Gajah Unik, Mitos Menyembah Bulan Tak Berdasar

20 April 2026

4
Min Read

Jakarta – Keunikan gajah seringkali dimanfaatkan oknum jahil untuk menyebarkan informasi palsu di dunia maya. Salah satu klaim yang sempat menghebohkan dan bahkan sempat muncul di Wikipedia adalah gagasan bahwa gajah memiliki agama dan menyembah bulan.

Fenomena ini kembali mencuat ketika seorang pengguna Twitter, sebelum platform tersebut berganti nama menjadi X, membagikan cuitannya. Pengguna dengan akun @Scholf_A_Loaf secara bersemangat mempertanyakan informasi tentang keyakinan dan praktik keagamaan gajah yang seolah disembunyikan darinya.

Informasi yang beredar tersebut mengutip sebuah tangkapan layar dari Wikipedia. Dalam kutipan tersebut, disebutkan bahwa Ronald K. Siegel, seorang peneliti, telah mempelajari asal-usul kepercayaan religius pada gajah Afrika. Siegel disebut menyimpulkan bahwa gajah memiliki kesadaran akan siklus alam, bahkan mempraktikkan “pemujaan bulan.” Siegel mengklaim bahwa gajah melambaikan ranting ke arah bulan sabit dan melakukan ritual mandi saat bulan purnama. Klaim ini juga diperkuat dengan pengamatan Pliny the Elder yang mencatat dugaan penghormatan gajah terhadap benda-benda langit.

Pentingnya Verifikasi Informasi di Era Digital

Kasus ini menjadi pengingat krusial bagi setiap individu untuk selalu kritis dan melakukan verifikasi terhadap setiap informasi yang diterima. Sebelum menyebarkannya lebih lanjut, penting untuk menelusuri keabsahan sumbernya agar tidak menjadi bagian dari penyebaran disinformasi.

Saat ini, jika kita membuka kembali entri Wikipedia yang merujuk pada klaim tersebut, bagian yang menyebutkan gajah menyembah bulan telah dihapus karena dianggap kontroversial. Penelusuran lebih lanjut terhadap karya Ronald K. Siegel, yang merujuk pada buku ‘The Psychology of Life After Death’ (1980), menunjukkan bahwa klaim tersebut memang tercantum.

Dalam buku tersebut, dinyatakan bahwa gajah menyadari siklus alam dan mempraktikkan pemujaan bulan, seperti melambaikan ranting ke bulan sabit dan melakukan ritual mandi saat bulan purnama. Namun, sebagai referensi, Siegel mencantumkan karyanya sendiri yang ditulis pada tahun 1977.

Jejak Informasi yang Meragukan

Lebih jauh lagi, makalah yang merujuk pada Siegel juga mencantumkan C. Clair sebagai sumber referensi. C. Clair, pada gilirannya, mengutip Plinius Tua sebagai sumber informasi awal. Plinius Tua, seorang penulis Romawi kuno yang hidup pada abad ke-1 Masehi, memang dikenal meninggalkan banyak catatan berharga tentang dunia kuno.

Namun, penting untuk dicatat bahwa Plinius Tua juga dikenal mencatat banyak informasi yang tidak akurat dan cenderung fantastis. Oleh karena itu, klaim-klaim yang berasal darinya harus ditelusuri dengan sangat hati-hati.

Di antara klaim-klaim fantastis Plinius Tua tentang gajah, ia pernah menulis bahwa gajah dan badak adalah musuh alami. Ia juga berpendapat bahwa gajah memahami kesenangan cinta, kemuliaan, serta memiliki gagasan tentang kejujuran, kebijaksanaan, dan keadilan, bahkan pada tingkat yang jarang ditemukan pada manusia.

Tak berhenti di situ, Plinius Tua bahkan percaya bahwa anak domba dapat tumbuh dari tanah seperti gulma. Dengan rekam jejak semacam ini, sangat tidak tepat untuk menjadikan Plinius Tua sebagai dasar klaim ilmiah mengenai gajah yang religius, apalagi jika ini adalah satu-satunya catatan tentang perilaku tersebut.

Oleh karena itu, segala informasi fantastis mengenai gajah yang memiliki agama atau menyembah bulan dapat dikategorikan sebagai klaim yang tidak ilmiah dan tidak didukung oleh bukti yang kuat.

Fakta Ilmiah tentang Kecerdasan dan Emosi Gajah

Terlepas dari mitos yang beredar, gajah sejatinya adalah hewan yang sangat menarik untuk diteliti dan memiliki fakta-fakta ilmiah yang memukau. Salah satu bukti kecerdasan dan kedalaman emosi gajah adalah perilaku mereka terhadap kematian sesama gajah.

Penelitian ilmiah telah menunjukkan bahwa gajah menunjukkan tanda-tanda yang dapat diinterpretasikan sebagai ‘berkabung’. Mereka seringkali melakukan kunjungan berulang kali ke lokasi bangkai gajah yang telah membusuk. Selain itu, gajah juga diketahui mengeluarkan suara-suara tertentu di sekitar gajah yang mati.

Perilaku ini mengindikasikan adanya ikatan sosial yang kuat antar individu dalam kelompok gajah. Ini menunjukkan bahwa mereka memiliki kemampuan untuk merasakan kehilangan dan menunjukkan respons emosional terhadap kematian anggota kelompoknya.

Lebih lanjut, gajah juga terbukti mampu memahami isyarat yang diberikan oleh manusia. Kemampuan ini menunjukkan tingkat kecerdasan dan kemampuan adaptasi mereka yang luar biasa. Mereka dapat belajar dan merespons komunikasi non-verbal, yang merupakan bukti lain dari kompleksitas kognitif mereka.

Kemampuan gajah untuk menunjukkan empati, kesedihan, dan bahkan ingatan yang kuat terhadap individu lain dalam kelompok mereka menjadikan mereka subjek penelitian yang sangat berharga dalam studi perilaku hewan. Fakta-fakta ilmiah ini jauh lebih menarik dan akurat daripada klaim-klaim mitos yang tidak berdasar.

Penting bagi masyarakat untuk selalu mengedepankan sumber informasi yang terpercaya dan melakukan pengecekan silang sebelum mempercayai atau menyebarkan suatu informasi, terutama terkait dengan satwa liar yang unik dan kompleks seperti gajah.

Tinggalkan komentar


Related Post