PC Murah Terancam Hilang Akibat Lonjakan Biaya Memori

4 Maret 2026

6
Min Read

Perangkat komputasi personal (PC) di segmen harga terjangkau, khususnya yang dibanderol di bawah 500 dolar Amerika Serikat (sekitar Rp 7,8 juta dengan kurs Rp 15.600 per dolar AS), diprediksi akan menghilang dari pasar pada tahun 2028. Analisis mendalam dari firma riset teknologi terkemuka, Gartner, mengungkapkan bahwa lonjakan signifikan pada harga komponen memori, yang didorong oleh pesatnya perkembangan kecerdasan buatan (AI), membuat produksi perangkat murah menjadi tidak lagi ekonomis.

Kondisi ini menandai pergeseran lanskap teknologi yang patut diwaspadai. Perangkat yang selama ini menjadi pilihan utama bagi pelajar, pekerja ringan, dan pengguna umum untuk kebutuhan dasar komputasi, kini menghadapi ancaman kepunahan. Fenomena ini bukan hanya sekadar kenaikan harga, melainkan sebuah perubahan fundamental dalam struktur biaya produksi yang akan memengaruhi ketersediaan dan aksesibilitas teknologi bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Faktor Pendorong di Balik Krisis Memori

Gartner dalam laporan terbarunya memaparkan proyeksi yang mengkhawatirkan mengenai kenaikan biaya komponen memori. Biaya gabungan antara memori tipe DRAM (Dynamic Random-Access Memory) dan penyimpanan Solid-State Drive (SSD) diperkirakan akan melonjak drastis hingga mencapai 130% pada akhir tahun 2026. Kenaikan substansial ini akan berdampak langsung pada harga jual perangkat elektronik.

Lebih rinci, Gartner memprediksi bahwa harga PC secara global akan mengalami kenaikan rata-rata sebesar 17% dibandingkan dengan harga pada tahun 2025. Sementara itu, perangkat smartphone juga tidak luput dari imbasnya, dengan proyeksi kenaikan harga sekitar 13%. Kenaikan harga ini bukanlah sekadar penyesuaian kecil, melainkan sebuah lompatan yang akan membuat banyak konsumen berpikir ulang sebelum melakukan pembelian.

Dampak Terhadap Pengiriman Global

Lonjakan biaya produksi ini secara otomatis akan menekan volume pengiriman perangkat elektronik secara global. Gartner memperkirakan bahwa pengiriman PC secara global akan mengalami penurunan sebesar 10,4% pada tahun 2026. Sektor smartphone pun diprediksi akan mengalami kontraksi serupa, dengan penurunan pengiriman sebesar 8,4% pada periode yang sama.

Penurunan pengiriman ini mencerminkan realitas pasar di mana daya beli konsumen menjadi faktor pembatas. Ketika harga naik secara signifikan, permintaan cenderung menurun, memaksa produsen untuk menyesuaikan target produksi mereka. Hal ini menciptakan siklus yang merugikan bagi pertumbuhan industri teknologi secara keseluruhan.

Peran Kritis Komponen Memori dalam Biaya Produksi

Tekanan terbesar yang dihadapi industri PC datang dari porsi komponen memori dalam total biaya produksi, atau yang dikenal sebagai bill of materials (BOM). Gartner memproyeksikan bahwa porsi memori dalam BOM PC akan merangkak naik menjadi 23% pada akhir tahun 2026, meningkat tajam dari angka 16% yang tercatat pada tahun 2025.

Kenaikan yang begitu signifikan ini menjadi pukulan telak bagi para produsen PC, terutama mereka yang berfokus pada segmen entry-level. Margin keuntungan pada segmen ini umumnya sudah sangat tipis, sehingga kenaikan biaya komponen sekecil apa pun bisa membuat produksi menjadi tidak lagi menguntungkan.

Pernyataan tegas dari Gartner menggambarkan situasi ini dengan jelas. "Kenaikan tajam ini menghilangkan kemampuan vendor untuk menyerap biaya, membuat laptop entry-level dengan margin tipis menjadi tidak layak," ungkap Gartner, seperti dikutip dari Techspot. Pernyataan ini menggarisbawahi bahwa kelangsungan hidup produk-produk murah kini berada di ujung tanduk.

Realitas Pasar Saat Ini dan Proyeksi Kepunahan

Saat ini, PC yang tidak dibekali dengan kartu grafis (GPU) dedicated masih dapat ditemukan dengan harga di bawah 500 dolar AS. Perangkat semacam ini umumnya ditujukan untuk segmen pasar yang lebih spesifik, seperti pelajar yang membutuhkan perangkat untuk tugas sekolah, atau pengguna umum yang hanya memerlukan komputer untuk pekerjaan ringan dan aktivitas menjelajah internet.

