Ribuan Orang Jual Identitas Demi Latih AI, Berapa Bayarannya?

23 Maret 2026

6
Min Read

Fenomena baru tengah merebak: orang rela menjual data identitas diri mereka demi melatih kecerdasan buatan (AI). Imbalan berupa dolar menarik banyak pihak, meskipun risiko besar membayangi. Sebuah tren yang mengejutkan sekaligus mengkhawatirkan ini membuka tabir baru dalam dunia digital yang semakin terhubung.

Di tengah derasnya perkembangan teknologi AI, kebutuhan akan data berkualitas untuk melatih model-model canggih semakin mendesak. Namun, sumber data konvensional mulai menemui batasnya. Inilah yang membuka peluang bagi individu untuk memonetisasi aset digital mereka, termasuk identitas pribadi. Lantas, berapa harga yang pantas untuk sebuah identitas di era digital ini, dan apa dampaknya bagi mereka yang terlibat?

Fenomena "Data Gig" AI: Ladang Cuan Baru dari Identitas Pribadi

Di berbagai belahan dunia, ribuan orang kini secara aktif berpartisipasi dalam apa yang disebut sebagai "data gig" untuk AI. Mereka mengunggah berbagai bentuk data pribadi, mulai dari rekaman video aktivitas sehari-hari hingga percakapan telepon, demi mendapatkan imbalan finansial.

Salah satu contohnya adalah Jacobus Louw, seorang pria berusia 27 tahun di Cape Town, Afrika Selatan. Ia mendapatkan sekitar USD 14 (sekitar Rp 230.000) hanya dengan merekam video kakinya saat berjalan di trotoar dan pemandangan sekitarnya. Jumlah tersebut setara dengan sepuluh kali upah minimum di negaranya, dan cukup untuk memenuhi kebutuhan belanja selama setengah minggu.

Louw menemukan kesempatan ini melalui Kled AI, sebuah aplikasi yang menghargai kontributor dengan mengunggah data, seperti video dan foto, untuk keperluan pelatihan AI. Dalam beberapa minggu, Louw berhasil mengumpulkan USD 50 (sekitar Rp 800.000) hanya dengan membagikan cuplikan kehidupan sehari-harinya.

Fenomena serupa juga terjadi di Ranchi, India. Sahil Tigga, seorang siswa berusia 22 tahun, secara rutin mendapatkan penghasilan dari Silencio. Platform ini mengumpulkan data audio untuk pelatihan AI dengan cara mengakses mikrofon ponsel pengguna. Sahil merekam berbagai kebisingan kota, seperti suasana restoran atau lalu lintas di persimpangan yang ramai.

Tidak hanya itu, Sahil juga merekam suaranya sendiri dan melakukan perjalanan khusus untuk mengabadikan suasana unik di tempat-tempat yang belum terdokumentasikan, seperti lobi hotel. Usahanya ini membuahkan hasil lebih dari USD 100 (sekitar Rp 1,6 juta) per bulan, yang cukup untuk menutupi seluruh biaya makannya.

Sementara itu, di Chicago, Ramelio Hill, seorang pekerja berusia 18 tahun, berhasil meraup ratusan dolar dengan menjual rekaman percakapan telepon pribadinya dengan teman dan keluarga ke Neon Mobile. Platform pelatihan AI percakapan ini menawarkan bayaran USD 0,50 per menit untuk setiap rekaman yang diunggah.

Kebutuhan Mendesak Data Berkualitas Mendorong Pasar "Jual-Beli" Identitas

Pertumbuhan pesat model bahasa AI, seperti ChatGPT dan Gemini, sangat bergantung pada ketersediaan materi pembelajaran dalam jumlah masif. Namun, kini mereka menghadapi kelangkaan data segar berkualitas tinggi. Sumber data pelatihan utama yang selama ini diandalkan, seperti C4, RefinedWeb, dan Dolma, yang mencakup seperempat dari kumpulan data web terbaik, mulai membatasi akses bagi perusahaan AI generatif.

Para peneliti memprediksi bahwa perusahaan AI akan kehabisan teks segar berkualitas tinggi untuk melatih model mereka pada tahun 2026. Kondisi ini memaksa beberapa laboratorium AI untuk beralih menggunakan data sintetis yang dihasilkan oleh AI itu sendiri. Namun, metode rekursif ini berpotensi menimbulkan kesalahan fatal pada model AI yang dihasilkan.

Di sinilah peran aplikasi seperti Kled AI dan Silencio menjadi krusial. Di pasar data yang sedang berkembang pesat ini, jutaan orang secara aktif memonetisasi aset identitas mereka untuk memberi makan dan melatih AI. Selain Kled AI, Silencio, dan Neon Mobile, terdapat berbagai platform lain yang menawarkan kesempatan bagi para "pelatih AI". Luel AI, yang didukung oleh inkubator startup ternama Y-Combinator, menyediakan percakapan multibahasa dengan biaya sekitar USD 0,15 per menit. ElevenLabs bahkan memungkinkan pengguna untuk mengkloning suara mereka secara digital dan membiarkan orang lain menggunakannya dengan biaya dasar USD 0,02 per menit.

