Basarnas Pertimbangkan Perpanjang Operasi Pencarian Korban KMP Tunu Pratama Jaya

Kilas Rakyat

6 Juli 2025

3
Min Read

Tim SAR gabungan telah mengevakuasi 37 korban dari tenggelamnya Kapal Motor Penumpang (KMP) Tunu Pratama Jaya di Selat Bali hingga hari keempat pencarian. Tujuh korban ditemukan meninggal dunia, sementara 30 lainnya berhasil diselamatkan.

Berdasarkan manifes, KMP Tunu Pratama Jaya membawa 65 orang saat kejadian, terdiri dari 53 penumpang dan 12 kru. Ini berarti masih ada sejumlah korban yang belum ditemukan.

Deputi Operasi SAR dan Kesiapsiagaan Basarnas, Ribut Eko Suyatno, menjelaskan bahwa operasi SAR berdasarkan UU Nomor 29 Tahun 2014 tentang Pencarian dan Pertolongan, berlangsung selama tujuh hari. Namun, kemungkinan perpanjangan masih terbuka.

Pertimbangan Perpanjangan Operasi SAR

Keputusan untuk memperpanjang operasi SAR akan mempertimbangkan beberapa faktor. Pertama, desakan dari keluarga korban yang masih berharap pada ditemukannya anggota keluarga mereka. Kedua, temuan di lapangan yang mengindikasikan kemungkinan masih adanya korban yang belum ditemukan.

Eko menyebutkan bahwa jika ada permintaan perpanjangan dari koordinator pencarian, maka laporan akan disampaikan ke Kementerian Perhubungan untuk keputusan final. Hal ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menangani tragedi ini.

Metode Pencarian yang Digunakan

Penemuan satu jenazah laki-laki yang mengambang di perairan Selat Bali pada Minggu pagi, mendorong tim SAR untuk menggunakan metode penyelaman. Namun, sebelum penyelaman dilakukan, data valid tentang kontur bawah air dan demografi lokasi tenggelam sangat dibutuhkan.

Data ini penting untuk menentukan peralatan dan metode penyelaman yang tepat dan efektif. Kedalaman lokasi kecelakaan, kondisi arus laut, serta jenis peralatan yang sesuai harus dipertimbangkan secara matang untuk memastikan keselamatan tim penyelam.

Kronologi Tenggelamnya KMP Tunu Pratama Jaya

KMP Tunu Pratama Jaya dilaporkan terbalik dan tenggelam di Selat Bali saat berlayar dari Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali. Laporan dari Dermaga LCM Gilimanuk menunjukkan kapal sempat mengirimkan sinyal darurat pukul 00.16 WITA.

Hanya beberapa menit kemudian, tepatnya pukul 00.19 WITA, kapal mengalami mati lampu (blackout). Cuaca ekstrem dengan gelombang laut setinggi 2,5 meter di Selat Bali diduga menjadi penyebab utama kecelakaan ini. Gelombang besar membuat kapal kehilangan stabilitas dan akhirnya tenggelam di koordinat -08°09.371′, 114°25, 1569.

Analisis dan Rekomendasi

Kejadian ini menyoroti pentingnya pengecekan rutin kelaikan kapal dan kesiapan menghadapi cuaca ekstrem. Perlu dilakukan investigasi menyeluruh untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan dan mencegah kejadian serupa di masa mendatang. Sistem peringatan dini dan protokol evakuasi juga perlu diperbaiki.

Selain itu, pelatihan bagi awak kapal dalam menghadapi kondisi darurat perlu ditingkatkan. Peningkatan kemampuan respons cepat dari tim SAR juga krusial. Semua pihak terkait perlu bekerja sama untuk meningkatkan keselamatan pelayaran di Selat Bali.

Proses evakuasi dan pencarian korban harus dilakukan secara profesional dan efisien. Dukungan penuh dari pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk membantu keluarga korban dan memastikan proses investigasi berjalan dengan lancar.

Tinggalkan komentar


Related Post