Kejurnas Panahan 2025: Membangun Fondasi Emas Atlet Melalui Kompetisi Klub

Kilas Rakyat

27 Desember 2025

3
Min Read

Supersoccer Arena di Kudus menjadi saksi bisu lahirnya bibit-bibit unggul panahan Indonesia. Gelaran MilkLife Archery Challenge – Kejuaraan Nasional Panahan Antarklub 2025 menjadi panggung bagi para atlet muda untuk menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Ajang bergengsi ini diharapkan mampu mengukir sejarah baru bagi dunia panahan Tanah Air.

Event yang berlangsung selama 11 hari, dari 9 hingga 19 Desember 2025, ini menjadi wadah bagi 1.360 atlet dari 116 klub panahan untuk berkompetisi. Mereka datang dari berbagai penjuru Indonesia untuk membidik target tertinggi: prestasi membanggakan bagi diri sendiri, klub, dan tentunya, negara.

Kolaborasi Erat untuk Prestasi Gemilang

Kejuaraan ini terselenggara berkat kolaborasi strategis antara Bakti Olahraga Djarum Foundation, MilkLife, dan Pengurus Besar Persatuan Panahan Indonesia (PB Perpani). Sinergi ini bertujuan untuk memperkuat fondasi prestasi nasional di cabang olahraga panahan.

Membangun Struktur Kompetisi yang Kokoh

Ketua Panitia Pelaksana sekaligus Waketum II PB Perpani, Abdul Razak, menekankan pentingnya ajang ini dalam membangun struktur kompetisi yang lebih kokoh. Kompetisi ini memberikan kesempatan berharga bagi atlet muda untuk menguji kemampuan dan menambah pengalaman bertanding di level nasional.

“Kompetisi ini untuk memperluas kesempatan atlet muda menguji kemampuan dan menambah jam terbang mereka dalam pertandingan level nasional,” ujar Abdul Razak.

Ia berharap, dari ajang ini akan lahir talenta-talenta muda yang mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia, bahkan hingga Olimpiade.

Kategori Pertandingan dan Pembinaan Berjenjang

Kejurnas ini mempertandingkan empat divisi utama: Nasional, Compound, Recurve, dan Barebow. Pembagian kelompok usia pun beragam, mulai dari U-10 hingga kategori umum dan veteran (di atas 30 tahun).

Ekosistem Pembinaan yang Terstruktur

Program Director Bakti Olahraga Djarum Foundation, Yoppy Rosimin, menjelaskan bahwa kejuaraan ini merupakan bagian dari upaya melengkapi ekosistem pembinaan panahan yang berjenjang.

Yoppy Rosimin menjelaskan bahwa kejuaraan ini adalah bagian dari upaya melengkapi ekosistem pembinaan panahan yang berjenjang.

“Mulai dari pengenalan di level usia dini lewat MilkLife Archery Challenge, berlanjut ke Kejurnas Junior dan Antarklub, hingga akhirnya bermuara ke Seleksi Nasional dan Pelatnas,” jelas Yoppy.

Yoppy Rosimin mengungkapkan harapan besar terhadap ekosistem pembinaan yang kuat ini.

“Kami berharap, dengan mata rantai ekosistem dan piramida pembinaan yang kuat ini, para atlet panahan dapat semakin termotivasi untuk berlatih dan mendulang prestasi yang membuat Indonesia digdaya,” tutur Yoppy.

Optimisme dan Harapan Tinggi

Sejarah mencatat, panahan pernah menjadi penyumbang medali pertama bagi Indonesia di Olimpiade Seoul 1988 melalui Trio Srikandi. Prestasi terkini juga membanggakan, dengan tim panahan Indonesia berhasil menyabet medali emas di SEA Games Thailand 2025, baik dari nomor Recurve maupun Compound.

Yoppy Rosimin meyakini bahwa dengan pembinaan yang tepat, Indonesia mampu meraih prestasi yang lebih tinggi lagi di masa mendatang.

“Dengan catatan prestasi tersebut, kami yakin bila ekosistem pembinaan atlet panahan dapat dipupuk dengan baik, bukan tidak mungkin Indonesia dapat berjaya di level yang lebih tinggi lagi seperti Olimpiade,” ucap Yoppy optimistis.

Bintang Muda Bersinar

Kompetisi di lapangan berjalan sengit. Salah satu bintang muda yang mencuri perhatian adalah Galeno Rubyan Ashia dari klub Fast Kodamar DKI Jakarta.

Baca 10 detik
  • MilkLife Archery Challenge 2025 di Kudus mempertandingkan 1.360 atlet dari 116 klub selama 11 hari.
  • Kejurnas ini kolaborasi Djarum Foundation, MilkLife, dan PB Perpani untuk memperkuat ekosistem pembinaan panahan.
  • Atlet muda seperti Galeno Rubyan Ashia berhasil juara, memotivasi pencapaian prestasi tinggi hingga Olimpiade.

Tinggalkan komentar


Related Post