Jakarta – Perjalanan impresif FK Bodo/Glimt di Liga Champions musim ini harus terhenti. Tim asal Norwegia yang dijuluki “The Arctic Circle” ini harus mengakui keunggulan Sporting CP setelah mengalami comeback dramatis di babak 16 besar.
Meskipun tersingkir, dongeng Bodo/Glimt di panggung Eropa meninggalkan jejak yang tak terlupakan. Lebih dari sekadar sorotan di kompetisi bergengsi, mereka juga berhasil mengamankan pundi-pundi finansial yang signifikan.
Kemenangan Dramatis Sporting CP Mengakhiri Mimpi Bodo/Glimt
Menghadapi leg kedua babak 16 besar Liga Champions melawan Sporting CP pada Rabu (18/3), Bodo/Glimt sejatinya memiliki modal yang cukup kuat. Mereka datang dengan keunggulan agregat 3-0 dari pertemuan pertama.
Namun, atmosfer kandang Sporting CP terbukti menjadi faktor penentu. Tuan rumah tampil menggila dan berhasil menyamakan kedudukan agregat menjadi 3-3 di waktu normal. Pertandingan pun harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.
Di babak extra time, Sporting CP menambah dua gol lagi, memastikan kemenangan 5-3 secara agregat. Hasil ini sontak memupus harapan Bodo/Glimt untuk melangkah lebih jauh di turnamen paling prestisius di Eropa.
Dari Kuda Hitam Menjadi Sensasi Eropa
Sebelumnya, Bodo/Glimt telah menjelma menjadi kuda hitam yang mengejutkan di Liga Champions musim ini. Perjalanan mereka diwarnai dengan penampilan gemilang yang mengalahkan tim-tim besar.
Mereka berhasil menyingkirkan Inter Milan di babak playoff 16 besar. Lebih hebat lagi, di fase grup, mereka mampu mengimbangi kekuatan tim-tim raksasa seperti Manchester City dan Atletico Madrid. Prestasi ini semakin menegaskan status mereka sebagai kekuatan baru di sepak bola Eropa.
Analisis Pelatih Bodo/Glimt
Pelatih Bodo/Glimt, Kjetil Knutsen, mengungkapkan kekecewaannya usai pertandingan. Ia menilai timnya tidak mampu menampilkan performa terbaiknya di hadapan Sporting CP yang bermain tanpa beban.
“Sporting bermain tanpa mempedulikan apapun, sementara kami memikirkan konsekuensinya sejak sentuhan pertama,” ujar Knutsen seperti dilansir dari BBC.
Ia menambahkan, “Kami tidak bermain sesuai yang kami inginkan, laga ini jadi terlalu besar buat kami.” Pernyataan ini mengindikasikan adanya tekanan mental yang dihadapi para pemainnya saat bertanding di level setinggi Liga Champions.
Rekam Jejak Gemilang di Kompetisi Eropa
Meskipun tersingkir dari Liga Champions, Bodo/Glimt tidak bisa dipandang sebelah mata. Mereka telah membuktikan diri sebagai tim yang mampu bersaing di kancah Eropa dalam beberapa musim terakhir.
Salah satu momen paling dikenang adalah saat mereka menghancurkan AS Roma asuhan Jose Mourinho dengan skor telak 6-1 di ajang UEFA Conference League. Selain itu, mereka juga kerap memberikan perlawanan sengit kepada tim-tim besar lainnya.
Knutsen mengakui kesulitan dalam menganalisis performa timnya di Liga Champions. “Saya tidak bisa benar-benar menjelaskan mengapa kami berakhir seperti ini, tetapi hanya ada beberapa periode singkat di mana kami berhasil menunjukkan performa yang baik,” ungkapnya.
Cuan Finansial Tetap Diraih
Meski harus mengakhiri perjalanan di Liga Champions, Bodo/Glimt tidak pulang dengan tangan kosong. Keberhasilan mereka menembus babak 16 besar telah memberikan keuntungan finansial yang cukup besar.
Tim asal Norwegia ini berhasil mengantongi hadiah sebesar 11 juta Euro. Angka tersebut setara dengan sekitar Rp 215 miliar, sebuah jumlah yang signifikan bagi klub dari liga yang tidak sepopuler liga-liga top Eropa.
Dana ini tentu akan sangat membantu dalam pengembangan tim, fasilitas latihan, serta memperkuat skuad untuk kompetisi di masa mendatang. Kisah Bodo/Glimt di Liga Champions mungkin telah berakhir, namun mereka telah meninggalkan warisan yang membanggakan bagi sepak bola Norwegia.









Tinggalkan komentar