Klarifikasi tegas datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengenai dugaan keterlibatan salah satu penelitinya, Dimas Fajar Prasetyo, dalam sebuah penelitian yang belakangan ramai menjadi sorotan publik karena dianggap palsu. Dimas Fajar Prasetyo, yang tercatat sebagai peneliti di Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, membantah keras adanya keterkaitan dengan publikasi yang diduga mengandung kejanggalan tersebut.
Isu ini mencuat setelah beredarnya informasi di berbagai platform media sosial mengenai penelitian yang dipresentasikan dalam ajang bergengsi, International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Disease (ISPPD) 2026 di Copenhagen, Denmark. Dalam presentasi tersebut, nama Dimas Fajar Prasetyo dan afiliasi BRIN muncul, menimbulkan spekulasi dan pertanyaan di kalangan akademisi serta masyarakat umum.
Menyikapi situasi ini, Dimas Fajar Prasetyo mengeluarkan pernyataan klarifikasi resmi. Ia menegaskan bahwa nama yang tercantum dalam publikasi yang dipermasalahkan bukanlah dirinya, dan tidak memiliki hubungan apapun, baik secara akademik maupun profesional, dengan aktivitas penelitian tersebut. "Terkait dengan pemberitaan yang beredar akhir-akhir ini menyangkut kemunculan beberapa publikasi yang mencantumkan nama serta afiliasi yang menyerupai identitas saya, dengan ini saya mengklarifikasi dan menegaskan bahwa itu bukan saya dan tidak berkaitan dengan diri saya dalam bentuk apa pun," tegas Dimas dalam pernyataannya.
Ia menambahkan bahwa dirinya sama sekali tidak terlibat dalam pembuatan, partisipasi, pengetahuan, apalagi kerja sama dengan pihak mana pun yang terlibat dalam penelitian yang kini menjadi sorotan publik. "Saya tidak ada sangkut pautnya dengan hal tersebut. Saya tidak pernah sama sekali membuat penelitian tersebut, terlibat dalam penelitian tersebut, mengikuti kegiatan tersebut, maupun mengetahui dan bekerja sama dengan penulis dalam penelitian tersebut," lanjutnya, menekankan bahwa klaim tersebut tidak memiliki dasar sama sekali.
Bidang Keahlian yang Berbeda Jauh
Penegasan Dimas Fajar Prasetyo semakin kuat ketika ia menjelaskan perbedaan mendasar antara bidang keahliannya dengan topik penelitian yang dipermasalahkan. Dimas menekuni bidang Offshore and Marine Systems Engineering, atau rekayasa sistem kelautan dan lepas pantai. Seluruh rekam jejak akademik, pendidikan, hingga aktivitas penelitiannya selama ini secara konsisten berada dalam koridor keahlian tersebut.
Oleh karena itu, munculnya namanya dalam penelitian yang topiknya sangat jauh berbeda dianggap tidak sejalan dengan perjalanan akademiknya. "Sebagaimana diberitakan bahwa nama saya tercantum dalam beberapa penelitian yang sangat berbeda di luar bidang kepakaran saya, hal tersebut jelas tidak sejalan dengan aktivitas akademik maupun profesional yang selama ini saya jalankan," ujar Dimas. Sejak awal meniti karier akademiknya, Dimas selalu menjunjung tinggi etika penelitian (research ethics) dan berupaya keras untuk mengembangkan keahlian sesuai dengan bidang yang ia tekuni.
Dugaan Pencatutan Nama dan Afiliasi Tanpa Izin
Dalam klarifikasinya, Dimas Fajar Prasetyo juga menyoroti kemungkinan adanya pencatutan nama dan afiliasi yang menyerupai identitasnya tanpa persetujuan. Ia berpendapat, jika memang benar nama dan afiliasi yang mirip dengan dirinya digunakan dalam penelitian yang sama sekali tidak ia ketahui, maka hal tersebut patut diduga sebagai bentuk penyalahgunaan identitas.
"Apabila nama dan afiliasi yang menyerupai dengan saya digunakan dalam penelitian yang tidak saya ketahui sama sekali, maka hal tersebut patut diduga sebagai bentuk penggunaan identitas serta afiliasi tanpa persetujuan saya," ungkapnya.
