AI Bergeser ke CPU Dongkrak Laba Intel

26 April 2026

3
Min Read

Laporan keuangan terbaru Intel mengungkap pergeseran fundamental dalam lanskap kecerdasan buatan (AI). Jika sebelumnya Unit Pemrosesan Grafis (GPU) menjadi primadona untuk melatih model AI yang kompleks, kini Unit Pemrosesan Sentral (CPU) mulai mengambil peran sentral. Perubahan ini disambut positif oleh Intel, terbukti dari lonjakan pendapatan signifikan yang mereka catat.

Intel berhasil membukukan pendapatan sebesar USD 13,6 miliar pada kuartal yang berakhir Maret 2026. Angka ini menunjukkan peningkatan 7 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan melampaui ekspektasi para analis. Lebih lanjut, perusahaan optimistis dengan proyeksi pendapatan kuartal mendatang, memperkirakan akan berada di kisaran USD 13,8 miliar hingga USD 14,8 miliar.

Pergeseran tren AI ini sangat terkait dengan evolusi penerapannya. Industri tidak lagi hanya terpaku pada pelatihan model AI secara terpusat. Fokus kini beralih pada proses inference (inferensi) dan pengembangan agen otonom yang beroperasi lebih dekat dengan pengguna akhir. Skenario ini secara tak terduga menguntungkan CPU, komponen yang sebelumnya kerap dianggap sebagai pendukung dalam infrastruktur AI.

CEO Intel, Lip-Bu Tan, menjelaskan bahwa gelombang AI berikutnya akan membawa kecerdasan lebih dekat kepada pengguna. Pergeseran dari model dasar menuju inference dan agen AI ini secara signifikan meningkatkan permintaan untuk penawaran CPU, wafer, dan solusi advanced packaging dari Intel.

Dominasi CPU di Pusat Data Meningkat

Kebangkitan Intel paling kentara terlihat pada segmen bisnis pusat data. Divisi ini mencetak pendapatan sebesar USD 5,1 miliar, jauh melampaui prediksi pasar yang hanya mencapai USD 4,5 miliar. Segmen pusat data sendiri sangat bergantung pada CPU untuk menjalankan server yang menangani tugas pelatihan dan beban kerja inferensi.

Lip-Bu Tan mengamati adanya perubahan rasio kebutuhan komponen dalam sistem server. Jika sebelumnya satu CPU dibutuhkan untuk delapan GPU (rasio 1:8), kini sistem AI modern memerlukan perbandingan satu CPU untuk setiap empat GPU (rasio 1:4). Peningkatan kebutuhan CPU ini menjadi pendorong utama pendapatan Intel.

Selain dari prosesor, Intel juga meraih kesuksesan dari bisnis foundry-nya. David Zinsner, Chief Financial Officer Intel, menyoroti bahwa teknologi advanced packaging—yang memungkinkan integrasi beberapa chip dalam satu paket—menjadi kontributor utama pendapatan manufaktur. Hal ini sejalan dengan peningkatan jumlah chip yang dibutuhkan per server.

Dukungan Eksternal dan Ambisi Terafab

Momentum positif Intel juga diperkuat oleh beberapa faktor eksternal. Nilai saham perusahaan dilaporkan melonjak hampir tiga kali lipat sejak Agustus lalu, ditutup pada USD 66,78 pada Kamis kemarin. Lonjakan ini bertepatan dengan pengungkapan kepemilikan 10 persen saham oleh pemerintahan Trump pada musim panas lalu.

Selain itu, Intel telah resmi bergabung sebagai mitra strategis dalam proyek ambisius Elon Musk, yaitu pabrik chip AI Terafab. Kerjasama ini diharapkan dapat mempercepat inovasi dan efisiensi dalam produksi chip AI.

"Terafab sangatlah penting. Menerapkan cara kerja Elon Musk ke dalam bisnis foundry sangat menarik bagi kami. Kami pasti akan memintanya membantu kami memikirkan cara membuat pabrik (Fab) menjadi lebih ekonomis," ujar Zinsner.

Meskipun menunjukkan tren operasional yang positif, Intel mencatat rugi bersih sebesar USD 3,7 miliar pada kuartal tersebut. Kerugian ini disebabkan oleh beban biaya satu kali (one-time charges) terkait kepemilikan sahamnya di Mobileye dan pengaturan keuangan dengan investasi pemerintah.

Namun, jika beban tersebut dikecualikan, Intel sebenarnya berhasil membukukan laba bersih sebesar USD 1,5 miliar atau setara dengan 29 sen per saham. Hal ini menunjukkan fundamental bisnis yang kuat di luar pos-pos akuntansi tertentu.

Meski demikian, Intel tetap harus menjaga kewaspadaannya. Mereka masih menghadapi persaingan ketat dari rival utamanya, Nvidia dan AMD, di pasar akselerator AI berkinerja tinggi. Selain itu, permintaan untuk chip PC, yang secara historis menjadi tulang punggung pendapatan Intel, diperkirakan akan tetap lesu akibat kenaikan biaya komponen di pasaran. Tantangan ini menuntut Intel untuk terus berinovasi dan beradaptasi dengan dinamika pasar teknologi yang cepat berubah.

Tinggalkan komentar


Related Post