangkis sangat luar biasa,” kata Basri.
Basri mengakui bahwa ini adalah terobosan baru. Sebelumnya, pembinaan hanya bertumpu pada klub, namun kini PBSI bisa menjamah langsung ke sekolah-sekolah.
“Ini merupakan impian kami, karena selama ini pembinaan dilakukan oleh klub, sekarang kami bisa menjamah banyak sekolah,” tuturnya.
Basri berharap mata rantai regenerasi tidak akan terputus. Hal ini dapat terwujud dengan adanya program yang merangsang sekolah untuk membuat ekstrakurikuler bulu tangkis.









Tinggalkan komentar