Toko Roti Idjo di Kudus, Jawa Tengah, bukanlah sekadar toko roti biasa. Lebih dari sekadar tempat berjualan roti, toko ini menyimpan kisah sejarah yang kaya dan menarik, terjalin erat dengan perjuangan melawan penjajahan Belanda.
Berdiri sejak tahun 1930, bangunan kuno Toko Roti Idjo di Taman Bojana, Jalan Sunan Muria, masih kokoh berdiri hingga kini. Meskipun warna hijaunya mungkin telah memudar seiring waktu, arsitekturnya yang unik tetap dikenali sebagai salah satu toko roti tertua di Kudus.
Sejarah Toko Roti Idjo: Dari Toko Kelontong hingga Legenda Roti
Awalnya, toko ini bukanlah toko roti. Generasi kedua, Wibisono Prasetyo, menceritakan bahwa Toko Roti Idjo bermula sebagai toko kelontong. Toko tersebut berperan penting dalam membantu para pejuang kemerdekaan, khususnya Pejuang Macan Putih.
Pemilik toko kelontong, Thio Ma Ay, secara diam-diam menyuplai bahan makanan penting kepada para pejuang melalui toko yang didominasi warna hijau ini. Tepung, bahan makanan lainnya, bahkan layanan laundry tersedia di toko tersebut.
Perubahan signifikan terjadi sekitar tahun 1931 ketika Thio Ma Ay menikah dengan Tee Po Nio, putri pemilik pabrik roti Kim Boen di Rembang. Pernikahan ini menandai peralihan fungsi toko kelontong menjadi Toko Roti Idjo.
Nama “Idjo” sendiri diambil dari warna hijau yang mendominasi cat toko pada saat itu. Dengan keahlian Tee Po Nio di bidang roti, toko ini pun mulai memproduksi dan menjual aneka roti.
Aneka Roti Tradisional dan Resep Legendaris
Toko Roti Idjo tidak hanya terkenal dengan roti-rotinya, tetapi juga dengan berbagai kue dan makanan tradisional. Klepon, onde-onde, serabi, dan apem menjadi beberapa jajanan yang ikut meramaikan deretan produknya.
Resep-resep tradisional yang diwariskan turun-temurun menjadi kunci keberhasilan Toko Roti Idjo mempertahankan rasa dan kualitas produknya. Oven batu dan penggunaan bahan-bahan alami tanpa pengawet menjadi ciri khas dalam proses pembuatannya.
Keunikan ini menarik banyak pelanggan, bahkan dari luar daerah Kudus, yang rela datang untuk merasakan kelezatan roti dan jajanan tradisional dengan cita rasa yang tak lekang oleh waktu.
Generasi Penerus dan Keberlanjutan Bisnis Keluarga
Toko Roti Idjo dikelola oleh generasi pertama hingga tahun 2008. Wibisono Prasetyo, generasi kedua, kemudian meneruskan usaha keluarga setelah kembali dari Jerman. Ia bahkan sempat ke Belanda untuk membeli mesin roti dan mendirikan tempat produksi baru.
Kini, Toko Roti Idjo telah berkembang dengan dua cabang di Jalan Ahmad Yani dan Taman Bojana, serta satu tempat produksi di Jalan Pemuda. Sejumlah karyawan pun telah bekerja puluhan tahun di toko ini, menunjukkan loyalitas dan ikatan emosional yang kuat.
Generasi ketiga, Stefanus Prasetyo, bersama istrinya, Cecilia Tiono, terus melanjutkan tradisi tersebut sejak tahun 2020. Mereka berkomitmen untuk mempertahankan kualitas, rasa, dan sejarah yang melekat pada Toko Roti Idjo.
Wibisono, kini berusia 73 tahun, berharap agar Toko Roti Idjo dapat tetap lestari dan diwariskan kepada generasi selanjutnya. Baginya, Toko Roti Idjo bukan hanya bisnis, tetapi juga warisan sejarah dan budaya yang berharga.
Testimoni dari pelanggan setia seperti Cik Tek Kyo (65) yang telah mengenal Toko Roti Idjo sejak kecil, semakin mengukuhkan reputasi toko roti legendaris ini. Rasa yang konsisten, proses pembuatan tradisional, dan cita rasa nostalgia yang ditawarkan menjadi daya tarik utama.
Toko Roti Idjo bukan sekadar tempat membeli roti, tetapi juga destinasi untuk merasakan sepotong sejarah, menikmati kelezatan kuliner tradisional, dan mengalami kehangatan dari suatu bisnis keluarga yang telah berkembang selama hampir satu abad.









Tinggalkan komentar