JAKARTA, suaramerdeka.com – Mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam), Mahfud MD, menyampaikan keprihatinannya terhadap konflik internal yang terjadi di tubuh Nahdlatul Ulama (NU). Perpecahan yang terjadi, bahkan hingga saling pemecatan antar petinggi organisasi, dinilai sangat disayangkan.
Mahfud MD, yang pernah menjabat sebagai Menko Polhukam, menyoroti situasi yang memanas di NU. Ia mengaku sedih melihat perpecahan yang terjadi di internal organisasi keagamaan terbesar di Indonesia tersebut. Perpecahan ini ditandai dengan adanya saling pemecatan antara tokoh-tokoh penting di NU.
Konflik Internal: Saling Pecat dan Perbedaan Tafsir
Konflik internal di tubuh NU semakin memanas dengan adanya saling pemecatan. Rais Aam Miftachul Ahyar dikabarkan memecat Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf. Langkah ini diambil oleh Rais Aam dengan dukungan dari Sekretaris Jenderal (Sekjen) dan Bendahara Umum.
Namun, situasi semakin rumit setelah Ketua Umum juga melakukan tindakan serupa. Kedua belah pihak, Rais Aam dan Ketua Umum, saling bersikeras mempertahankan posisinya, dengan berpegang pada anggaran dasar organisasi.
Upaya Mediasi dan Kekhawatiran Dampak
Mahfud MD menekankan pentingnya islah atau perdamaian untuk menyelesaikan konflik ini. Ia khawatir jika perpecahan ini berlarut-larut, akan berdampak buruk pada roda organisasi, khususnya di tingkat bawah.
Mahfud MD mengungkapkan bahwa jika islah tidak segera dilakukan, NU berpotensi mengalami kesulitan dalam menjalankan berbagai kegiatan. Hal ini termasuk terhambatnya pengurusan surat keputusan (SK) yang berkaitan dengan program pemerintah dan bantuan dana untuk pengurus di daerah.
Pernyataan Mahfud MD
Mahfud MD mengungkapkan kekhawatirannya terhadap situasi yang terjadi di NU. Ia menekankan pentingnya islah untuk menyelesaikan konflik internal. Dalam sebuah kesempatan, Mahfud MD menyampaikan pandangannya mengenai situasi yang terjadi di NU.
“Islah itu berdamai, baik-baikkan. Kalau bisa islah sampai Muktamar yang akan datang gitu. Sudahlah jalan, kasihan itu di bawah tidak bisa bergerak,” ujar Mahfud MD, dikutip dari kanal YouTube Mahfud MD Official pada Sabtu, 6 Desember 2025.
Asal Mula Konflik: Isu Pengelolaan Tambang
Mahfud MD menyebutkan bahwa akar masalah dari konflik ini diduga berasal dari isu pengelolaan tambang. Ia mengungkapkan bahwa kedua belah pihak telah mengakui hal tersebut.
Mahfud MD juga memiliki kerinduan terhadap NU yang berpegang teguh pada nilai-nilai keasliannya. Ia merindukan NU yang taat pada ulama, tidak terlibat dalam perebutan proyek, dan fokus pada pengabdian kepada umat.
Pernyataan Mahfud MD
Mahfud MD juga menyoroti perubahan yang terjadi dalam NU. Ia merindukan NU yang berpegang teguh pada nilai-nilai keasliannya. Berikut adalah pernyataan lengkapnya:
“Ini tidak bisa dibantah, asal muasalnya dari pengelolaan tambang,”
“Sekarang mereka semua juga sudah bilang bahwa ini memang asal muasalnya tambang dan itu diakui mereka,”
Lebih lanjut, ia mengungkapkan kerinduannya terhadap NU yang berpegang teguh pada nilai-nilai keasliannya.
“Aswajalah Indonesia itu adalah NU yang taat pada ulama, tidak rebutan proyek, ada itu urusan ngurusi perusahaan, ngurusi ambang, ngurusi itu?. Dulu gak ada,”
Eks penasihat GP Ansor Pusat itu juga berharap penyelesaian kasus-kasus di NU tidak hanya berfokus pada pasal-pasal dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART). Ia berharap dewan ulama yang tidak masuk dalam struktur organisasi dapat memberikan solusi.









Tinggalkan komentar