Jakarta – Gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) kembali melanda industri teknologi global. Kali ini, raksasa teknologi Oracle dilaporkan melakukan PHK signifikan terhadap ribuan karyawannya. Langkah ini diambil bersamaan dengan investasi besar-besaran perusahaan pada pengembangan kecerdasan buatan (AI).
Michael Shepherd, seorang manajer senior di Oracle yang kebetulan tidak terdampak langsung oleh PHK, membagikan informasi mengejutkan melalui platform LinkedIn. Ia mengungkapkan bahwa posisi-posisi penting seperti engineer senior, arsitek, pemimpin operasi, manajer program, dan spesialis teknis turut menjadi korban dari pengurangan tenaga kerja ini.
Yang lebih mencengangkan, Shepherd mengklaim bahwa PHK ini tidak didasarkan pada evaluasi kinerja individu. Hingga kini, Oracle masih enggan memberikan komentar resmi mengenai detail PHK ini, termasuk jumlah pasti karyawan yang diberhentikan. Namun, indikasi kuat menunjukkan bahwa penggunaan teknologi AI secara internal oleh Oracle telah memungkinkan efisiensi operasional yang lebih tinggi.
"Penggunaan alat pengkodean AI di dalam Oracle memungkinkan tim teknik yang lebih kecil untuk memberikan solusi yang lebih lengkap kepada pelanggan kami dengan lebih cepat," ujar Mike Silicia, co-chief executive Oracle, seperti dikutip dari BBC. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa AI bukan hanya alat bantu, tetapi juga berpotensi menggantikan peran manusia dalam beberapa aspek pekerjaan.
Transformasi Bisnis dan Dampak AI di Oracle
Oracle dikenal sebagai salah satu pemain terbesar dalam industri teknologi, menyediakan perangkat lunak dan infrastruktur komputasi awan (cloud) bagi berbagai perusahaan. Co-chief executive Oracle, Mike Silica, menjelaskan bagaimana alat AI dimanfaatkan untuk menciptakan metode baru dalam menghasilkan prospek penjualan dan layanan secara otomatis. Bahkan, AI juga berperan dalam proses pembuatan ulang situs web perusahaan.
Sebuah sumber internal yang enggan disebutkan namanya memperkirakan bahwa sekitar 10.000 orang telah kehilangan pekerjaan di Oracle sejauh ini. Perkiraan ini didasarkan pada penurunan jumlah staf yang aktif dalam sistem pesan internal perusahaan, Slack. Michael Shepherd memperkuat dugaan ini dengan menyatakan bahwa pengurangan tenaga kerja yang masif ini tidak terkait dengan performa karyawan.
"Individu-individu terdampak tidak diberhentikan karena apa pun yang mereka lakukan atau tidak lakukan," tegas Shepherd dalam unggahannya, yang merupakan salah satu dari puluhan keluhan serupa yang muncul di media sosial. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai keadilan proses PHK yang dilakukan.
Beberapa karyawan yang terkena dampak melaporkan menerima pemberitahuan pemutusan hubungan kerja melalui email yang dikirim pada dini hari. Dalam email tersebut, mereka diinformasikan bahwa kontrak kerja mereka telah berakhir dan akan menerima pesangon setara dengan satu bulan gaji. Pengalaman pahit ini tentu saja meninggalkan luka mendalam bagi para pekerja yang telah mengabdikan diri.
Tren PHK di Sektor Teknologi dan Investasi AI
Pembicaraan mengenai potensi PHK besar-besaran di Oracle sebenarnya telah beredar sejak awal tahun ini. Fenomena ini bukanlah hal baru di industri teknologi. Sejumlah perusahaan teknologi ternama lainnya juga telah melakukan pemangkasan karyawan sepanjang tahun ini, termasuk raksasa e-commerce Amazon, platform media sosial Pinterest, dan pengembang game Epic Games.
PHK yang terjadi di Oracle ini terjadi di tengah komitmen perusahaan untuk berinvestasi secara besar-besaran pada teknologi kecerdasan buatan. Investasi ini mencakup pengembangan infrastruktur AI internal serta kemitraan strategis dengan perusahaan-perusahaan terkemuka di bidang AI, seperti OpenAI.
Oracle berencana mengalokasikan setidaknya 50 miliar dolar Amerika Serikat (USD) untuk pengembangan infrastruktur pada tahun ini. Dana ini sebagian besar akan dipenuhi melalui penerbitan utang senilai 50 miliar USD untuk memenuhi lonjakan permintaan infrastruktur AI. Upaya ini menunjukkan betapa pentingnya AI bagi masa depan Oracle dan bagaimana perusahaan bersiap untuk mendominasi pasar yang terus berkembang ini.
Lebih lanjut, Oracle turut menjadi bagian dari inisiatif "Stargate". Proyek ambisius ini merupakan kolaborasi antara Oracle dengan OpenAI, Softbank, dan MGX, sebuah dana investasi AI yang didukung oleh mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Proyek Stargate sendiri merupakan inisiatif senilai 500 miliar USD yang bertujuan untuk membangun kapasitas pusat data (data center) yang masif di Amerika Serikat. Para pendukung proyek ini meyakini bahwa peningkatan kapasitas pusat data ini sangat krusial untuk mendukung kebutuhan pemrosesan dan daya komputasi AI yang terus meningkat pesat dalam beberapa tahun mendatang. Pembangunan infrastruktur ini menjadi fondasi penting bagi kemajuan teknologi AI di masa depan.









Tinggalkan komentar