Semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan peribahasa yang menunjukkan keberagaman di dalam kesatuan. Semboyan ini memiliki arti “Berbeda-beda tetapi tetap satu” dan menjadi semboyan nasional Indonesia. Namun, sebenarnya semboyan ini telah ada sejak jaman kerajaan Majapahit dan inilah cara Bhinneka Tunggal Ika digunakan pada era tersebut.

Kerajaan Majapahit dan Bhinneka Tunggal Ika
Kerajaan Majapahit dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dan paling makmur dalam sejarah Indonesia. Kerajaan ini berdiri pada abad ke-13 hingga 16 dan meraih puncak kejayaannya di bawah kepemimpinan Raja Hayam Wuruk dengan Gajah Mada sebagai Mahapatihnya. Bagaimana Bhinneka Tunggal Ika digunakan pada masa kerajaan Majapahit?
Bhinneka Tunggal Ika diidentifikasi berasal dari buku kakawin Sutasoma, sebuah cerita sastra Jawa Kuno yang ditulis oleh Mpu Tantular pada masa kerajaan Majapahit. Dalam cerita ini, Bhinneka Tunggal Ika digunakan untuk menggambarkan kebijakan agama Majapahit yang mengakomodasi berbagai agama dan kepercayaan di dalam kerajaannya.
Bhinneka Tunggal Ika dan Penggunaannya
Pada masa Majapahit, Bhinneka Tunggal Ika digunakan sebagai prinsip pengakuan dan penerimaan terhadap berbagai agama dan kepercayaan yang ada. Majapahit dikenal sebagai kerajaan yang menjunjung tinggi toleransi agama. Hal ini ditunjukkan dengan adanya berbagai bangunan tempat ibadah dari agama yang berbeda-beda seperti Hindu, Buddha, dan lainnya.
Bhinneka Tunggal Ika menjelaskan pernyataan bahwa seluruh agama memiliki tujuan yang sama, yaitu mencapai kebenaran tertinggi. Dengan toleransi dan penerimaan ini, kerajaan Majapahit berhasil menciptakan perdamaian dan kerukunan di antara rakyatnya, memungkinkan mereka untuk berkembang dan meraih kejayaan pada masa itu.
Penutup
Meski Bhinneka Tunggal Ika berawal dari Majapahit dan banyak digunakan dalam konteks keagamaan, prinsip ini juga menjadi nilai universal. Dalam konteks modern, semboyan ini menekankan pentingnya persatuan di tengah kebhinekaan.









Tinggalkan komentar