Gambar menakjubkan Bumi dari luar angkasa, yang baru-baru ini dikirim oleh para astronaut NASA dari orbit Bulan, seharusnya menjadi pengingat akan keindahan dan kerapuhan planet kita. Namun, di balik keindahan visual tersebut, tersimpan realitas pahit mengenai perlakuan terhadap sains di Amerika Serikat, terutama di bawah pemerintahan Donald Trump.
Empat astronaut NASA baru saja menyelesaikan misi mengelilingi sisi jauh Bulan, sebuah perjalanan yang memakan waktu lima hari sebelum mereka memulai perjalanan kembali ke Bumi. Selama misi ini, mereka berhasil menangkap dan mengirimkan gambar-gambar spektakuler Planet Bumi, sebuah permata biru yang melayang di kegelapan antariksa, berdampingan dengan permukaan Bulan yang tandus dan berbatu.
Foto-foto ini, yang kerap kali memicu rasa takjub dan refleksi mendalam, secara gamblang menyoroti betapa rapuhnya eksistensi manusia di tengah berbagai ancaman global. Krisis iklim yang semakin memburuk dan berbagai bahaya lingkungan lainnya menjadi semakin nyata ketika dilihat dari kejauhan. Namun, ironisnya, di saat pemahaman ilmiah tentang Bumi sangat krusial, pemerintahan Donald Trump justru dinilai memiliki sikap yang bermusuhan terhadap sains.
Kate Marvel, seorang mantan ilmuwan di Institut Studi Luar Angkasa Goddard NASA, membeberkan kekhawatiran ini dalam sebuah esai yang diterbitkan di The New York Times. Ia merinci bagaimana ribuan ilmuwan disingkirkan dan berbagai institusi penelitian penting secara sistematis dibongkar. Sikap ini, menurutnya, sangat bertolak belakang dengan semangat eksplorasi dan penemuan yang seharusnya menjadi nadi NASA.
Marvel berpendapat bahwa citra Bumi yang dilihat dari Bulan saat ini sangat berbeda dengan pemandangan yang terakhir kali disaksikan oleh astronaut pada tahun 1972. Perubahan drastis pada planet kita sejak saat itu, ditambah dengan pemotongan anggaran, kekacauan internal, dan campur tangan politik yang terus-menerus, kini mengancam fondasi ilmu pengetahuan yang mendorong dan memungkinkan eksplorasi luar angkasa.
Ancaman terhadap institusi sains seperti NASA bukan hanya sekadar retorika. Sebuah laporan yang dirilis pada tahun 2025 oleh Komite Senat Amerika Serikat menyimpulkan bahwa NASA telah bertindak secara prematur dan ilegal. Tindakan ini didasarkan pada usulan anggaran tahun 2026 yang diajukan oleh pemerintahan Trump, sebuah proposal yang sangat kontroversial dan diajukan jauh sebelum Kongres memiliki kesempatan untuk meninjaunya secara menyeluruh.
Meskipun pada bulan Januari para pembuat undang-undang memutuskan bahwa anggaran NASA sebagian besar tidak mengalami perubahan signifikan, bayang-bayang pemotongan anggaran dan semakin maraknya penyangkalan terhadap isu perubahan iklim telah menimbulkan dampak yang serius. Akibatnya, lebih dari 10.000 pakar sains bergelar doktor dilaporkan meninggalkan pekerjaan mereka tahun lalu. Fenomena ini digambarkan sebagai eksodus cendekiawan yang melintasi berbagai lembaga penelitian di seluruh negeri.
Situasi ini semakin memprihatinkan ketika Kantor Manajemen dan Anggaran (OMB) Gedung Putih merilis usulan anggaran untuk tahun 2027 bagi NASA. Usulan ini diajukan hanya dua hari setelah misi Artemis 2 berhasil diluncurkan dari Kennedy Space Center. Usulan anggaran tersebut secara mengejutkan mengusulkan pemangkasan drastis pada direktorat sains, dengan pengurangan anggaran yang mencapai angka 47 persen. Kebijakan ini sontak menimbulkan keterkejutan di kalangan komunitas ilmiah maupun para pembuat undang-undang.
Kate Marvel secara pribadi telah merasakan langsung dampak dari kebijakan pemerintahan Trump yang dianggap menyerang sains. Ia memutuskan untuk meninggalkan jabatannya di NASA dua minggu sebelum ia menyampaikan pandangannya. Dalam surat pengunduran dirinya, Marvel menyatakan keinginannya untuk berbicara jujur mengenai situasi yang terjadi.
“Menjelang bulan Maret ini, kekacauan terjadi terus-menerus dan serangan terhadap pekerjaan kami semakin meningkat. Saat itulah saya tahu sudah waktunya untuk pergi,” ungkap Marvel, menunjukkan betapa seriusnya tekanan yang ia dan rekan-rekannya hadapi.
Marvel menegaskan bahwa penelitian lingkungan seharusnya tidak ada hubungannya dengan ranah politik. “Tugas kami adalah mempelajari hukum fisika, yang akan tetap benar tidak peduli siapa pun yang berkuasa,” jelasnya, menekankan bahwa prinsip-prinsip ilmiah bersifat universal dan tidak terpengaruh oleh pergantian kekuasaan.
Pemerintahan Trump sebelumnya memang telah mengambil langkah-langkah yang menimbulkan kekhawatiran. Terdapat upaya untuk memerintahkan penghentian misi-misi satelit yang fokus pada pemantauan perubahan iklim. Lebih lanjut, dalam laporan tahunan terbaru mengenai suhu global, semua penyebutan mengenai perubahan iklim justru dihilangkan.
Bagi Marvel, penolakan untuk memahami Bumi dan perubahan iklimnya secara mendalam sama saja dengan melakukan tindakan sabotase terhadap diri sendiri. “NASA sedang mencekik saluran ilmiah dan mengurangi kemampuan kita untuk melihat dan memahami planet kita. Tanpa sains, gambar-gambar menakjubkan Bumi dari luar angkasa hanya sekadar foto cantik,” tegasnya.
Ia menutup dengan pernyataan yang kuat, mengingatkan bahwa seluruh umat manusia berhak mendapatkan pemahaman yang lebih dari sekadar keindahan visual. “Kita semua berhak mendapatkan hal yang jauh lebih dari itu,” pungkasnya, sebuah seruan agar sains dan eksplorasi ilmiah tetap menjadi prioritas utama dalam upaya kita memahami dan menjaga planet Bumi.









Tinggalkan komentar