Kementerian Pertanian (Kementan) gencar mendorong kolaborasi dalam rantai pasok perunggasan untuk menstabilkan harga ayam hidup (livebird) dan menjamin keberlanjutan usaha peternak rakyat. Langkah ini menjadi krusial mengingat peran penting ayam dalam memenuhi kebutuhan protein hewani masyarakat Indonesia.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dirjen PKH) Kementan, Agung Suganda, menekankan bahwa intervensi pasar diperlukan untuk mengatasi fluktuasi harga livebird yang merugikan peternak. Kolaborasi ini melibatkan berbagai pihak, termasuk perusahaan pakan terintegrasi, pabrik pakan non-budidaya, dan pedagang bahan baku pakan.
Perusahaan pakan terintegrasi didorong untuk menyerap ayam hidup dalam jumlah besar langsung dari peternak rakyat. Sementara itu, pabrik pakan non-budidaya juga diminta berkontribusi aktif dalam upaya ini. Transparansi sangat ditekankan, dengan semua bentuk dukungan yang dilaporkan ke Ditjen PKH.
Tantangan Stabilitas Harga Livebird
Ketidakstabilan harga ayam hidup berdampak luas, bukan hanya pada peternak, tetapi juga mengganggu keseluruhan rantai pasok industri pakan. Harga pakan yang tinggi, yang mencapai lebih dari 70% dari total biaya budidaya, menjadi beban besar bagi peternak jika tidak diimbangi dengan harga jual livebird yang memadai.
Data Kementan menunjukkan produksi pakan nasional tahun 2024 mencapai 18,4 juta ton, dengan 97% dialokasikan untuk pakan unggas. Hal ini menunjukkan betapa besarnya ketergantungan industri perunggasan terhadap stabilitas harga pakan.
Tingginya harga pakan tanpa diimbangi harga jual livebird yang layak akan membuat peternak mengurangi produksi, yang pada akhirnya menurunkan permintaan pakan dan merugikan seluruh pihak dalam rantai pasok.
Peran Penting Konsumsi Unggas di Indonesia
Konsumsi protein hewani berbasis unggas, khususnya telur dan daging ayam, sangat tinggi di Indonesia. Sekitar 94% penduduk mengonsumsi telur ayam, dan 66% mengonsumsi daging ayam. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan konsumsi daging sapi yang hanya sekitar 7%.
Dengan tingkat pendapatan masyarakat yang beragam, protein hewani dari unggas menjadi pilihan yang lebih terjangkau dan mudah diakses. Oleh karena itu, menjaga stabilitas harga dan keberlanjutan produksi unggas sangat penting bagi ketahanan pangan nasional.
Solusi Kolaboratif untuk Keberlanjutan
Direktur Pakan Ditjen PKH, Nur Saptahidayat, menekankan pentingnya kerja sama semua pemangku kepentingan untuk mengintervensi pasar livebird. Empati dari pelaku industri pakan sangat krusial agar peternak rakyat dapat bertahan.
Komitmen konkret dari semua pelaku usaha dibutuhkan, bukan hanya dari sisi bisnis semata, tetapi juga untuk menjaga keberlanjutan pangan nasional. Kementan berharap dengan kolaborasi yang kuat, stabilitas harga livebird dapat tercapai dan keberlanjutan usaha peternak rakyat terjamin.
Rekomendasi dan Langkah Ke Depan
Untuk meningkatkan efektivitas intervensi, Kementan dapat mempertimbangkan beberapa langkah berikut: Peningkatan transparansi data harga livebird dan pakan secara real-time, Program pelatihan dan pendampingan bagi peternak dalam meningkatkan efisiensi produksi, Pengembangan sistem pemasaran yang lebih terintegrasi dan efisien untuk menghubungkan peternak dengan industri pengolahan.
Selain itu, perlu juga diteliti kemungkinan diversifikasi sumber protein hewani untuk mengurangi ketergantungan pada unggas dan memperkuat ketahanan pangan. Riset dan pengembangan teknologi pakan yang lebih efisien dan berkelanjutan juga penting untuk jangka panjang.
Secara keseluruhan, upaya menjaga stabilitas harga livebird membutuhkan komitmen dan kolaborasi yang kuat dari semua pihak yang terlibat dalam rantai pasok perunggasan. Ini bukan hanya masalah ekonomi, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan dan kesejahteraan peternak rakyat Indonesia.









Tinggalkan komentar