Fadly Alberto: Dari Bintang Piala Dunia ke Ancaman Sanksi Berat

Kilas Rakyat

20 April 2026

4
Min Read

Deskripsi Meta: Sorotan tajam tertuju pada Fadly Alberto. Setelah bersinar di Piala Dunia U-17, kini ia terancam sanksi berat akibat insiden tendangan kungfu. Simak kronologi lengkapnya.

JAKARTA – Nama Fadly Alberto Hengga, yang sempat bersinar terang di panggung Piala Dunia U-17, kini tengah diselimuti awan kelabu. Perjalanan kariernya yang menjanjikan terancam terganjal sanksi berat menyusul insiden kekerasan yang melibatkan dirinya usai pertandingan Elite Pro Academy (EPA) U-20 antara Bhayangkara FC melawan Dewa United pada Minggu, 19 April 2026.

Pertandingan yang digelar di Stadion Citarum, Semarang, Jawa Tengah tersebut berakhir dengan kekalahan tipis bagi Bhayangkara FC dengan skor 1-2. Gol-gol Dewa United dicetak oleh Abu Thalib dan Kelvin Ananda Hairulis, sementara Bhayangkara FC hanya mampu membalas melalui Aqilah Lussnah. Namun, skor akhir pertandingan seolah tenggelam oleh drama kericuhan yang pecah sesaat setelah peluit panjang dibunyikan.

Insiden ini meninggalkan luka, tidak hanya pada skor pertandingan, tetapi juga pada citra para pemain yang terlibat. Tendangan membabi buta dan pukulan di pinggir lapangan menjadi pemandangan yang memilukan. Di tengah kekacauan tersebut, Fadly Alberto, yang notabene adalah penggawa Tim Nasional Indonesia U-20, menjadi salah satu sosok yang paling disorot.

Kilau Bintang di Piala Dunia U-17

Perjalanan Fadly Alberto di kancah sepak bola nasional mulai mencuri perhatian publik saat ia berseragam Tim Nasional Indonesia U-17. Ia tidak hanya menunjukkan performa apik di lapangan, tetapi juga kisah hidupnya yang sederhana sempat menjadi viral. Kehidupan yang jauh dari kemewahan menjadi kontras dengan bakat luar biasa yang ia miliki.

Berkat popularitasnya yang meroket, Fadly Alberto mendapatkan berbagai bentuk dukungan. Bahkan, perjalanan inspiratifnya bersama Timnas U-17 berujung pada hadiah rumah, sebuah apresiasi atas kerja keras dan prestasinya. Momen paling membanggakan datang saat Piala Dunia U-17 2025, di mana Fadly Alberto berhasil mencatatkan namanya sebagai salah satu pencetak gol bagi Indonesia.

Ia turut berperan dalam kemenangan bersejarah Indonesia atas Honduras dengan skor 2-1. Kemenangan tersebut menjadi catatan emas pertama bagi Indonesia di ajang Piala Dunia untuk semua kelompok umur. Reputasi yang gemilang ini kemudian membawanya memperkuat klub Bhayangkara FC di kompetisi EPA U-20. Tak hanya itu, Fadly Alberto juga masih menjadi bagian penting dari rencana pelatih Timnas Indonesia U-20, Nova Arianto, dalam menghadapi berbagai turnamen mendatang.

Tendangan Kungfu yang Mengancam Karier

Namun, hanya dalam jeda waktu yang relatif singkat setelah menorehkan prestasi gemilang, Fadly Alberto kini menghadapi situasi pelik. Insiden kericuhan di Semarang menempatkannya sebagai salah satu terduga pelaku tendangan yang diarahkan kepada pemain Dewa United. Pihak Dewa United sendiri secara tegas menyebutkan tiga nama lain, termasuk pelatih kiper Bhayangkara FC, Ferdiansyah, sebagai pelaku kekerasan.

Foto-foto yang beredar luas di media sosial memperlihatkan Fadly Alberto melakukan gerakan tendangan yang menyerupai jurus kungfu ke arah pemain Dewa United yang berada di area bangku cadangan. Aksi tersebut sontak menuai kecaman dan tidak mendapat pembelaan dari pihak manapun.

Manajer Bhayangkara FC, Yongky Pandu Pamungkas, mencoba memberikan keterangan yang sedikit defensif terkait kejadian tersebut. Ia mengklaim bahwa pemain Dewa United juga melakukan tindakan serupa terlebih dahulu. "Sebenarnya pemain Dewa juga menendang pemain kita saat itu. Dia berlari dari tengah lapangan dan menendang pemain kita. Dari situlah terjadi perkelahian, banyak pemain, banyak ofisial kita datang untuk melerai. Bahkan pelatih kiper kita itu sebenarnya mau melerai malah kena pukulan dari belakang," ujar Yongky pada Senin, 20 April.

Yongky juga menambahkan bahwa Fadly Alberto mengaku menjadi korban perlakuan rasisme. "Kami sangat menyayangkan. Tapi dari pengakuan Beto sendiri dia merasa ada perlakuan rasis terhadap dia. Sehingga dia merasa emosi dan meluapkan emosinya itu ke salah satu pemain yang berada di video viral itu," imbuhnya.

Sanksi Tegas Menanti

Terlepas dari alasan apapun yang melatarbelakangi insiden tersebut, sanksi tegas kini membayangi Fadly Alberto dan rekan-rekannya di Bhayangkara FC yang terlibat dalam aksi kekerasan. Anggota Komite Eksekutif PSSI, Kairul Anwar, menegaskan bahwa PSSI tidak akan tinggal diam.

"Komdis pasti akan merunut pada Kode Disiplin PSSI 2025. Ofisial, perangkat pertandingan, dan pemain akan didalami sebagai bagian dari kejadian ini. Yang jelas, Komdis tidak akan melihat siapa pemain ini, tapi siapa yang melakukan, pasti akan disanksi tegas," tegas Kairul.

Ia menambahkan bahwa ranah Komite Disiplin (Komdis) akan menentukan berat ringannya sanksi. "Itu ranah badan yudisial, tapi kalau melihat kejadian itu berpotensi larangan bermain dalam jangka waktu tertentu, bisa 1 tahun lebih. Tapi semua kembali ke Komdis," tutup Kairul.

Insiden ini menjadi pengingat keras bahwa talenta sepak bola sehebat apapun harus dibarengi dengan kontrol emosi dan sportivitas yang tinggi. Dunia sepak bola Indonesia menanti keputusan Komdis PSSI mengenai nasib Fadly Alberto dan sanksi yang akan dijatuhkan, yang berpotensi besar memengaruhi kelanjutan karier sang bintang muda.

Tinggalkan komentar


Related Post