Posyandu Kembali Sebar Kental Manis, Gizi Balita Terancam?

Kilas Rakyat

11 Mei 2025

3
Min Read

Kesalahpahaman tentang susu kental manis masih terjadi di beberapa wilayah Indonesia. Di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, misalnya, banyak ibu yang keliru menganggap susu kental manis sebagai pengganti susu untuk anak-anak. Hal ini terungkap dari sebuah edukasi gizi yang diadakan Majelis Kesehatan (Makes) PP Aisyiyah.

Edukasi tersebut melibatkan 24 ibu dan balitanya. Petugas Puskesmas Pamijahan, Abdul Rojak, menjelaskan bahaya mengonsumsi susu kental manis sebagai pengganti susu formula atau ASI. Ia menunjukkan contoh iklan susu kental manis yang menyesatkan.

Kesalahpahaman yang Berbahaya

Hasilnya mengejutkan. Sebagian besar ibu peserta edukasi menyatakan bahwa mereka memberikan susu kental manis kepada anak-anaknya karena terpengaruh iklan yang seolah-olah menyarankan hal tersebut. Mereka kurang memahami kandungan gula yang tinggi di dalam susu kental manis, bahkan beberapa masih menambahkan gula lagi pada seduhannya.

Minimnya pemahaman gizi turut berperan. Banyak ibu yang tidak menyadari bahaya memberikan susu kental manis kepada anak, karena asupan gizinya tidak seimbang dan justru dapat menyebabkan obesitas atau masalah kesehatan lainnya. Kandungan gula yang berlebihan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.

Dampak Konsumsi Susu Kental Manis Berlebihan

Konsumsi susu kental manis berlebihan pada anak dapat mengakibatkan beberapa masalah kesehatan, di antaranya obesitas, kerusakan gigi, dan kekurangan nutrisi penting lainnya yang seharusnya didapatkan dari susu formula atau ASI. Pertumbuhan anak juga dapat terganggu karena asupan nutrisi yang tidak seimbang.

Obesitas pada anak dapat memicu berbagai penyakit kronis di masa depan, seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, dan masalah kesehatan lainnya. Oleh karena itu, penting untuk memberikan asupan nutrisi yang tepat dan seimbang sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan anak.

Kurangnya Edukasi Gizi

Salah satu peserta edukasi, Bella Saphira (25 tahun), mengaku baru mengetahui bahwa susu kental manis tidak boleh diberikan sebagai pengganti susu untuk anak. Sejak usia 8 bulan, ia telah memberikan susu kental manis kepada anaknya karena kurangnya informasi yang benar.

Lebih mengejutkan lagi, Bella juga menyebutkan bahwa di Posyandu, anaknya malah diberi susu kental manis sebagai bagian dari program pemberian makanan tambahan. Hal ini menunjukkan betapa minimnya edukasi gizi yang terintegrasi dalam program kesehatan di tingkat masyarakat.

Peristiwa ini menyoroti pentingnya peningkatan edukasi gizi untuk ibu-ibu, khususnya terkait pemilihan makanan dan minuman yang tepat untuk anak-anak. Pemerintah dan lembaga terkait perlu meningkatkan upaya sosialisasi dan edukasi gizi yang komprehensif dan mudah dipahami oleh masyarakat.

Peran Posyandu dan Pihak Terkait

Perlu adanya evaluasi terhadap program di Posyandu. Pemberian susu kental manis sebagai bagian dari program kesehatan jelas perlu dikaji ulang. Posyandu seharusnya berperan sebagai pusat informasi dan edukasi gizi yang memberikan arahan tepat kepada para ibu.

Selain itu, diperlukan kerja sama yang lebih baik antara petugas kesehatan, lembaga pendidikan, dan media massa dalam menyebarkan informasi gizi yang benar dan akurat kepada masyarakat. Hal ini penting untuk mencegah kesalahpahaman dan memastikan setiap anak mendapatkan nutrisi yang cukup untuk tumbuh kembang optimal.

Kampanye publik yang lebih intensif juga diperlukan untuk mengatasi miskonsepsi mengenai susu kental manis. Iklan yang menyesatkan perlu diawasi dan diatasi agar tidak lagi membingungkan masyarakat.

  • Peningkatan edukasi gizi di tingkat masyarakat.
  • Evaluasi program Posyandu terkait pemberian makanan tambahan.
  • Sosialisasi yang lebih intensif mengenai bahaya susu kental manis untuk anak.
  • Pemantauan dan pengawasan iklan yang menyesatkan.
  • Kerja sama lintas sektoral dalam penyebaran informasi gizi yang benar.
  • Tinggalkan komentar


    Related Post