Komite Wasit PSSI Tegaskan Gol Sah, Ungkap Pemicu Kericuhan EPA

Kilas Rakyat

24 April 2026

6
Min Read

Jakarta – Polemik seputar dugaan gol offside yang memicu insiden kericuhan dalam laga Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara FC U-20 dan Dewa United U-20 akhirnya mendapat klarifikasi resmi. Komite Wasit Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) secara tegas menyatakan bahwa gol kedua yang dicetak oleh Dewa United dalam pertandingan tersebut dinyatakan sah, meskipun sempat menjadi sumber protes keras dari kubu Bhayangkara FC U-20.

Insiden ini terjadi pada Minggu, 19 April 2026, di Stadion Citarum, Semarang. Gol kontroversial tersebut tercipta melalui skema umpan terobosan yang dilepaskan ke arah penyerang Dewa United, Abu Thalib. Saat umpan dilepaskan, garis pertahanan Bhayangkara FC U-20 tengah dalam posisi naik tinggi. Meskipun pemain yang dituju umpan terkesan berada dalam posisi offside, bola justru diambil oleh rekan setimnya yang berada dalam posisi onside dari belakang.

Kepala Departemen Wasit PSSI, Pratap Singh, menjelaskan poin krusial dalam interpretasi offside. Ia menegaskan bahwa sekadar berada dalam posisi offside belum tentu dianggap sebagai pelanggaran. "Berdiri dalam posisi offside bukanlah sebuah pelanggaran jika pemain tersebut tidak melakukan intervensi terhadap pemain belakang lawan atau kiper. Dalam kasus ini, bola diambil oleh pemain lain," ujar Pratap Singh saat memberikan materi dalam acara Referee Workshop for Media di Sekretariat PSSI Pers, GBK Arena, Jakarta, pada Kamis, 23 April 2026.

Penjelasan senada juga disampaikan oleh Ketua Komite Wasit, Yoshimi Ogawa. Ia menambahkan bahwa dalam situasi tersebut, pemain yang awalnya dinilai offside hanya mengejar bolanya sendiri dan tidak ada pemain bertahan Bhayangkara FC U-20 yang mendekat sebelum bola berhasil diambil alih oleh rekannya yang kemudian berujung pada gol. "Kenyataannya pada situasi ini, pemain yang dinilai offside ini mengejar bola sendiri dan tidak ada pemain bertahan Bhayangkara FC (U-20) yang mendekat, sebelum bola diambil alih oleh rekannya untuk mencetak gol," ungkap Ogawa.

Keputusan wasit yang tetap mengesahkan gol tersebut sontak memicu protes keras dari para pemain Bhayangkara FC U-20. Mereka meyakini gol tersebut seharusnya dianulir karena offside. Namun, wasit bergeming pada keputusannya, sehingga skor berubah menjadi 2-1 untuk keunggulan Dewa United, yang akhirnya bertahan hingga peluit akhir dibunyikan.

Akar Kericuhan Meluas

Manajer Bhayangkara U-20, Yongky Pamungkas, mengungkapkan bahwa timnya pada akhirnya menerima keputusan wasit terkait gol tersebut. Namun, masalah tidak berhenti di situ. Kericuhan yang sesungguhnya pecah saat pertandingan hendak dilanjutkan dengan kick-off. Menurut klaim Yongky, insiden provokasi terjadi dari pihak Dewa United.

"Saat laga hendak dilanjutkan untuk kickoff, pemain Dewa United melakukan provokasi," ujar Yongky. Ia melanjutkan, salah seorang pemain Dewa United dilaporkan melakukan pukulan terhadap pemain Bhayangkara FC U-20. Pelaku aksi tersebut kemudian segera berlari menuju bangku cadangan timnya.

Tindakan provokatif inilah yang kemudian menjadi pemicu utama meluasnya kericuhan. Emosi pemain Bhayangkara FC U-20 tersulut, dan mereka melakukan pengejaran ke arah bangku cadangan tim Dewa United. Puncak dari ketegangan ini adalah terjadinya insiden tendangan kungfu yang dilancarkan oleh pemain Bhayangkara FC U-20, Fadly Alberto.

Meskipun insiden tersebut sempat memanas dan menimbulkan ketegangan di lapangan, kedua belah pihak, Bhayangkara FC U-20 dan Dewa United U-20, dilaporkan telah sepakat untuk mengakhiri perselisihan ini secara damai. Kesepakatan ini dicapai setelah perwakilan Bhayangkara FC U-20 menyambangi markas Dewa United pada Rabu, 22 April 2026.

