Banjir Cisarua Bandung Barat: Aktivis Lingkungan Tuding Perubahan Iklim Picu Bencana

Kilas Rakyat

1 Februari 2026

2
Min Read

Perbincangan mengenai penyebab bencana longsor di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada 24 Januari 2026, marak diperbincangkan di media sosial. Berbagai dugaan muncul, mulai dari faktor alam hingga aktivitas manusia, terutama terkait alih fungsi lahan di kawasan hulu.

Di tengah diskusi tersebut, pegiat lingkungan sekaligus warga Cisarua, Siti Aisyah Novitri, melalui akun Instagram pribadinya, @aisyahbertani, pada Sabtu, 31 Januari 2026, menyampaikan pandangannya. Ia menyoroti tudingan yang kerap diarahkan kepada aktivitas alih fungsi lahan sebagai penyebab utama bencana.

Aisyah mengungkapkan bahwa kampung halamannya dilanda longsor disertai banjir bandang yang berdampak besar bagi warga setempat. Ia menilai anggapan bahwa alih fungsi lahan adalah penyebab utama tidak sepenuhnya tepat dan berpotensi menyudutkan kelompok tertentu, khususnya para petani.

Menurut Aisyah, petani seringkali dijadikan kambing hitam atas bencana alam, padahal kondisi di lapangan jauh lebih kompleks. Ia menegaskan bahwa longsor di Cisarua tidak bisa dilihat semata-mata sebagai dampak alih fungsi lahan.

Longsor tersebut berkaitan erat dengan isu keadilan iklim dan cuaca ekstrem. Di tengah situasi bencana, Aisyah juga mengungkapkan bahwa warga masih berjuang mencari korban yang hilang serta berupaya bertahan di tengah duka yang mendalam.

Ia menjelaskan bahwa titik awal longsor berasal dari kawasan puncak Gunung Burangrang yang masih tergolong rimbun. Hujan dengan intensitas tinggi menjadi pemicu utama bencana tersebut.

Longsoran tersebut menutup jalur aliran air dan membentuk bendungan alami. Bendungan ini akhirnya jebol, memicu aliran lumpur, batu, serta pasir yang meluncur deras ke permukiman warga.

Kondisi ini diperparah oleh kemiringan lereng yang cukup curam. Akibatnya, daya rusak aliran air menjadi semakin besar dan merusak.

Aisyah menilai, kawasan hutan yang lebat pun kini tidak selalu mampu menahan dampak cuaca ekstrem. Hal ini terjadi jika tekanan terhadap alam terus berlangsung tanpa kendali.

Ia juga mengaitkan peristiwa tersebut dengan perubahan iklim global. Peningkatan suhu udara secara global membuat curah hujan menjadi lebih deras dan durasinya lebih lama.

Meskipun mengakui bahwa alih fungsi lahan tetap berpengaruh terhadap kemampuan tanah menyerap air, Aisyah menekankan bahwa petani bukanlah penyebab utama bencana ini. Sebaliknya, mereka adalah salah satu kelompok yang paling terdampak oleh tragedi ini.

Tinggalkan komentar


Related Post