Jakarta – Sebuah gambar baru Bumi yang diambil oleh astronaut misi Artemis, yang dijuluki “Earthset”, memunculkan perbandingan dramatis dengan foto ikonik “Earthrise” dari misi Apollo 8 pada tahun 1968. Keduanya, meskipun sama-sama memukau, secara halus mengungkap perubahan signifikan yang dialami planet biru kita selama lebih dari setengah abad terakhir.
Kembali pada Desember 1968, Komandan Apollo 8, Frank Borman, menyaksikan pemandangan yang tak terbayangkan. Saat melintasi sisi jauh Bulan, ia tertegun melihat permukaan bulan yang tandus dan penuh kawah. “Permukaan bulan rusak parah dipenuhi kawah meteorit dan sisa vulkanik,” ungkap Borman dalam sebuah wawancara BBC pada tahun 2018. Ia menggambarkan bulan sebagai dunia yang monoton, hanya dipenuhi warna abu-abu, hitam, dan putih.
Namun, kejutan sesungguhnya datang pada orbit keempat. Saat pesawat antariksa mereka berputar, pemandangan luar biasa muncul. “Kami melihat ke atas dan tampak Bumi di latar, muncul di atas permukaan Bulan,” kenang Borman. Momen inilah yang diabadikan oleh astronaut Bill Anders dalam foto “Earthrise”, sebuah gambar yang kelak menjadi salah satu citra paling bersejarah dan berpengaruh bagi umat manusia.
Keajaiban Planet Biru di Tengah Kegelapan Kosmik
“Bumi adalah satu-satunya objek di seluruh alam semesta yang punya warna,” ujar Borman, seperti dikutip oleh detikINET dari BBC. Ia menambahkan bahwa pemandangan tersebut sungguh luar biasa, mengingatkan betapa beruntungnya manusia bisa menghuni planet yang penuh kehidupan dan warna ini.
Foto “Earthrise” tidak hanya sekadar sebuah citra. Ia menjadi salah satu gambar yang paling banyak direproduksi sepanjang sejarah dan diyakini turut memicu gerakan lingkungan hidup global. Inspirasi dari foto ini bahkan berkontribusi pada penetapan Hari Bumi pertama kali pada tahun 1970.
Lima puluh delapan tahun berselang, misi Artemis kembali mengukir sejarah. Astronaut NASA berhasil mengabadikan momen “Earthset”, sebuah gambaran Bumi yang perlahan tenggelam di balik lanskap bulan yang sunyi. Perbandingan antara kedua foto ini menjadi saksi bisu perubahan yang terjadi pada planet kita, terutama akibat perubahan iklim yang semakin nyata selama enam dekade terakhir.
Earthset: Bukti Visual Perubahan Iklim
Foto “Earthset” diambil pada 6 April pukul 18:41 waktu setempat, melalui jendela pesawat antariksa Orion. Menurut NASA, sisi Bumi yang disinari Matahari menampilkan lautan biru yang luas dan tutupan awan putih yang memukau, sementara sebagian lainnya diselimuti kegelapan malam. Gambar ini juga memperlihatkan detail permukaan Bulan yang begitu jelas.
Meskipun kini ribuan satelit secara rutin memotret Bumi setiap hari, keistimewaan “Earthset” terletak pada fakta bahwa gambar ini diambil oleh tangan manusia. Hal ini memberikan perspektif yang sangat berbeda dan mendalam.
Craig Donlon dari Badan Antariksa Eropa (ESA) menjelaskan bahwa perspektif manusia mampu membangkitkan emosi yang unik. “Itu memunculkan semacam emosi yang mengatakan, ‘Wah, oke, Bumi tua yang kecil di sana, tapi di situlah kita hidup, itulah segalanya’,” tuturnya.
Kedua foto ikonik ini, “Earthrise” dan “Earthset”, secara bersama-sama membantu kita memahami bagaimana Bumi telah berubah. Richard Allan, seorang profesor ilmu iklim dari Universitas Reading, Inggris, memberikan gambaran yang mengkhawatirkan.
