Sejumlah insiden kematian dan hilangnya para profesional di bidang sains nuklir dan penelitian luar angkasa Amerika Serikat sejak 2022 memicu kekhawatiran mendalam. Kondisi yang tak terduga dan penuh teka-teki menyelimuti kasus-kasus ini, menarik perhatian serius dari berbagai pihak, termasuk Gedung Putih dan FBI.
Di antara mereka yang dilaporkan hilang adalah Monica Reza (60), Melissa Casias (53), Anthony Chavez (79), Steven Garcia (48), dan pensiunan Mayor Jenderal Angkatan Udara William Neil McCasland (68). Kepergian mereka yang terjadi antara tahun 2023 hingga 2026, dianggap sangat mencurigakan oleh pihak berwenang.
Kasus serupa juga menimpa Michael David Hicks (59), Frank Maiwald (61), Nuno Loureiro (47), Jason Thomas (45), Amy Eskridge (34), dan Carl Grillmair (47). Mereka semua dilaporkan meninggal dunia antara tahun 2022 hingga 2026. Tiga di antaranya, yaitu Hicks, Maiwald, dan Reza, memiliki kaitan erat dengan Jet Propulsion Laboratory (JPL) milik NASA. Tak hanya itu, seorang ilmuwan NASA lainnya, Joshua LeBlanc, juga turut menjadi korban dalam sebuah kecelakaan tragis.
Investigasi Skala Besar Dilakukan FBI
Serangkaian kematian dan hilangnya para ilmuwan ini telah sampai ke telinga Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. “Saya berharap ini hanya kebetulan, namun kita akan segera mengetahuinya. Saya baru saja menyelesaikan pertemuan mengenai topik ini,” ujar Trump pada sebuah kesempatan.
Menindaklanjuti kekhawatiran tersebut, Biro Penyelidik Federal (FBI) kini memimpin upaya investigasi yang melibatkan berbagai otoritas federal. Tujuannya adalah untuk mencari benang merah yang menghubungkan kasus-kasus hilangnya dan meninggalnya para ilmuwan tersebut.
FBI berkolaborasi erat dengan Departemen Energi, Departemen Pertahanan, serta mitra penegak hukum di tingkat negara bagian dan lokal. Upaya gabungan ini diharapkan dapat segera mengungkap misteri di balik serangkaian kejadian janggal ini.
Tragisnya Kematian Joshua LeBlanc
Salah satu kasus yang paling menyita perhatian adalah kematian Joshua LeBlanc (29), seorang insinyur nuklir NASA. Ia tewas dalam sebuah kecelakaan mengerikan di Alabama pada 22 Juli 2025, ketika mobil Tesla miliknya meledak dan terbakar hebat.
Peristiwa nahas itu terjadi di Huntsville, Alabama, sekitar pukul 14:45 waktu setempat. Mobil Tesla yang dikendarai LeBlanc ditemukan hangus tak dapat dikenali. Kendaraan tersebut dilaporkan menabrak pagar pembatas jalan, kemudian beberapa pohon sebelum akhirnya meledak dan dilalap api.
Kejadian ini semakin menambah kejanggalan, mengingat pada pukul 04:32 pagi di hari yang sama, keluarga LeBlanc telah melaporkan dirinya hilang. Ia seharusnya tidak absen dari tempat kerjanya sebagai insinyur kelistrikan teknologi kedirgantaraan di NASA, di mana ia terlibat dalam proyek-proyek propulsi nuklir.
Identitas Terkonfirmasi Setelah Tiga Hari
Dikutip dari New York Post, jenazah LeBlanc juga ditemukan dalam kondisi hangus dan tidak dapat dikenali. Identitasnya baru dapat dikonfirmasi secara resmi oleh kepolisian tiga hari setelah kejadian, setelah jenazahnya menjalani pemeriksaan di Departemen Ilmu Forensik Alabama.
Keluarga LeBlanc sempat diliputi kecemasan, khawatir jika ia menjadi korban penculikan. Mereka menduga hal itu terjadi karena ponsel dan dompet miliknya tertinggal di rumah saat ia menghilang.
Namun, data dari fitur Sentry Mode pada mobil Tesla milik LeBlanc memberikan petunjuk penting. Polisi berhasil melacak pergerakan terakhir kendaraannya, yang menunjukkan bahwa mobil tersebut sempat berada di bandara di Huntsville selama empat jam pada pagi hari sebelum kecelakaan terjadi.
