Meta Description: Real Madrid hadapi kritik pedas usai nirgelar dua musim beruntun. Pelatih Alvaro Arbeloa bela klubnya dan singgung klub lain yang puasa gelar lebih lama.
Madrid – Musim 2025/2026 ini kembali menjadi periode yang kelam bagi Real Madrid. Untuk kali pertama sejak tahun 2010, klub raksasa Spanyol ini harus menelan pil pahit karena gagal meraih satu pun gelar juara dalam dua musim berturut-turut.
Sorotan tajam datang dari berbagai penjuru. Di kancah domestik, El Real harus rela finis di bawah rival abadinya, Barcelona, dalam klasemen La Liga. Langkah mereka di Copa del Rey pun terhenti lebih awal, tereliminasi di babak 16 besar. Sementara di panggung Eropa, ambisi meraih trofi Liga Champions harus kandas di perempat final.
Performa yang minim prestasi ini tentu saja menimbulkan kekecewaan mendalam bagi para penggemar setia Los Blancos. Situasi ini bahkan terasa lebih buruk dibandingkan musim sebelumnya. Pada musim 2024/2025, meski gagal di liga dan Eropa, setidaknya Madrid mampu melangkah hingga partai final Copa del Rey, meskipun akhirnya harus mengakui keunggulan Barcelona.
Menjelang pertandingan kandang melawan Oviedo pada Jumat (14/5) dini hari WIB, pelatih tim Madrid, Alvaro Arbeloa, angkat bicara. Ia merasa bahwa klubnya mendapatkan penilaian yang berbeda dibandingkan klub-klub lain. Arbeloa secara tegas menyinggung adanya standar ganda dalam evaluasi performa tim.
Arbeloa Bela Madrid dari Kritik Tajam
Alvaro Arbeloa, yang kini memegang kendali tim, memberikan pembelaan terhadap klub yang dibelanya. Ia merasa bahwa kritik yang dilayangkan kepada Real Madrid terlalu berlebihan, terutama jika dibandingkan dengan kondisi klub-klub lain di Eropa.
“Ada standar ganda; selalu ada,” ujar Arbeloa dengan nada tegas, seperti dilansir dari media AS. Pernyataannya ini menyiratkan bahwa Real Madrid kerap mendapatkan tekanan dan ekspektasi yang lebih tinggi, bahkan ketika klub lain mengalami periode tanpa gelar yang lebih panjang.
Ia melanjutkan, “Kami memang dua tahun tanpa gelar juara, sedangkan klub-klub lain ada yang puasa gelar lebih lama.” Arbeloa secara implisit membandingkan Real Madrid dengan klub-klub lain yang mungkin sudah bertahun-tahun tidak merasakan manisnya gelar juara, namun tidak mendapatkan sorotan seheboh yang dialami oleh Madrid.
Lebih lanjut, Arbeloa mencoba mengingatkan publik akan sejarah dan pencapaian luar biasa Real Madrid di kancah Eropa. “Memangnya ada berapa banyak klub yang juara Liga Champions sebanyak kami?” ceplosnya. Pertanyaan retoris ini menjadi senjata Arbeloa untuk menunjukkan superioritas historis Real Madrid di kompetisi paling bergengsi antarklub di Eropa.
Pernyataan Arbeloa ini tentu saja memicu perdebatan. Di satu sisi, ia mencoba meredakan tekanan terhadap timnya dengan menunjukkan perspektif yang lebih luas. Di sisi lain, para kritikus mungkin berpendapat bahwa standar yang harus dipenuhi oleh Real Madrid, sebagai salah satu klub terbesar di dunia, memang seharusnya jauh lebih tinggi.
Konteks Sejarah dan Ekspektasi Tinggi
Penting untuk memahami konteks di balik pernyataan Arbeloa. Real Madrid bukanlah klub sembarangan. Sejak didirikan pada tahun 1902, klub ini telah mengukir sejarah gemilang dengan memenangkan berbagai gelar bergengsi, baik di tingkat domestik maupun internasional.
Di Liga Spanyol, Real Madrid tercatat sebagai salah satu klub dengan gelar terbanyak. Namun, dominasi Barcelona dalam beberapa dekade terakhir seringkali membuat Madrid harus bekerja ekstra keras untuk meraih gelar La Liga. Terakhir kali mereka menjuarai La Liga adalah pada musim 2021/2022.
Di Copa del Rey, Madrid juga memiliki sejarah panjang. Namun, trofi ini seringkali luput dari genggaman mereka dalam beberapa tahun terakhir. Gelar Copa del Rey terakhir yang diraih Real Madrid adalah pada musim 2013/2014.
Namun, di ajang Liga Champions, Real Madrid adalah raja tak terbantahkan. Dengan 15 gelar juara, mereka jauh meninggalkan klub-klub lain dalam sejarah kompetisi ini. Pencapaian ini menjadikan Liga Champions sebagai “rumah” bagi Real Madrid, dan kegagalan di kompetisi ini selalu menjadi pukulan telak bagi klub dan para penggemarnya.
Oleh karena itu, ketika Real Madrid gagal meraih gelar selama dua musim berturut-turut, hal ini dianggap sebagai anomali. Ekspektasi yang begitu tinggi, ditambah dengan sejarah panjang kesuksesan, membuat periode tanpa gelar menjadi sorotan yang intens.
Menyudahi Musim dengan Terhormat
Meskipun menghadapi situasi yang sulit, Real Madrid masih memiliki kesempatan untuk mengakhiri musim 2025/2026 dengan catatan yang lebih baik. Tiga pertandingan tersisa di La Liga menjadi arena terakhir bagi mereka untuk menunjukkan performa terbaik.
Pertandingan pertama yang harus dihadapi adalah menjamu Oviedo di kandang sendiri. Setelah itu, mereka akan bertandang ke markas Sevilla, sebelum akhirnya menutup musim dengan menjamu Athletic Bilbao di Santiago Bernabeu.
Setiap pertandingan ini menjadi krusial bagi Real Madrid untuk setidaknya meraih kemenangan dan memberikan sedikit kebanggaan bagi para penggemar. Kemenangan di sisa laga ini dapat menjadi modal penting untuk membangun kembali kepercayaan diri tim menjelang musim berikutnya.
Kritik memang tak terhindarkan dalam dunia sepak bola, terutama bagi klub sebesar Real Madrid. Namun, bagaimana tim merespons kritik tersebut dan bangkit dari keterpurukan akan menjadi penentu nasib mereka di masa depan. Pernyataan Arbeloa menjadi salah satu upaya untuk mengarahkan fokus kembali pada kekuatan historis klub dan mencari motivasi dari pencapaian masa lalu.
Publik sepak bola akan terus mengamati bagaimana Real Madrid akan bangkit dari dua musim yang hampa gelar ini. Apakah mereka akan kembali ke jalur juara dengan kekuatan penuh, ataukah periode transisi ini akan berlanjut lebih lama? Jawabannya akan terungkap seiring berjalannya waktu dan performa tim di lapangan.








Tinggalkan komentar