Bouke Klein Teeselink, seorang profesor ekonomi di King’s College London, menyatakan bahwa "Pelatihan Gig AI" merupakan kategori pekerjaan baru yang sedang berkembang pesat dan diprediksi akan mengalami pertumbuhan substansial.

Perusahaan AI menyadari bahwa membayar individu untuk melisensikan data mereka merupakan strategi yang efektif untuk menghindari potensi sengketa hak cipta yang mungkin timbul jika mereka hanya bergantung pada konten yang diambil dari internet. Veniamin Veselovsky, seorang peneliti AI, menambahkan bahwa perusahaan-perusahaan ini juga membutuhkan data berkualitas tinggi untuk memodelkan perilaku baru dengan lebih baik dalam sistem mereka.

"Data manusia, untuk saat ini, adalah standar terbaik untuk mengambil sampel di luar distribusi model," ujar Veselovsky. Hal ini menunjukkan bahwa sentuhan dan nuansa manusiawi dalam data masih menjadi elemen tak tergantikan dalam pengembangan AI.

Penyesalan Muncul di Balik Cuan Dolar: Kasus Adam Coy

Meskipun menawarkan potensi penghasilan yang menggiurkan, pengalaman menjual data identitas untuk pelatihan AI tidak selalu berakhir manis. Beberapa individu akhirnya merasakan penyesalan mendalam setelah menyadari potensi penyalahgunaan data mereka.

Adam Coy, seorang aktor asal New York, menjual citra dirinya pada tahun 2024 seharga USD 1.000 (sekitar Rp 16 juta) kepada Captions, sebuah editor video berbasis AI yang kini berganti nama menjadi Mirage. Perjanjian yang disepakati mencakup klausul bahwa identitasnya tidak akan digunakan untuk tujuan politik, penjualan alkohol, tembakau, atau pornografi, serta lisensinya akan kedaluwarsa dalam satu tahun.

Namun, tak lama setelah perjanjian tersebut, teman-teman Adam mulai mengiriminya tautan video yang viral di internet, menampilkan wajah dan suaranya. Video-video tersebut mendapatkan jutaan penayangan. Dalam salah satu video di Instagram, replika AI dari Adam bahkan mengaku sebagai ‘dokter vagina’ dan mempromosikan suplemen medis yang belum terbukti khasiatnya untuk wanita hamil dan pasca melahirkan.

"Rasanya memalukan harus menjelaskannya kepada orang-orang," ungkap Coy dengan nada getir. Ia menambahkan, "Komentar-komentar itu aneh dibaca karena mengomentari penampilan fisik saya, tetapi sebenarnya bukan saya."

Coy mengaku bahwa keputusannya untuk menjual data serupa kala itu didasari oleh pemikiran bahwa banyak model AI akan mencari data serupa di internet. Ia berpikir, "daripada diambil tanpa izin, lebih baik saya dibayar untuk itu."

Sejak insiden tersebut, Adam Coy belum pernah lagi mendaftar untuk pekerjaan data gig AI. Ia menyatakan hanya akan mempertimbangkannya kembali jika ada perusahaan yang menawarkan kompensasi yang sangat besar dan jaminan keamanan data yang lebih ketat.

Pihak Captions sendiri tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait kasus ini. Kejadian yang dialami Adam Coy menjadi peringatan keras tentang potensi risiko yang dihadapi individu ketika data identitas pribadi mereka diperdagangkan di pasar digital yang semakin kompleks.

Implikasi Etis dan Masa Depan Pelatihan AI

Fenomena ini menimbulkan berbagai pertanyaan etis yang mendalam. Sejauh mana batasan privasi yang bisa dikompromikan demi kemajuan teknologi? Bagaimana perlindungan data pribadi dapat diperkuat di tengah maraknya platform yang memfasilitasi perdagangan data identitas?

Perkembangan AI yang pesat memang tak terhindarkan, namun prosesnya harus tetap berjalan di koridor etika dan hukum yang berlaku. Keterbukaan informasi mengenai penggunaan data, serta perlindungan yang kuat bagi para penyedia data, menjadi kunci untuk memastikan bahwa kemajuan AI tidak mengorbankan hak-hak individu.

Kisah-kisah seperti Jacobus Louw, Sahil Tigga, dan Adam Coy memberikan gambaran nyata tentang realitas di balik layar pengembangan AI. Mereka menunjukkan bahwa di balik algoritma canggih dan aplikasi inovatif, terdapat individu-individu yang rela memonetisasi bagian dari diri mereka demi memenuhi kebutuhan data yang terus meningkat. Masa depan AI sangat bergantung pada keseimbangan antara inovasi teknologi dan perlindungan nilai-nilai kemanusiaan.

Tinggalkan komentar


Related Post