Dokter Iril: Predator Ibu Hamil, Ratusan Korban Terungkap

Kilas Rakyat

23 April 2025

3
Min Read

Kasus dugaan tindak asusila yang dilakukan oleh dokter kandungan Muhammad Syafril Firdaus, atau yang dikenal sebagai Dokter Iril di Garut, terus menjadi sorotan publik. Kesaksian mantan asistennya yang bekerja pada tahun 2023 mengungkap fakta mengejutkan mengenai modus operandi dan skala kejahatan yang dilakukan.

Mantan asisten tersebut, melalui unggahan ulang akun Instagram @drmita.spkk, menjelaskan bahwa Dokter Iril tidak sembarangan memilih korban. Ia memiliki preferensi tertentu, dan tidak semua pasien menjadi korban pelecehan seksual.

Perilaku tidak pantas Dokter Iril sebenarnya sudah lama dicurigai oleh staf dan perawat klinik tempatnya bekerja. Sebagai upaya pencegahan, klinik bahkan sempat memasang CCTV di ruang praktik. Namun, tindakan ini terbukti tidak cukup untuk menghentikan aksi Dokter Iril.

Modus Operandi Dokter Iril yang Sistematis

Mantan asisten tersebut memperkirakan jumlah korban pelecehan seksual Dokter Iril mencapai lebih dari 100 orang. Ia sendiri mengaku menjadi korban beberapa minggu setelah mulai bekerja. Dokter Iril bahkan terus menghubunginya dan menunggunya pulang di depan rumah sakit.

Namun, setelah mengetahui latar belakang mantan asistennya sebagai mantan asisten dokter spesialis kandungan senior di Garut, Dokter Iril langsung menjauh. Hal ini menunjukkan bahwa Dokter Iril mungkin menghindari individu yang berpotensi melaporkan perbuatannya.

Dokter lain di lingkungan kerja juga sempat memperingatkan mantan asisten tersebut untuk berhati-hati terhadap Dokter Iril, menunjukkan bahwa kecurigaan terhadap perilaku Dokter Iril telah menyebar di kalangan rekan sejawat.

Sasaran Dokter Iril: Ibu Hamil Trimester Dua dan Tiga

Menurut kesaksian mantan asisten, sebagian besar kasus pelecehan terjadi di klinik, bukan di rumah sakit. Dokter Iril memiliki pola tertentu dalam memilih korban, yaitu perempuan hamil trimester dua dan tiga.

Kondisi kehamilan pada trimester tersebut memberikan akses fisik bagi Dokter Iril untuk melakukan pelecehan di area perut bagian atas dekat dada, sesuatu yang tidak memungkinkan pada trimester pertama kehamilan.

Pendekatan Melalui Media Sosial dan Tawaran USG Gratis

Modus operandi Dokter Iril terbilang sistematis. Ia memulai pendekatan melalui media sosial dengan obrolan ringan, lalu terus merespon setiap unggahan pasien dan merayunya dengan tawaran USG gratis.

Pasien yang terbujuk rayuan akan diminta datang pada jam praktik terakhir tanpa perlu mendaftar secara resmi. Mereka cukup mengatakan bahwa mereka telah membuat janji pribadi dengan Dokter Iril.

Lebih jauh lagi, staf yang biasanya mendampingi pasien selama pemeriksaan justru sengaja diperintahkan untuk pulang lebih awal, meninggalkan pasien sendirian bersama Dokter Iril.

Tanggapan dan Tindakan Hukum

Kesaksian ini memberikan bukti kuat bahwa dugaan pelecehan seksual yang dilakukan Dokter Iril bukan hanya insiden terisolasi, melainkan tindakan sistematis yang berlangsung dalam waktu lama. Hal ini membutuhkan tindakan tegas dari pihak berwenang.

Publik menantikan investigasi yang menyeluruh dan tuntutan hukum yang adil bagi Dokter Iril agar tidak ada lagi korban baru. Perlindungan terhadap pasien dan pengawasan yang lebih ketat terhadap tenaga medis sangat diperlukan untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.

Pentingnya pelaporan kasus-kasus pelecehan seksual dan perlindungan bagi korban harus terus disosialisasikan agar korban merasa aman untuk melapor dan mendapatkan keadilan. Dukungan psikologis bagi korban juga sangat penting untuk membantu proses pemulihan mereka.

Tinggalkan komentar


Related Post