Dimas menilai bahwa mencantumkan nama seseorang dalam karya ilmiah tanpa izin adalah tindakan yang tidak bertanggung jawab. Tindakan semacam ini berpotensi besar merugikan nama baik individu yang bersangkutan, serta institusi tempatnya bernaung. "Saya memandang pencantuman nama saya tanpa izin sebagai tindakan tidak bertanggung jawab dan merupakan indikasi pemalsuan nama pada karya keilmuan yang dapat merugikan nama baik saya maupun institusi tempat saya bernaung dan mengabdi," tegasnya.
Untuk meminimalkan potensi penyalahgunaan lebih lanjut, Dimas Fajar Prasetyo juga menginformasikan bahwa beberapa akun media sosial miliknya untuk sementara waktu telah dinonaktifkan. Langkah ini diambil sebagai upaya pencegahan agar pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab tidak menyalahgunakan identitas digitalnya.
Kasus Berawal dari Temuan Mahasiswa Oxford
Kasus ini pertama kali mencuat ke publik berkat pengungkapan yang dilakukan oleh Wa Ode Dwi Daningrat, seorang mahasiswa program doktoral asal Indonesia yang sedang menempuh studi di University of Oxford. Dwi, melalui akun Instagram pribadinya, membagikan temuannya mengenai sejumlah kejanggalan yang ia amati selama mengikuti konferensi ISPPD 2026 di Copenhagen, Denmark, yang berlangsung pada tanggal 17 hingga 21 Mei 2026.
Awalnya, Dwi menghadiri sesi presentasi dari dua peserta yang berasal dari Indonesia, menampilkan nama "Dimas" dan "Riana". Namun, setelah mencermati abstrak penelitian dan mendengarkan presentasi yang disampaikan, Dwi menemukan beberapa hal yang dianggap janggal dan tidak lazim dalam praktik penelitian ilmiah internasional.
Salah satu poin keanehan yang diangkat adalah klaim pengumpulan data primer di wilayah Pegunungan Andes, Peru, tanpa melibatkan kolaborator lokal. Dwi menjelaskan bahwa dalam penelitian berskala internasional, praktik seperti ini hampir tidak mungkin dilakukan tanpa adanya izin resmi, jaringan kerja sama yang kuat, serta dukungan dari peneliti setempat.
Lebih lanjut, Dwi juga mempertanyakan penggunaan data vaksin PCV20 di Indonesia. Ia mengemukakan bahwa program vaksinasi nasional di Indonesia saat ini masih menggunakan PCV13. Oleh karena itu, kemunculan data terkait PCV20 dalam sebuah penelitian dianggap perlu ditelusuri lebih mendalam untuk memastikan validitasnya.
Kecurigaan Dwi semakin bertambah ketika ia menyaksikan seorang pemateri perempuan tampil dalam dua sesi presentasi yang berbeda, namun dengan identitas yang berbeda pula. Dalam satu sesi, perempuan tersebut memperkenalkan diri sebagai "Riana Dwi Kurniawati". Namun, selang sekitar sepuluh menit kemudian, pada sesi yang lain, orang yang sama disebut memperkenalkan diri dengan nama "Dimas Fajar Prasetyo".
Melalui penelusuran lebih lanjut, Dwi mendapati bahwa sosok yang sebenarnya tampil dalam kedua sesi tersebut bernama Prihantini. Nama Prihantini diketahui memang tercantum sebagai salah satu penulis dalam beberapa penelitian lain yang turut ditampilkan dalam konferensi yang sama.
Temuan ini sontak memicu diskusi luas di kalangan komunitas akademisi dan masyarakat umum. Perbincangan tersebut berfokus pada isu integritas publikasi ilmiah, validitas data penelitian, serta krusialnya verifikasi identitas peneliti dalam forum-forum akademik berskala internasional.
Menyikapi hal ini, BRIN menyatakan harapan agar klarifikasi yang telah disampaikan oleh Dimas Fajar Prasetyo dapat meluruskan informasi yang beredar di publik. Hal ini juga diharapkan dapat mencegah terjadinya kesalahpahaman lebih lanjut mengenai keterlibatan Dimas Fajar Prasetyo dalam kasus yang sedang menjadi sorotan ini.









Tinggalkan komentar