1,3 Juta Anak Indonesia Terancam: Bahaya Gagal Imunisasi dan Ancaman KLB PD3I

Kilas Rakyat

29 Maret 2025

3
Min Read

Imunisasi merupakan kunci utama dalam memperkuat layanan kesehatan primer dan mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I). Sayangnya, pemahaman dan penerimaan masyarakat Indonesia terhadap manfaat imunisasi masih belum sepenuhnya optimal. Data menunjukkan angka yang mengkhawatirkan terkait anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI periode 2019-2023, Indonesia menempati peringkat keenam tertinggi dengan 1.356.367 anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk penolakan orang tua, ketidaksesuaian jadwal, kekhawatiran efek samping, dan kurangnya pemahaman akan pentingnya imunisasi.

Faktor Penolakan Imunisasi

Beberapa alasan penolakan imunisasi yang paling umum antara lain: kekhawatiran akan efek samping suntikan ganda (38%), jadwal imunisasi yang tidak sesuai (18%), dan kurangnya informasi mengenai jadwal imunisasi (23%). Selain itu, ada pula penolakan dari keluarga (47%) dan anggapan bahwa imunisasi tidak penting (22%). Angka-angka ini menunjukkan urgensi peningkatan edukasi publik mengenai manfaat imunisasi.

Kurangnya pemahaman masyarakat tentang manfaat imunisasi merupakan masalah serius yang berpotensi meningkatkan risiko KLB PD3I. Anak-anak yang tidak mendapatkan imunisasi menjadi rentan terhadap berbagai penyakit berbahaya yang sebenarnya dapat dicegah.

Pentingnya Imunisasi: Pendapat Para Ahli

Imunisasi merupakan pilar penting dalam perkembangan optimal anak, bersama dengan asuh (nutrisi dan perawatan kesehatan), asih (kasih sayang), dan asah (stimulasi otak). Meskipun lingkungan terlihat bersih dan anak tampak sehat, imunisasi tetap sangat penting untuk perlindungan jangka panjang.

Para ahli dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa imunisasi adalah investasi untuk generasi masa depan. Mereka mendorong orang tua untuk memberikan imunisasi lengkap kepada anak-anak mereka sebagai bentuk perlindungan dari penyakit berbahaya.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan fatwa yang mendukung imunisasi, menyatakan bahwa imunisasi sesuai dengan prinsip Islam yang mengutamakan kemaslahatan dan pencegahan bahaya (madharat). Vaksin yang digunakan harus halal dan suci. Namun, jika tidak ada vaksin halal dan risiko penyakit mengancam nyawa atau menyebabkan kecacatan permanen, maka imunisasi hukumnya wajib.

Upaya Pemerintah dalam Meningkatkan Cakupan Imunisasi

Dalam rangka memperingati 50 tahun program Expanded Program on Immunization (EPI), Indonesia mengkampanyekan “Ayo Lengkapi Imunisasi, Generasi Sehat Menuju Indonesia Emas”. Pemerintah meluncurkan inovasi Sepekan Mengejar Imunisasi (PENARI) untuk meningkatkan cakupan imunisasi secara nasional.

Program PENARI diterapkan serentak di seluruh pos layanan imunisasi. Upaya ini bertujuan untuk menjangkau anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi dasar dan mengejar ketertinggalan cakupan imunisasi nasional. Sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat juga terus digencarkan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya imunisasi.

Jadwal Imunisasi Rutin

Berikut jadwal imunisasi rutin lengkap yang direkomendasikan:

  • Usia < 24 jam: Hepatitis B (HB0)
  • Usia < 1 bulan: BCG, OPV1
  • Usia 2 bulan: DPT-HB-Hib1, OPV2, PCV1, RV1
  • Usia 3 bulan: DPT-HB-Hib2, OPV3, PCV2, RV2
  • Usia 4 bulan: DPT-HB-Hib3, OPV4, IPV1, RV3
  • Usia 9 bulan: Campak-Rubella, IPV2
  • Usia 10 bulan: JE (hanya di daerah endemis)
  • Usia 12 bulan: PCV3
  • Usia 18 bulan: Campak-Rubella 2, DPT-HB-Hib 4
  • Kelas 1: Campak-Rubella, DT
  • Kelas 2: Td
  • Kelas 5: Td, HPV (hanya untuk anak perempuan)
  • Kelas 6: HPV (hanya untuk anak perempuan)
  • WUS: Td (lengkap s.d. T5 setelah skrining)
  • Remaja, Dewasa, dan Lansia: COVID-19 (remaja dengan obesitas berat, dewasa dengan komorbid)

Pemerintah berharap dengan berbagai upaya ini, masyarakat dapat memahami pentingnya imunisasi dan mendukung program imunisasi nasional untuk menciptakan generasi yang sehat dan kuat.

Informasi lebih detail mengenai jenis vaksin, efek samping, dan tempat mendapatkan imunisasi dapat diperoleh dari petugas kesehatan di puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat.

Tinggalkan komentar


Related Post