KNKT Ungkap Detik-Detik Tragedi Tenggelamnya KMP Tunu di Selat Bali

Kilas Rakyat

24 Juli 2025

3
Min Read

Tragedi tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali pada Kamis dini hari, 3 Juli 2024, menyisakan duka mendalam. Kapal yang membawa 65 orang tersebut tenggelam setelah hanya 30 menit berlayar dari Pelabuhan ASDP Ketapang, Banyuwangi.

Berdasarkan kesaksian mualim dan juru mudi, kapal tiba-tiba miring ke kanan. Air laut kemudian masuk melalui pintu kamar mesin yang tidak tertutup rapat. Meskipun upaya penyelamatan darurat dilakukan, kapal terus miring dan akhirnya tenggelam dengan bagian buritan lebih dulu.

Ketua KNKT, Soerjanto, menjelaskan kronologi kejadian berdasarkan keterangan saksi mata. “Beberapa pintu kedap air juga tidak tertutup, jadi ketika air masuk, langsung mengisi semua ruangan,” ungkap Soerjanto di Pelabuhan ASDP Ketapang.

Kemiringan kapal semakin cepat dan parah. Nakhoda sempat mengirimkan sinyal darurat, namun beberapa menit kemudian kapal tenggelam. Kecepatan kemiringan dan tenggelamnya kapal menunjukkan adanya indikasi masalah serius.

Foto bangkai kapal yang ditemukan terbalik di dasar laut Selat Bali memperkuat kesimpulan bahwa tenggelamnya kapal terjadi dengan cepat dan dahsyat. Kondisi ini menimbulkan spekulasi mengenai kemungkinan _overdraft_ (melebihi batas muatan) yang terjadi sebelum keberangkatan.

Soerjanto menambahkan kecurigaan mengenai _overdraft_: “Kita melihat banyak kapal yang beroperasi dengan kondisi _overdraft_ (melebihi batas tenggelam lambung kapal). Kemungkinan KMP Tunu Pratama Jaya juga _overdraft_ sebelum berangkat.”

Data manifes yang tidak akurat memperparah situasi. Bobot kendaraan tercatat 0 kilogram pada tiket yang dikeluarkan ASDP, sehingga perhitungan muatan kapal menjadi tidak tepat. Ini merupakan masalah serius yang perlu segera diperbaiki.

“Ini sangat berbahaya, karena perhitungan pemuatan kapal bergantung pada data bobot tersebut. Perlu untuk memperkirakan berapa berat total kendaraan yang masuk ke dalam kapal,” tegas Soerjanto mengenai pentingnya data akurat dalam manifes.

Penyelidikan dan Operasi Pencarian

KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan terbalik dan tenggelam di koordinat -08°09.371′, 114°25, 1569. Laporan dari Dermaga LCM Gilimanuk menyebutkan kapal mengirimkan sinyal darurat pukul 00.16 WITA, dan mengalami _blackout_ pukul 00.19 WITA.

Operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) gabungan melibatkan berbagai pihak. Namun, setelah berlangsung selama 20 hari, operasi pencarian korban resmi ditutup pada Senin, 21 Juli 2024.

Dari total 65 orang yang tercatat dalam manifes, tim SAR berhasil mengevakuasi 49 orang. Rinciannya adalah 30 selamat dan 19 meninggal dunia. Sayangnya, 16 orang lainnya dinyatakan hilang.

Kesimpulan dan Rekomendasi

Tragedi KMP Tunu Pratama Jaya menyoroti pentingnya keselamatan pelayaran dan pengawasan ketat terhadap kelaikan kapal. Ketidakakuratan data manifes dan kemungkinan _overdraft_ menjadi faktor krusial yang perlu diselidiki lebih lanjut.

KNKT dan pihak berwenang perlu melakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan dan memberikan rekomendasi yang komprehensif guna mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Perbaikan sistem pengawasan dan peningkatan akurasi data manifes menjadi hal yang mendesak.

Selain itu, perlu dilakukan pelatihan dan peningkatan kesadaran bagi seluruh kru kapal mengenai prosedur keselamatan dan penggunaan alat keselamatan. Peningkatan standar perawatan dan pemeriksaan kapal secara berkala juga sangat penting.

Kehilangan nyawa dalam tragedi ini adalah pengingat akan pentingnya keselamatan dan pengawasan yang ketat di sektor transportasi laut. Semoga hasil investigasi dapat memberikan keadilan bagi para korban dan keluarga mereka, serta menjadi pelajaran berharga untuk meningkatkan keselamatan pelayaran di Indonesia.

Tinggalkan komentar


Related Post