Perjalanan Tak Terduga dan Hilangnya Komunikasi
Keluarga LeBlanc menyatakan bahwa perjalanan ke arah barat bukanlah bagian dari rencana hariannya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ia sama sekali tidak memberikan kabar atau berkomunikasi, sebuah perilaku yang sangat tidak biasa bagi dirinya.
Profil LinkedIn Joshua LeBlanc mencatat bahwa ia telah bekerja di NASA selama kurang lebih lima setengah tahun. Ia memegang peranan penting sebagai pemimpin tim untuk proyek NASA bernama Space Nuclear Propulsion (SNP) Instrumentation and Control (I&C) Maturation.
Proyek SNP ini memiliki tujuan ambisius untuk mengembangkan teknologi propulsi nuklir yang akan memungkinkan transportasi yang lebih cepat dan bertenaga untuk misi berawak maupun kargo ke Mars, serta misi sains lanjutan ke luar Tata Surya.
Belakangan, LeBlanc juga didapuk menjadi pemimpin tim pada proyek Demonstration Rocket for Agile Cislunar Operation (DRACO) milik NASA. Proyek ini berfokus pada pengembangan mesin propulsi termal nuklir yang inovatif.
Latar Belakang Keahlian LeBlanc dan Konteks Proyek NASA
Kepergian Joshua LeBlanc meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan rekan kerja, tetapi juga bagi komunitas ilmiah. Keahliannya di bidang propulsi nuklir sangat krusial bagi kemajuan program antariksa Amerika Serikat.
Proyek Space Nuclear Propulsion (SNP) yang dipimpinnya merupakan langkah maju yang signifikan. Teknologi ini diharapkan dapat memangkas waktu tempuh misi antariksa secara drastis. Sebagai contoh, perjalanan ke Mars yang saat ini memakan waktu berbulan-bulan, dapat dipersingkat menjadi hitungan minggu.
Lebih jauh lagi, SNP membuka potensi untuk misi eksplorasi yang lebih jauh, bahkan melampaui batas-batas Tata Surya. Hal ini akan memperkaya pemahaman manusia tentang alam semesta.
Sementara itu, proyek DRACO yang juga dipimpinnya merupakan pengembangan dari teknologi propulsi termal nuklir. Mesin ini dirancang untuk misi-misi di ruang angkasa yang membutuhkan manuver cepat dan efisien, seperti operasi di sekitar Bulan (cislunar) dan tujuan lainnya.
Kematian LeBlanc, di tengah kiprahnya yang gemilang dalam proyek-proyek vital NASA, tentu menimbulkan banyak pertanyaan. Latar belakang pekerjaannya yang terkait dengan teknologi canggih dan sensitif, menambah kompleksitas misteri di balik kecelakaan tragis tersebut.
Misteri Berlanjut, Investigasi Terus Berjalan
Keterlibatan FBI dalam investigasi ini menunjukkan betapa seriusnya situasi yang dihadapi. Penyelidikan menyeluruh diperlukan untuk memastikan apakah ada kaitan antar kasus kematian dan hilangnya para ilmuwan tersebut, ataukah ini hanya serangkaian kebetulan yang sangat disayangkan.
Pihak berwenang terus bekerja keras untuk mengumpulkan bukti dan menganalisis setiap detail yang ada. Fokus utama saat ini adalah mengungkap penyebab pasti kecelakaan yang merenggut nyawa Joshua LeBlanc, serta mencari tahu apakah ada faktor eksternal yang berperan.
Publik menantikan perkembangan terbaru dari investigasi ini. Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan krusial ini tidak hanya penting bagi keluarga para korban, tetapi juga untuk memastikan keamanan dan integritas program sains dan antariksa Amerika Serikat di masa depan.
Kasus kematian Joshua LeBlanc dan para ilmuwan lainnya menjadi pengingat akan risiko yang dihadapi oleh mereka yang bekerja di garis depan penjelajahan sains dan teknologi. Semoga penyelidikan yang sedang berlangsung dapat segera memberikan kejelasan dan penutupan bagi semua pihak yang terlibat.









Tinggalkan komentar