Kekurangan Zat Besi: Ancaman Serius Terhadap Potensi Belajar Anak

Kilas Rakyat

24 Juli 2025

4
Min Read

Memastikan kesiapan anak memasuki dunia sekolah merupakan tanggung jawab penting orang tua. Sekolah berperan vital dalam perkembangan anak, termasuk kecerdasannya. Selain perlengkapan sekolah dan semangat belajar, nutrisi yang tepat sangat krusial untuk mendukung fokus dan aktivitas belajar mereka.

Studi menunjukkan korelasi antara kesulitan fokus pada anak dan hambatan akademis. Sekitar 4 dari 10 anak yang sulit fokus mengalami kesulitan belajar, yang berdampak pada kemajuan akademik mereka. Bahkan, kesulitan berkonsentrasi seringkali berujung pada kendala dalam kemampuan dasar seperti membaca, menulis, dan berhitung.

Pengalaman seorang guru TK, Miftah Farid, S.Pd., selama lebih dari 5 tahun mengungkap tantangan nyata ini. Ia menyoroti fakta mengkhawatirkan masih adanya siswa SMP yang belum menguasai abjad, bahkan survei menunjukkan lebih dari 40% anak SMP di Bali belum mampu menghafal abjad. Ini mencerminkan pentingnya fokus belajar sejak dini.

Miftah menekankan pentingnya fokus belajar agar anak mampu menguasai kemampuan baca tulis. “Dengan bisa fokus, anak akan dapat lebih mudah memahami dan mengingat materi pembelajaran, termasuk huruf, kata, dan konsep membaca serta menulis,” ujarnya.

Namun, perlu dipahami bahwa kesulitan fokus tidak selalu disebabkan oleh kemalasan atau metode mengajar yang kurang efektif. Seringkali, ini merupakan indikasi masalah kesehatan, misalnya kekurangan zat besi.

Kekurangan zat besi sejak dini dapat mengganggu perkembangan kognitif anak. Zat besi berperan penting dalam mendukung kemampuan belajar, terutama saat anak mulai bersekolah. Sayangnya, hampir 30% anak Indonesia berisiko kekurangan zat besi karena pola makan yang kurang tepat.

Kekurangan zat besi berdampak jangka pendek dan panjang, mulai dari sulit berkonsentrasi dan lamban belajar hingga tertundanya perkembangan anak secara keseluruhan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga menyatakan adanya bukti kuat yang menunjukkan kekurangan zat besi dapat menunda perkembangan psikomotor dan mengganggu kinerja kognitif anak.

Fakta mengejutkan lainnya: 80% anak yang kekurangan zat besi mengalami keterlambatan bicara (speech delay). Ini semakin menggarisbawahi pentingnya deteksi dan pencegahan dini kekurangan zat besi.

Hubungan Zat Besi dan Kecerdasan Anak

Banyak orang tua belum menyadari hubungan antara kecerdasan anak dan zat besi. Faktanya, 50% orang tua tidak menyadari bahwa kekurangan zat besi dapat berdampak pada kecerdasan anak. Oleh karena itu, pemahaman dan pemenuhan kebutuhan gizi anak usia prasekolah sangat penting.

Deteksi dan intervensi dini sangat krusial untuk mencegah dampak negatif pada kemampuan belajar dan perkembangan anak, terutama di masa remaja dan dewasa. Guru TK lainnya, Siti Alifah Faiz, S.Pd., menekankan pentingnya fokus anak dalam proses belajar mengajar di sekolah.

Siti berharap orang tua lebih peka terhadap gejala kekurangan zat besi pada anak, seperti mudah lelah, kulit pucat, dan kurang fokus. “Orangtua harus lebih memahami bahwa stimulasi saja tidak cukup, namun perlu juga diimbangi dengan pemenuhan nutrisi yang tepat seperti makanan bergizi yang mengandung zat besi untuk mendukung kecerdasan anak,” tegas Alifa.

Memenuhi Kebutuhan Zat Besi Anak

Untuk mendukung fokus belajar anak, orang tua perlu memastikan asupan zat besi yang cukup. Sumber zat besi hewani, seperti daging sapi, ayam, hati, telur, ikan, dan susu, lebih mudah diserap tubuh dibandingkan zat besi dari sumber nabati.

Konsumsi makanan kaya vitamin C, seperti jeruk dan tomat, dapat meningkatkan penyerapan zat besi. Alternatif lain adalah memberikan makanan dan minuman yang telah difortifikasi dengan zat besi dan vitamin C, seperti susu pertumbuhan tertentu yang diformulasikan untuk meningkatkan penyerapan zat besi hingga dua kali lipat.

Anggi Morika Septie, Head of Brand SGM Eksplor, menjelaskan komitmen perusahaan dalam mendukung perkembangan anak Indonesia dengan inovasi produk yang disesuaikan dengan kebutuhan setiap tahapan usia. SGM Eksplor 3Plus, misalnya, diformulasikan khusus untuk mendukung kesiapan anak belajar.

“Inovasi ini diharapkan dapat membantu mendukung pemenuhan nutrisi lengkap bagi anak usia 3 tahun ke atas, sehingga mereka siap belajar dengan baik di sekolah,” jelasnya.

Deteksi Dini dan Dukungan Komprehensif

Selain inovasi produk, SGM Eksplor juga menyediakan Kalkulator Zat Besi, alat bantu non-medis untuk deteksi dini risiko kekurangan zat besi. Alat ini mudah digunakan dan hasilnya dapat diketahui dalam waktu kurang dari 3 menit.

Bagi orang tua yang membutuhkan informasi lebih lanjut, SGM Eksplor menyediakan layanan Sahabat Bunda Generasi Maju yang dapat diakses 24/7 melalui telepon atau media sosial. Layanan ini memberikan konsultasi dari tenaga profesional.

Pemenuhan hak anak untuk maju dan berprestasi merupakan tanggung jawab bersama. SGM Eksplor mengajak orang tua untuk memperhatikan kebutuhan gizi anak, terutama zat besi, sejak dini. “Oleh karena itu, mari kawal zat besi anak dan teruskan nutrisinya sejak usia dini agar tumbuh menjadi generasi maju yang berprestasi sehingga dapat mendukung terwujudnya Generasi Emas Indonesia 2045,” tutup Anggi.

Tinggalkan komentar


Related Post