KILASRAKYAT.COM, MADINAH – Ada banyak kisah suka duka menjadi pekerja jasa di puncak musim haji di Masjidil Haram, Makkah Al Mukarramah.
Berikut salah satu ceritanya.
Pukul 15.00 Waktu Arab Saudi (WS), lima petugas haji non-grup dari Sektor Birr Ali, Wilayah Kerja Madinah, mendapat tugas tambahan di Sektor Khusus Terowongan Jarwal, Masjid Al Haram.
Kelima petugas tersebut antara lain; Muharrami, Asep Wildan, Doni, dan Ridwan.
Mereka merupakan gabungan dari petugas ibadah dan pelayanan jemaah lanjut usia.
Mereka akan bertugas untuk Shift II, mulai pukul 13.00 hingga 00.00 WIB dini hari.
Bukan 8 jam, waktu tugas mereka dan 800 petugas non-grup hampir 12 jam.
Karena berangkat setelah jam makan siang, mereka tidak sempat menikmati makan malam.
“Ya sudah empat hari begini. 1 shift jaga, empat yang berangkat duluan, 1 orang menyusul setelah jatah nasi untuk makan malam datang ke hotel,” kata Ridwan Jumhar Ismail, anggota tim Birr Ali.
Ridwan ditemui Kilasrakyat di luar jadwal di terminal bus Shalawat Sektor 4 Shysyah, selatan Haram.
Ridwan berjalan sekitar 500 meter dari hotel menuju terminal bus.
Dia membawa seikat beras, berisi 6 bungkus alumunium foil, dan 10 botol air.
Dari terminal, Ridwan naik bus sekitar 2 km menuju terminal Syb Amir.
Nah, perjuangan kedua baru saja dimulai.
Atas nama solidaritas, ia membawa bungkusan yang beratnya sekitar seperempat dari berat badannya, dan berjalan kaki sekitar 1,7 km menuju Terowongan Jarwal.
Karena memakai seragam PEJABAT HAJI INDONESIA, ia harus memilih resiko menjadi “staf umum” jemaah haji. Kilasrakyat pun mencoba mengikuti Ridwan.
Dan ya, sepanjang 1 km perjalanan itu, setidaknya ada 4 jamaah yang datang untuk bertanya, minta tolong, atau mengabarkan tersesat.
“Inilah resiko menjadi petugas haji. Harus menjadi solusi segala kebutuhan jamaah. Sampai istri atau suami jamaah yang tersesat, kita juga harus mencarinya. “
Dan, tentu saja. Dua menit kemudian, saat melintasi proyek perluasan ketiga Masjidil Haram, jemaah dari Banjarmasin datang meminta bantuan.
“Tolong pak, saya kehilangan istri saya di sini. Saya bilang mau wudhu dulu, sebentar. Eh pas saya pergi, dia sudah pergi,” kata Zainal Hakim bin Arsyad , jemaah paruh baya.
Ia tidak tahu harus mencari istrinya kemana lagi, karena kedua ponselnya disimpan oleh istrinya saat ingin ke toilet dan tempat wudhu.
Belakangan, karena merasa tidak nyaman, jemaah meminta petugas membantu jamaah lainnya.
Belum lagi, permintaan jemaah Banjar dipenuhi, rekan petugas lainnya, datang melapor.
“Ada jamaah Madura yang tersesat. Mereka tidak membawa KTP, tidak memiliki telepon, dan tidak bisa berbahasa Indonesia.” Petugas lainnya , Doni, juga mengecek gelang perak. Nama jemaahnya, Syamsuddin Ahmad Safii.
Dia rombongan 6 Surabaya, dari Pamekasan.
Ternyata jamaah disampingnya yang juga tidak bisa berbahasa Indonesia, juga jamaah dari Madura, Jamaah Group 7 SUB.
“Nggak nanya ke saya, cuma nanya ke bapak grup 6, saya tetangga hotel juga.” kata jemaah Madura lainnya yang sedang menunggu Isya adzan.
Mendengar jawaban lugu itu, ala jamaah Madura, para petugas yang sudah kelaparan itu langsung tertawa. Nasi bungkus dari hotel juga diberikan di dekat Terowongan Jarwal.
“Kalau kita tidak peduli dengan teman-teman kita, sulit mendapatkan makanan di Masjidil Haram,” kata Doni.
Soal petugas tidak bisa mendapatkan makanan selama berada di kawasan Haram, ternyata ini temuan Irjen Kemenag RI, Faisal Ali Hasyim.
Irjen juga menemukan fakta banyak petugas PPIH non rombongan dan pramugari piket tidak sempat sarapan, makan siang, dan makan malam selama 12 jam bertugas.
“Ya memang benar tadi saya dapat banyak masukan staff disini. Sayang sekali mereka tidak dapat jatah makan, karena catering diturunkan di hotel. ” ujarnya sambil memantau langsung kegiatan petugas di Terminal Syb Amir.
Menindaklanjuti temuan soal jatah makan petugas itu, ia segera mengirimkan pesan kepada ketua Kadaker Mekkah.
“Nah, ini lihat WA saya ke Kadaker Mecca,” katanya sambil menunjukkan layar pesan ke Kadaker.
Otoritas layanan haji Indonesia menambah 400 personel, menyusul peningkatan kepadatan kawasan Masjidil Haram Mekkah dalam tiga hari terakhir.
Sedikitnya 400 petugas dari Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Indonesia di Wilayah Kerja Madinah, mulai Rabu (21/6/2023) pagi ini, akan diperbantukan untuk melayani jamaah yang akan menunaikan ibadah thawaf.
“Untuk petugas di area lantai dasar (Masjid Haram), Pos 1 Haram, harus menyesuaikan. Masuk baju ihram, tapi celana dalam,” kata Kabid Bidang Khusus Masjid Nabawi M Jasaruddin, saat majelis pagi di Sektor IV Mekkah hari ini.









Tinggalkan komentar