Konflik dalam organisasi sering kali dipandang sebagai hal negatif yang merusak lingkungan kerja dan menghambat produktivitas. Pandangan ini berakar pada pendapat tradisional yang menganggap konflik sebagai hasil disfungsional dari adanya kerenggangan antara individu atau kelompok. Salah satu teoritis yang terkenal dengan pandangan ini adalah Robbin.
Menurut Robbin, konflik adalah fenomena disfungsional yang muncul dari adanya persaingan sumber daya, perbedaan tujuan, perbedaan persepsi dan nilai, serta adanya perasaan tidak-berkeadilan. Dalam bidang kerja atau organisasi, konflik bisa berdampak pada penurunan moral kerja, penurunan kepuasan kerja, maupun peningkatan tingkat stres. Itulah sebabnya, konflik sebisa mungkin harus dihindari atau diselesaikan sebelum menimbulkan kerugian yang lebih besar.
Namun, seiring dengan perkembangan pemikiran dalam bidang manajemen, pandangan tentang konflik mulai berubah. Beberapa teoritis modern berpendapat bahwa konflik tidak selalu buruk dan bisa menjadi motor penggerak perubahan dalam organisasi. Misalnya, konflik bisa mendorong inovasi dan kreativitas, memperjelas peran dan tanggung jawab, serta dapat menjadi alat untuk mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah.
Dalam hal ini, melihat konflik sebagai sesuatu yang disfungsional mungkin hanya menggarisbawahi satu aspek negatif konflik. Di sisi lain, peran konflik sebagai katalis perubahan juga penting untuk diakui. Dengan demikian, pendapat Robbin tentang konflik bisa dilihat sebagai salah satu pandangan dalam spectrum luas pemikiran tentang konflik yang ada.
Dengan kata lain, konflik bukanlah sesuatu yang selalu negatif dan perlu dihindari. Sebaliknya, dengan manajemen yang baik, konflik bisa menjadi sumber perubahan dan inovasi. Apa yang perlu dilakukan adalah mengenali dan memahami konflik, serta mencari cara untuk mengelolanya dengan efektif. Ini penting untuk memastikan bahwa konflik bisa menjadi dorongan positif bagi perkembangan organisasi, bukan menjadi hambatan.








Tinggalkan komentar