Puluhan pengendara motor di Kembangan, Jakarta Barat, mengalami kejadian buruk setelah sepeda motor mereka mogok secara massal. Diduga kuat, penyebabnya adalah BBM jenis Pertalite yang tercampur solar di SPBU 34.116.12 Pertamina. Kejadian ini menimbulkan kerugian besar bagi para pengendara dan memaksa mereka untuk mencari solusi perbaikan darurat.
Bengkel-bengkel di sekitar SPBU tersebut mendadak kebanjiran pelanggan. Salah satu bengkel yang paling merasakan dampaknya adalah bengkel milik Della. Ia dan timnya kewalahan menangani puluhan motor yang rusak.
“Sekitar 25 motor, tapi belum dicek semua. Kerusakannya macam-macam, ada yang harus ganti busi, injeksi, sampai ganti oli. Tapi sebagian besar butuh kuras tangki,” ujar Della, menceritakan pengalamannya menghadapi situasi darurat tersebut. Kerusakan yang dialami para pengendara bervariasi, mulai dari yang ringan hingga yang membutuhkan perbaikan besar, bahkan penggantian komponen vital seperti injektor dan busi.
Pertamina, melalui Manajer Ramses Sitorus, telah mengakui adanya kelalaian petugas SPBU yang menyebabkan kejadian ini.
“Terjadi kesalahan pengisian dari mobil tangki ke tabung. BBM (bahan bakar minyak) biosolar masuk ke pertalite. Itu kesalahan dari pengawas yang melakukan kegiatan tersebut tidak memindahkan selangnya ke tanki. Sehingga terjadi mogok pada motor pelanggan,” jelas Ramses Sitorus pada Senin (4/8). Pengakuan ini menunjukkan tanggung jawab Pertamina atas insiden tersebut.
Pertamina berjanji akan menanggung seluruh kerugian yang dialami para pengendara.
“Katanya ada ganti rugi. Siapa pun korbannya diganti oleh Pertamina,” ungkap Della, menyampaikan informasi yang diterimanya dari pihak Pertamina. Namun, janji tersebut tak serta merta meredakan beban Della dan timnya.
Bengkel Della hanya memiliki dua teknisi dan jumlah motor yang rusak terus bertambah. Hal ini membuat proses perbaikan menjadi sangat lambat dan melelahkan.
“Lama pekerjaan per sepeda motor tak bisa diperkirakan karena hanya dua teknisi,” keluh Della, menggambarkan betapa beratnya situasi yang dihadapi bengkelnya. Meskipun demikian, bengkel tersebut tetap memberikan garansi tujuh hari untuk perbaikan, sebagai bentuk layanan purna jual dan menenangkan para pelanggannya.
“Ada garansi tujuh hari. Kalau ada keluhan lagi, kita perbaiki lagi,” tambah Della, menjelaskan kebijakan bengkelnya untuk memastikan kepuasan pelanggan. Kejadian ini menjadi pembelajaran penting bagi Pertamina untuk meningkatkan pengawasan dan prosedur keamanan dalam proses pengisian BBM agar kejadian serupa tidak terulang.
Hingga saat ini, SPBU tersebut masih ditutup sementara, menyusahkan para pengendara yang membutuhkan bahan bakar. Kejadian ini menjadi sorotan publik dan mengingatkan pentingnya pengawasan ketat dalam pengelolaan bahan bakar minyak untuk mencegah kerugian yang lebih besar di masa mendatang. Insiden ini juga menunjukkan betapa pentingnya peran bengkel lokal dalam memberikan solusi cepat dan responsif terhadap kejadian darurat seperti ini, meskipun dengan keterbatasan sumber daya.









Tinggalkan komentar