Data yang Mengkhawatirkan: Pemanasan Global dan Perubahan Bentang Alam
“Sejak foto ‘Earthrise’ diambil, kadar karbon dioksida di atmosfer telah meningkat sekitar sepertiga,” jelas Allan. “Suhu global pun telah memanas dengan cepat, setidaknya mencapai 1 derajat Celsius.”
Perubahan ini tidak hanya terjadi pada atmosfer, tetapi juga pada bentang alam Bumi. Aktivitas manusia telah mengubah tekstur daratan yang terlihat dari luar angkasa. “Planet ini bertransformasi seiring aktivitas manusia yang mengubah tekstur daratan sebagaimana terlihat dari luar angkasa,” kata Allan.
Contoh nyata dari perubahan ini meliputi perluasan kota yang masif, penggundulan hutan lebat untuk dijadikan lahan pertanian yang lebih terang, serta penyusutan Laut Aral yang kini hanya tersisa kurang dari 10% dari luasnya pada tahun 1960-an. Fenomena ini secara langsung berkontribusi pada perubahan iklim global.
Meskipun awan seringkali menutupi sebagian besar permukaan Bumi dalam foto-foto tersebut, beberapa perubahan dapat tetap terlihat. Benjamin Wallis, seorang ahli glasiologi dari Universitas Leeds, menyoroti elemen yang konsisten muncul di kedua foto: Antartika dan Samudra Selatan.
Antartika yang Memanas: Tanda Bahaya dari Kutub Es
“Walau foto-foto itu menunjukkan bagian Bumi yang berbeda, satu hal yang memang muncul di kedua gambar tersebut adalah Antartika dan Samudra Selatan,” ujar Wallis.
Ia menambahkan bahwa Semenanjung Antartika merupakan salah satu wilayah di Bumi yang mengalami pemanasan tercepat. “Semenanjung Antartika adalah salah satu bagian Bumi yang memanas tercepat dan 28.000 kilometer persegi paparan es runtuh di antara waktu pengambilan gambar asli dan gambar terbaru,” paparnya.
Perubahan dramatis ini juga diamati di wilayah kutub lainnya. Petra Heil, direktur sains di British Antarctic Survey, menyatakan keprihatinannya. “Kita melihat beberapa perubahan dramatis,” katanya.
“Kita sekarang melihat penurunan drastis tutupan es laut musiman di kedua belahan Bumi. Di Amerika Utara, Eurasia, dan Asia, kita melihat datangnya tutupan salju musiman yang jauh lebih lambat dan juga mencair lebih awal,” tambah Heil.
Kesimpulan Ilmiah: Dominasi Manusia dalam Perubahan Bumi
Berdasarkan pengamatan ilmiah yang cermat dan model numerik yang kompleks, para ilmuwan memiliki keyakinan kuat mengenai penyebab perubahan ini. “Saya rasa kita cukup yakin berdasarkan pengamatan dan juga model numerik untuk menyimpulkan bahwa mungkin 90-95% dari perubahan tersebut diakibatkan aktivitas manusia,” ujar Heil.
Meskipun gambaran ini terdengar suram, penting untuk diingat bahwa kerusakan lingkungan di Bumi bukanlah fenomena baru yang muncul belakangan ini. Bahkan pada tahun 1968, saat foto “Earthrise” diambil, manusia telah memberikan dampak signifikan pada planet ini.
Kathleen Rogers, presiden jaringan Hari Bumi, memberikan perspektif yang lebih luas. “Dari kejauhan, Bumi terlihat begitu sempurna dan sangat indah. Namun saat Anda mendekat, Anda bisa melihat kerusakan akibat, sebut saja, kemajuan selama 150 tahun,” katanya.
Namun, di balik realitas pahit tersebut, ada secercah harapan. “Hal itu memang menginspirasi satu generasi untuk mengambil langkah nyata dan menjadi bagian sebuah pergerakan,” tutup Rogers, menekankan kekuatan inspirasi dari sebuah citra untuk mendorong perubahan positif.









Tinggalkan komentar