Teheran Mencurigai AS Dalang Gangguan Jaringan di Tengah Konflik
Pemerintah Iran melayangkan tuduhan serius kepada Amerika Serikat, mengklaim bahwa Washington telah menggunakan metode sabotase canggih untuk melumpuhkan infrastruktur internet di dalam negeri. Tudingan ini mencuat di tengah memanasnya situasi konflik dan serangan militer yang terjadi belakangan ini.
Media pemerintah Iran melaporkan bahwa serangkaian kegagalan perangkat keras dari produsen ternama seperti Cisco, Juniper, Fortinet, dan MikroTik terjadi secara tiba-tiba. Perangkat-perangkat vital ini dilaporkan mengalami mati mendadak atau terputus dari jaringan pada momen-momen krusial.
Kantor berita Fars dan Entekhab mengutip keyakinan Teheran bahwa gangguan massal ini bukan sekadar kesalahan teknis biasa, melainkan indikasi kuat adanya sabotase tingkat tinggi. Ironisnya, insiden ini terjadi justru saat Iran secara sengaja membatasi akses internet globalnya.
Dua Skenario Sabotase yang Diusut
Para pejabat dan pakar keamanan siber di Iran tengah menginvestigasi dua skenario utama yang diduga menjadi modus operandi di balik serangan ini, terutama mengingat pembatasan akses internet yang diberlakukan:
- Pemanfaatan Celah Keamanan yang Ada: Kemungkinan adanya backdoor tersembunyi yang telah ditanam sebelumnya oleh Amerika Serikat pada perangkat jaringan. Backdoor ini dapat diaktifkan dari jarak jauh untuk mengendalikan atau melumpuhkan peralatan.
- Serangan Siber Terkoordinasi: Kemungkinan serangan siber yang terencana dan terkoordinasi, memanfaatkan kerentanan dalam konfigurasi jaringan atau perangkat lunak yang digunakan oleh vendor-vendor tersebut.
Namun, upaya untuk melakukan verifikasi independen terhadap klaim ini sangatlah sulit. Kebijakan Iran yang membatasi akses internet global justru menjadi hambatan bagi pihak luar untuk melakukan investigasi mendalam.
Organisasi pemantau jaringan independen, NetBlocks, mencatat bahwa krisis akses internet di Iran telah berlangsung selama 50 hari. Laporan dari Al Jazeera juga mengindikasikan bahwa otoritas Iran hanya menyediakan akses terbatas melalui sistem khusus seperti "Internet Pro" dan "kartu SIM putih" untuk kalangan tertentu.
Kecurigaan Iran terhadap vendor-vendor tersebut bukan tanpa dasar. Sejumlah nama yang disebut memang memiliki riwayat masalah keamanan yang cukup signifikan di masa lalu:
- Cisco: Perusahaan ini pernah menghadapi sorotan terkait dugaan adanya backdoor yang memungkinkan pengintaian oleh badan intelijen Amerika Serikat.
- Juniper Networks: Pernah mengalami insiden di mana peretas berhasil memodifikasi konfigurasi perangkat router, mengarah pada kekhawatiran tentang kerentanan sistem.
- Fortinet dan MikroTik: Keduanya juga pernah dilaporkan memiliki kerentanan keamanan yang dieksploitasi oleh aktor jahat.
Situasi geopolitik yang memanas ini rupanya dimanfaatkan oleh Tiongkok. Media pemerintah dan badan siber Tiongkok dengan sigap menyebarkan klaim Iran sebagai amunisi tambahan dalam narasi persaingan teknologi global. Mereka menyebut insiden ini sebagai bukti bahwa Amerika Serikat, bukan Tiongkok, yang sejatinya merupakan "negara adidaya backdoor" di dunia maya.
Hingga berita ini diturunkan, pemerintah Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan spesifik dari Iran tersebut. Meskipun demikian, Washington sebelumnya telah mengakui keterlibatannya dalam operasi siber khusus sebagai bagian dari kampanye militer yang diberi nama sandi Operation Epic Fury. Pengakuan ini menambah kompleksitas tuduhan yang dilayangkan oleh Teheran, menimbulkan pertanyaan lebih lanjut mengenai peran AS dalam lanskap siber global.









Tinggalkan komentar