Penyelenggaraan SEA Games 2025 di Thailand kembali diwarnai isu tak sedap yang beredar di media sosial. Kabar mengenai potensi penutupan venue cabang olahraga petanque menjadi sorotan utama, menyusul dugaan penunggakan pembayaran sewa oleh panitia penyelenggara. Isu ini dengan cepat menyebar, menimbulkan kekhawatiran terkait kesiapan Thailand sebagai tuan rumah ajang olahraga bergengsi se-Asia Tenggara ini.
Namun, kabar tersebut segera mendapat respons dari berbagai pihak terkait. Baik panitia SEA Games 2025 (SAT) maupun pihak Universitas Rajabhat Valaya Alongkorn, tempat venue petanque berada, kompak membantah kebenaran isu tersebut. Mereka menegaskan bahwa tidak ada masalah serius yang mengancam kelangsungan penggunaan venue.
Isu Penutupan Venue Petanque
Isu ini mencuat setelah beredar informasi bahwa universitas memberikan tenggat waktu kepada SAT untuk melunasi uang deposit. Kabar tersebut juga menyebutkan adanya selisih biaya operasional yang belum dibayarkan, yang diperkirakan mencapai 400.000 hingga 500.000 baht. Hal ini memicu spekulasi bahwa venue petanque terancam ditutup jika pembayaran tidak segera diselesaikan.
Tanggapan Resmi dari SAT
Menanggapi isu tersebut, Wakil Direktur SAT, Preecha Lalun, memberikan klarifikasi. Ia menekankan bahwa tidak ada tunggakan pembayaran yang disengaja oleh pihak panitia.
“Tidak ada masalah. Kami hanya menunggu berkas resmi agar pembayaran bisa dilakukan sesuai aturan. Kami sudah sepakat bahwa proses administrasi akan selesai sebelum 31 Desember,” kata Preecha.
Preecha menjelaskan bahwa penundaan pembayaran disebabkan oleh proses administrasi yang masih berlangsung. SAT menunggu dokumen resmi berupa rincian biaya dan penawaran harga dari pihak universitas, sesuai prosedur yang berlaku di Thailand.
Selain itu, SAT juga telah mengirimkan surat resmi kepada Universitas Rajabhat Valaya Alongkorn pada 5 Desember. Surat tersebut bertujuan untuk memperjelas prosedur kerja sama dan memastikan seluruh tahapan penggunaan venue berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Dalam surat itu, SAT kembali menegaskan komitmen mereka untuk menyelesaikan pembayaran tepat waktu.
Pernyataan dari Rektor Universitas
Pihak universitas juga turut memberikan klarifikasi terkait isu yang beredar. Rektor Universitas Rajabhat Valaya Alongkorn, Prof. Dr. Sombat Katsisit, membantah bahwa pihaknya pernah meminta deposit atau mengancam akan menutup venue.
Berikut adalah pernyataan langsung dari Rektor Sombat:
“Universitas tidak pernah meminta uang muka. Kami tidak pernah menghalangi atau melarang penggunaan venue. Kami justru bekerja sama sejak awal demi mendukung SEA Games 2025,”
Sombat menambahkan bahwa kesalahpahaman ini muncul karena adanya miskomunikasi. Pihak universitas, menurutnya, terus berkoordinasi dengan panitia penyelenggara. Ia juga menjelaskan bahwa persiapan venue, termasuk perbaikan fasilitas, telah selesai dan hanya menunggu kelengkapan dokumen administratif dari kedua belah pihak.
Kesimpulan Singkat
* Isu penutupan venue petanque SEA Games 2025 di Thailand tidak benar.
* Pembayaran tertunda karena menunggu dokumen administrasi resmi dari universitas.
* Rektor universitas membantah adanya ancaman penutupan dan mendukung penuh persiapan SEA Games 2025.









Tinggalkan komentar