Lima Guru Besar Baru Dilantik, Konsep Bisnis Berkelanjutan Diusung

Kilas Rakyat

21 Agustus 2025

3
Min Read

Lima guru besar baru Universitas Mercu Buana (UMB) resmi dikukuhkan pada Selasa (19/8) di Kampus Meruya, Jakarta Barat. Pengukuhan ini menandai puncak pencapaian akademik, namun Rektor UMB, Prof. Dr. Ir. Andi Adriansyah, M.Eng., menekankan bahwa ini baru permulaan dari tanggung jawab yang lebih besar. Para guru besar dituntut untuk berkontribusi lebih luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan, masyarakat, dan bangsa.

Salah satu guru besar yang dikukuhkan adalah Prof. Dr. Indra Siswanti, M.M., pakar di bidang Ilmu Manajemen. Beliau menyampaikan orasi ilmiah berjudul “Hexaple Bottom Line: Sebuah Paradigma Baru dalam Bisnis Berkelanjutan Bank Syariah”. Orasi ini memperkenalkan konsep inovatif untuk keberlanjutan bank syariah.

Konsep Hexaple Bottom Line (HBL) merupakan pengembangan dari Triple Bottom Line (People, Planet, Profit) yang sudah dikenal luas. Indra menambahkan dimensi Prophet (nilai spiritual), Phenotechnology (inovasi teknologi), dan Partnership (keterlibatan multipihak). Dengan demikian, HBL mencakup enam aspek penting dalam bisnis berkelanjutan.

“HBL melengkapi kerangka itu dengan dimensi keenam, yakni Partnership. Kolaborasi multipihak menjadi kunci keberlanjutan bank syariah sekaligus mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan global,” jelas Prof. Indra dalam pidatonya.

Melalui keenam dimensi ini (People, Planet, Profit, Prophet, Phenotechnology, dan Partnership), Prof. Indra menekankan pentingnya keseimbangan antara aspek sosial, lingkungan, ekonomi, etika, teknologi, dan kolaborasi dalam ekosistem keuangan Islam. Ia menambahkan bahwa kemitraan tidak hanya meningkatkan daya saing, tetapi juga mengoptimalkan peran bank syariah dalam inklusi keuangan dan pembiayaan hijau. Kolaborasi ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) 17, yang fokus pada kemitraan untuk mencapai tujuan global.

Rektor UMB, Prof. Andi Adriansyah, menegaskan bahwa gelar guru besar bukanlah akhir dari perjalanan akademik, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar. “Guru besar harus menjadi mercu suar bagi masyarakat, penunjuk arah bagi generasi penerus, sekaligus penggerak perubahan sosial,” tegasnya.

Selain Prof. Indra Siswanti, empat guru besar lainnya yang dikukuhkan adalah Prof. Rizki Briandana, M.Comm., Ph.D. (Ilmu Media dan Komunikasi); Prof. Dr. Herry Agung Prabowo, M.MSc., Ph.D. (Lean Manufacturing); Prof. Dr. Ratna Mappanyukki, M.Si. (Ilmu Audit); dan Prof. Dr. Dewi Nusraningrum, M.Si. (Ilmu Manajemen).

Pengukuhan ini dihadiri oleh Ketua LLDIKTI III, Dr. Henri Togar Hasiholan Tambunan, dan jajaran pimpinan universitas. Rektor Andi menambahkan harapannya agar karya para guru besar tidak hanya terbatas pada publikasi akademik, melainkan juga memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Dengan begitu, kontribusi kita bukan hanya pada pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada upaya menjaga bumi dan membangun masa depan yang lebih baik,” pungkas Rektor Andi.

Lebih lanjut, perlu diperhatikan bagaimana konsep HBL ini dapat diimplementasikan secara efektif dalam praktik bisnis bank syariah. Penelitian lebih lanjut dapat fokus pada tantangan dan peluang yang dihadapi dalam menerapkan keenam dimensi HBL, serta studi kasus yang menunjukkan dampak positif dari penerapan konsep ini terhadap keberlanjutan bank syariah. Selain itu, perlu dikaji bagaimana HBL dapat berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) lainnya di luar SDG 17. Hal ini akan memperkuat relevansi dan dampak konsep HBL dalam skala global.

Tinggalkan komentar


Related Post