Gangguan pada Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) SMPCS #1 di perairan Sulawesi telah berlangsung sejak Februari 2026. Telkom melalui anak usahanya, PT Infrastruktur Telekomunikasi Indonesia (Telkominfra), kini tengah berupaya keras memulihkan layanan yang terganggu ini. Perbaikan ditargetkan selesai pada 7 Mei 2026 demi menjaga kelancaran konektivitas digital di tanah air.
Gangguan teknis ini terdeteksi pertama kali pada 6 Februari 2026, ditandai dengan adanya anomali pada sistem penyaluran daya listrik kabel bawah laut, yang dikenal sebagai Power Feeding Equipment (PFE). Anomali ini mengindikasikan adanya kebocoran arus atau shunt fault. Kondisi tersebut secara langsung menurunkan keandalan sistem, menyebabkan jaringan tidak dapat beroperasi secara stabil dan optimal.
Analisis Titik Gangguan dan Upaya Perbaikan
Setelah melalui analisis teknis mendalam, tim Telkominfra memperkirakan titik gangguan terletak sekitar 50 kilometer dari Branching Unit (BU5) menuju BU3. Lokasi ini merupakan titik percabangan penting dalam jaringan kabel bawah laut. Gangguan terjadi pada kedalaman laut yang signifikan, diperkirakan antara 2.000 hingga 2.300 meter di perairan Sulawesi.
Saat ini, kapal khusus perbaikan kabel bawah laut, Cableship Navalink Polaris, telah dikerahkan dan berada di lokasi. Kapal ini bertugas melakukan asesmen awal dan penelusuran jalur kabel yang terdampak. Tahap penelusuran ini sangat krusial untuk mengidentifikasi secara pasti lokasi kerusakan.
Proses perbaikan selanjutnya akan melibatkan beberapa tahapan teknis yang rumit. Kabel yang rusak akan diangkat ke permukaan laut. Setelah itu, bagian yang terdampak akan dipotong dan diganti dengan sambungan kabel baru. Penggunaan kabel pengganti ini dilakukan untuk memastikan sistem dapat kembali beroperasi dengan andal dan kuat.
Komitmen Telkominfra untuk Konektivitas Digital
Direktur Operasi Telkominfra, Slamet Riyanto Pardi, menyatakan bahwa seluruh tahapan perbaikan dilakukan dengan fokus pada optimalisasi. Tujuannya adalah untuk mengembalikan keandalan sistem secepat mungkin. "Kami menargetkan layanan dapat kembali normal sesuai rencana, dengan tetap mengutamakan kualitas dan keselamatan operasional," ujar Slamet Riyanto Pardi pada Rabu (29/4/2026).
Ia menambahkan bahwa Telkominfra memiliki komitmen kuat untuk menjaga konektivitas digital di Indonesia. SKKL merupakan bagian dari infrastruktur strategis nasional yang vital. Gangguan pada jaringan ini dapat berdampak luas pada aktivitas masyarakat dan dunia usaha yang semakin bergantung pada layanan digital.
"Upaya ini merupakan bentuk tanggung jawab kami dalam mendukung aktivitas digital masyarakat dan dunia usaha di Indonesia," tegas Slamet Riyanto Pardi. Keandalan jaringan telekomunikasi menjadi kunci dalam mendukung pertumbuhan ekonomi digital dan pemerataan akses informasi di seluruh nusantara.
Dampak Gangguan dan Pentingnya SKKL
Gangguan pada SKKL dapat menimbulkan berbagai konsekuensi, mulai dari penurunan kecepatan akses internet, putusnya koneksi secara berkala, hingga potensi kelumpuhan layanan komunikasi di wilayah yang bergantung pada kabel tersebut. Mengingat peran vital internet dalam kehidupan modern, mulai dari komunikasi pribadi, aktivitas bisnis, hingga layanan pemerintahan, pemulihan cepat menjadi prioritas utama.
Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) adalah tulang punggung utama konektivitas internet di Indonesia. Mengingat geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, pembangunan dan pemeliharaan kabel bawah laut menjadi solusi paling efektif untuk menghubungkan pulau-pulau. Jaringan ini memungkinkan pertukaran data dalam jumlah besar dengan kecepatan tinggi antar wilayah.
Gangguan yang terjadi pada ruas Tersili-Kauditan (BU5-BU3) ini berpotensi memengaruhi stabilitas koneksi di wilayah Sulawesi dan sekitarnya. Perbaikan yang memakan waktu menunjukkan kompleksitas teknologi dan tantangan operasional dalam pemeliharaan infrastruktur bawah laut.
Proses Perbaikan Kabel Laut: Tantangan di Kedalaman
Perbaikan kabel laut bukanlah pekerjaan yang mudah. Diperlukan teknologi canggih, kapal khusus yang dilengkapi peralatan mutakhir, serta tim ahli yang terlatih. Kedalaman laut yang mencapai ribuan meter menjadi salah satu tantangan terbesar. Tekanan air yang tinggi dan kondisi dasar laut yang mungkin tidak rata menambah kerumitan dalam operasi pengangkatan dan penyambungan kabel.
Kapal Cableship Navalink Polaris yang digunakan dalam operasi ini memiliki peran krusial. Kapal jenis ini dirancang khusus untuk menangani kabel bawah laut, dilengkapi dengan winch raksasa untuk mengangkat kabel dari dasar laut, serta peralatan navigasi dan robot bawah laut (ROV) untuk memantau dan membantu proses perbaikan.
Proses route scouting yang sedang dilakukan bertujuan untuk memastikan kapal dapat bergerak dengan aman di jalur kabel tanpa merusak infrastruktur lain yang mungkin ada di dasar laut. Setelah titik pasti ditemukan, langkah selanjutnya adalah mengangkat kabel, memotong bagian yang rusak, dan melakukan penyambungan yang presisi.
Teknik penyambungan kabel bawah laut menggunakan teknologi splice yang memastikan sambungan tersebut tahan terhadap tekanan air, suhu, dan kondisi laut yang ekstrem. Setelah penyambungan selesai, kabel akan diturunkan kembali ke dasar laut dan dilakukan pengujian menyeluruh untuk memastikan konektivitas kembali normal dan stabil.
Target Pemulihan dan Tanggung Jawab Telkominfra
Dengan target pemulihan pada 7 Mei 2026, Telkominfra menunjukkan keseriusannya dalam menyelesaikan masalah ini. Proses ini tidak hanya sekadar memperbaiki kerusakan fisik, tetapi juga mengembalikan kepercayaan pengguna terhadap keandalan infrastruktur digital nasional.
Sebagai anak usaha Telkom yang fokus pada infrastruktur telekomunikasi, Telkominfra memegang peran penting dalam menjaga kelangsungan layanan. Keterlambatan dalam pemulihan dapat berdampak pada berbagai sektor, termasuk ekonomi, pendidikan, dan layanan publik.
Oleh karena itu, setiap langkah dalam proses perbaikan ini diawasi dengan ketat. Keputusan untuk menggunakan kabel pengganti dan melakukan penyambungan ulang adalah langkah standar dalam industri telekomunikasi bawah laut untuk menjamin kualitas dan durabilitas perbaikan.
Kejadian ini juga menjadi pengingat akan pentingnya investasi berkelanjutan dalam pemeliharaan dan peningkatan infrastruktur telekomunikasi di Indonesia. Dengan semakin meningkatnya kebutuhan akan konektivitas digital yang stabil dan cepat, menjaga keandalan jaringan kabel laut menjadi sebuah keharusan.
Telkominfra berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan meminimalkan potensi gangguan di masa depan. Melalui upaya perbaikan yang sedang berlangsung, perusahaan ini berupaya memastikan bahwa masyarakat Indonesia dapat terus menikmati layanan digital yang optimal dan tanpa hambatan.









Tinggalkan komentar