Rudal Serang Sekolah Minab: Trump Salahkan Iran, Bellingcat Ungkap Bukti AS

9 Maret 2026

4
Min Read

Insiden tragis di Minab, Iran, yang merenggut ratusan nyawa warga sipil, termasuk anak-anak, memunculkan dua narasi kontradiktif mengenai pelaku serangan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan rudal yang menghantam Sekolah Dasar Shajareh Tayyebeh. Namun, analisis mendalam oleh organisasi riset independen, Bellingcat, justru mengarah pada kemungkinan keterlibatan Amerika Serikat.

Serangan yang terjadi pada 28 Februari 2026 ini menghancurkan sebuah kompleks pendidikan di Provinsi Hormozgan, Iran. Laporan awal menyebutkan bahwa jumlah korban tewas berkisar antara 168 hingga 180 orang. Sebagian besar korban adalah siswi sekolah dasar, para pendidik, serta warga sipil yang berada di sekitar lokasi kejadian. Peristiwa ini menjadi salah satu insiden dengan korban sipil terbanyak di tengah meningkatnya ketegangan militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah.

Trump: Rudal Iran Tidak Akurat, Salahkan Teheran

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam keterangannya kepada awak media di Air Force One, menyampaikan dugaan kuat bahwa rudal yang menghantam sekolah di Minab berasal dari Iran. Ia berargumen bahwa rudal Iran memiliki tingkat akurasi yang rendah.

"Berdasarkan apa yang saya lihat, itu dilakukan oleh Iran. Mereka sangat tidak akurat dengan munisi mereka," ujar Trump, mengutip laporan dari US Today. Pernyataan ini senada dengan pandangan beberapa pejabat Amerika Serikat. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, menambahkan bahwa Iran memiliki rekam jejak serangan yang tidak presisi. Ia memastikan bahwa penyelidikan internal masih terus dilakukan untuk memperjelas kronologi peristiwa tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat secara konsisten menyatakan bahwa operasi militer mereka di kawasan tersebut ditujukan untuk menargetkan fasilitas militer Iran, bukan infrastruktur sipil. Penegasan ini muncul sebagai respons terhadap tudingan yang mengarah pada militer AS.

Analisis Bellingcat: Bukti Visual Menunjuk Arah Berbeda

Namun, narasi yang dilontarkan oleh pemerintah Amerika Serikat mulai dipertanyakan setelah organisasi investigasi open-source, Bellingcat, merilis hasil analisis mereka terhadap sebuah video yang beredar luas di media Iran. Video tersebut, yang pertama kali dipublikasikan oleh kantor berita Mehr News Agency, merekam momen detik-detik sebuah rudal menghantam kompleks militer di Minab.

Tim Bellingcat melakukan verifikasi mendalam, meliputi geolokasi lokasi kejadian, analisis visual yang cermat, serta pencocokan dengan rekaman lain dari insiden pengeboman di sekitar Minab. Hasil analisis mereka mengindikasikan bahwa rudal yang terlihat dalam video memiliki karakteristik yang sangat mirip dengan Tomahawk Land Attack Missile (TLAM). TLAM adalah jenis rudal jelajah yang diproduksi oleh Amerika Serikat.

Menurut Bellingcat, rudal Tomahawk memiliki ciri khas pada bentuknya, pola penerbangannya, serta karakteristik ledakan yang spesifik. Tim riset ini menemukan kesamaan yang mencolok antara rekaman video serangan tersebut dengan rekaman serangan lain di wilayah Minab. Serangan-serangan sebelumnya tersebut diklaim sebagai bagian dari operasi militer Amerika Serikat.

Kedekatan Lokasi dan Dampak Kemanusiaan

Investigasi Bellingcat juga mengungkap fakta penting mengenai kedekatan Sekolah Shajareh Tayyebeh dengan fasilitas militer Iran. Sekolah tersebut berjarak sekitar 600 meter dari kompleks Angkatan Laut IRGC (Islamic Revolutionary Guard Corps), yang dikenal dengan nama Sayyid al-Shuhada. Fasilitas militer ini diduga menjadi salah satu target dalam operasi tersebut.

Citra satelit yang diperoleh dari Planet Labs memperlihatkan adanya kerusakan yang presisi di beberapa titik. Kerusakan tersebut mencakup bangunan sekolah, fasilitas medis di sekitarnya, dan bahkan area bunker militer. Hal ini mengindikasikan bahwa serangan tersebut mengenai sasaran yang spesifik.

Sejumlah media internasional terkemuka, termasuk The New York Times, CNN, dan Reuters, turut melaporkan kemungkinan bahwa serangan tersebut merupakan bagian dari operasi militer yang menargetkan fasilitas IRGC. Namun, kedekatan lokasi target dengan area sipil tak terhindarkan menimbulkan dampak kemanusiaan yang sangat fatal bagi warga yang tinggal di sekitarnya.

Pemerintah Iran secara tegas mengecam keras insiden ini, menyebutnya sebagai tindakan pembantaian terhadap warga sipil tak berdosa. Teheran menuntut pertanggungjawaban internasional dan mendesak dilakukannya penyelidikan independen terhadap serangan tersebut.

Menanggapi situasi yang memprihatinkan ini, berbagai organisasi hak asasi manusia dan lembaga internasional juga telah menyerukan investigasi lebih lanjut. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) serta kelompok advokasi seperti Human Rights Watch meminta klarifikasi mendesak mengenai apakah serangan tersebut telah melanggar hukum humaniter internasional. Peristiwa ini memicu kekhawatiran global mengenai perlindungan warga sipil dalam konflik bersenjata.

Tinggalkan komentar


Related Post