Namun demikian, penyelesaian damai ini tidak serta-merta menghapus konsekuensi hukum bagi para pelaku kericuhan. Sanksi dari Komite Disiplin (Komdis) PSSI dipastikan akan tetap menanti para pemain yang terlibat dalam insiden kekerasan tersebut.

Pentingnya Pemahaman Aturan Offside dalam Sepak Bola

Kasus ini kembali menyoroti pentingnya pemahaman mendalam mengenai aturan offside dalam sepak bola, sebuah aturan yang seringkali menjadi sumber perdebatan dan kontroversi. Aturan offside, yang diatur dalam Law 11 The Laws of the Game, bertujuan untuk mencegah pemain mendapatkan keuntungan yang tidak adil dengan berdiri terlalu dekat dengan gawang lawan.

Seorang pemain dianggap berada dalam posisi offside jika, pada saat bola dimainkan oleh rekan setimnya, ia berada lebih dekat ke garis gawang lawan daripada bola dan pemain lawan kedua terakhir (biasanya bek terakhir atau penjaga gawang). Namun, penting untuk diingat bahwa berada dalam posisi offside saja belum tentu merupakan pelanggaran.

Pelanggaran offside baru terjadi jika pemain yang berada dalam posisi offside tersebut aktif terlibat dalam permainan. Keterlibatan aktif ini dapat berupa:

  • Mengintervensi dalam permainan: Menyentuh bola yang dioper oleh rekan setimnya.
  • Mengintervensi pemain lawan: Menghalangi pandangan pemain lawan, menantang pemain lawan untuk memperebutkan bola, atau jelas-jelas memengaruhi kemampuan pemain lawan untuk bermain bola.
  • Mendapatkan keuntungan dari posisi offside: Bermain bola yang memantul atau diblokir oleh tiang gawang, mistar gawang, atau pemain lawan ketika pemain tersebut berada dalam posisi offside.

Dalam kasus gol Dewa United U-20, Komite Wasit PSSI berargumen bahwa pemain yang berada dalam posisi offside tidak melakukan intervensi aktif terhadap permainan atau pemain lawan. Ia hanya mengejar bola yang dikuasai oleh rekannya yang berada dalam posisi onside. Hal ini sesuai dengan interpretasi Laws of the Game yang menyatakan bahwa pemain yang berada di posisi offside namun tidak terlibat dalam permainan tidak dianggap melakukan pelanggaran.

Peran Penting Komite Wasit dalam Menjaga Integritas Pertandingan

Komite Wasit PSSI, melalui pernyataan Pratap Singh dan Yoshimi Ogawa, menunjukkan perannya yang krusial dalam memberikan klarifikasi dan menjaga pemahaman yang benar mengenai aturan permainan. Melalui workshop dan pernyataan publik seperti ini, Komite Wasit berupaya untuk:

  • Meningkatkan pemahaman wasit: Memberikan pedoman yang jelas dan konsisten dalam pengambilan keputusan di lapangan.
  • Mendidik publik: Memberikan edukasi kepada masyarakat, pemain, pelatih, dan media mengenai interpretasi aturan yang benar.
  • Meredam kontroversi: Mengurangi perdebatan yang tidak perlu dan menjaga integritas kompetisi.
  • Meningkatkan profesionalisme: Menunjukkan transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan perwasitan.

Kejadian di laga EPA U-20 ini menjadi pengingat bahwa sepak bola adalah permainan yang dinamis dan seringkali menyajikan situasi yang kompleks di lapangan. Keputusan wasit seringkali harus diambil dalam hitungan detik di bawah tekanan. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang aturan, baik oleh para pemangku kepentingan maupun oleh publik, sangatlah penting untuk apresiasi yang lebih baik terhadap jalannya pertandingan.

Dengan adanya klarifikasi dari Komite Wasit PSSI, diharapkan kesalahpahaman mengenai gol tersebut dapat diminimalisir. Namun, pelajaran berharga dari insiden ini adalah bahwa di balik setiap keputusan di lapangan, terdapat interpretasi aturan yang spesifik dan kompleks. Serta, pentingnya menjaga sportivitas dan pengendalian diri, bahkan ketika keputusan yang diambil tidak sesuai dengan harapan tim. Sanksi yang akan dijatuhkan Komdis PSSI nantinya juga menjadi penegasan bahwa tindakan kekerasan di lapangan sepak bola tidak dapat ditoleransi.

Tinggalkan komentar


Related Post