Namun, dengan tren kenaikan biaya komponen yang terus berlanjut, Gartner memprediksi bahwa kategori PC yang sangat terjangkau ini akan terus menyusut. Perlahan tapi pasti, segmen ini diperkirakan akan menghilang sepenuhnya dari pasar pada tahun 2028. Ini berarti pilihan perangkat komputasi yang sangat terjangkau akan semakin terbatas.

Dampak Berantai dan Perubahan Siklus Upgrade

Ranjit Atwal, Senior Director Analyst di Gartner, memberikan pandangan lebih luas mengenai efek lanjutan dari situasi ini. Ia menekankan bahwa dampak krisis memori ini akan berujung pada penyempitan pilihan perangkat yang tersedia di pasar. Ketika harga perangkat naik, konsumen dan perusahaan cenderung akan menahan perangkat mereka lebih lama.

Perubahan perilaku ini akan secara fundamental mengubah siklus upgrade perangkat. Konsumen yang tadinya rutin mengganti perangkat setiap beberapa tahun sekali, kini mungkin akan mempertahankannya lebih lama untuk menunda pengeluaran besar. Hal serupa juga akan terjadi di kalangan perusahaan, yang akan melakukan evaluasi ulang terhadap anggaran penggantian perangkat keras mereka.

Gartner memproyeksikan bahwa umur pakai PC akan meningkat secara signifikan. Diperkirakan, umur pakai PC untuk pembeli dari kalangan bisnis akan bertambah 15%, sementara untuk konsumen individu akan meningkat hingga 20% pada akhir tahun 2026. Meskipun memperpanjang penggunaan perangkat lama dapat dianggap sebagai langkah hemat biaya, hal ini juga membawa konsekuensi lain.

Risiko Keamanan dan Tantangan Pengelolaan Sistem Usang

Memperpanjang usia pakai perangkat lama, terutama di lingkungan bisnis, berpotensi meningkatkan risiko keamanan siber. Sistem operasi dan perangkat lunak yang sudah usang mungkin tidak lagi mendapatkan pembaruan keamanan terbaru, sehingga menjadi lebih rentan terhadap serangan siber. Selain itu, pengelolaan sistem yang usang juga dapat menimbulkan tantangan teknis tersendiri bagi tim IT.

Dampak Krisis Memori Meluas ke Produk Lain

Fenomena krisis memori ini tidak hanya memengaruhi pasar PC dan smartphone. Dampaknya juga mulai merambah ke produk-produk elektronik lainnya yang sangat bergantung pada komponen memori. Salah satu contoh yang cukup mencolok adalah situasi yang dialami oleh Valve, produsen konsol game Steam Deck.

Valve sebelumnya telah mengonfirmasi bahwa stok Steam Deck OLED mereka menipis. Penipisan stok ini disebabkan oleh masalah pasokan komponen dan lonjakan harga yang memengaruhi produksi perangkat tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa krisis memori adalah masalah industri yang luas, bukan hanya terbatas pada satu jenis perangkat.

Beberapa vendor bahkan dilaporkan mengambil langkah-langkah kreatif, namun terkadang kontroversial, untuk mengatasi persepsi harga murah di tengah kenaikan biaya. Ada laporan mengenai penawaran laptop dengan klaim kapasitas penyimpanan 1,2 terabyte (TB). Namun, perlu dicermati bahwa dari total kapasitas tersebut, 1 TB justru dialokasikan sebagai langganan layanan cloud selama satu tahun. Ini menunjukkan adanya upaya untuk mengemas produk dengan cara yang berbeda agar tetap menarik di pasar yang semakin menantang.

Masa Depan Komputasi Terjangkau

Proyeksi hilangnya segmen PC entry-level akibat krisis memori ini menghadirkan sebuah pertanyaan penting mengenai masa depan komputasi terjangkau. Apakah akan muncul solusi inovatif dari produsen untuk mengatasi tantangan ini? Ataukah pasar akan terbagi lebih jauh antara segmen premium dan segmen yang sangat terbatas?

Analisis Gartner ini memberikan gambaran suram namun realistis tentang tantangan yang dihadapi industri teknologi. Lonjakan biaya memori yang didorong oleh booming AI tidak hanya meningkatkan harga perangkat, tetapi juga berpotensi menciptakan kesenjangan digital baru dengan menyingkirkan pilihan perangkat komputasi yang paling terjangkau. Para konsumen, pelajar, dan bisnis kecil perlu bersiap menghadapi perubahan ini dan merencanakan strategi upgrade perangkat mereka dengan lebih cermat di masa mendatang.

Tinggalkan komentar


Related Post