Italia Gagal ke Piala Dunia, Donnarumma Tiga Kali Terjegal

Kilas Rakyat

3 April 2026

4
Min Read

Kekecewaan mendalam menyelimuti Gianluigi Donnarumma. Sebagai kiper sekaligus kapten tim nasional Italia, ia kembali merasakan pahitnya kegagalan membawa Gli Azzurri berlaga di Piala Dunia. Kali ini, tiket ke Piala Dunia 2026 kembali luput dari genggaman, melanjutkan tren buruk yang dialaminya.

Donnarumma, yang dikenal sebagai salah satu kiper terbaik dunia, sejatinya telah menampilkan performa gemilang. Dalam laga final playoff melawan Bosnia-Herzegovina di Zenica, ia berhasil menggagalkan beberapa peluang emas lawan. Terlebih lagi, Italia harus bermain dengan sepuluh orang setelah Alessandro Bastoni menerima kartu merah.

Namun, performa impresifnya di waktu normal dan perpanjangan waktu tak mampu berlanjut di babak adu penalti. Empat eksekutor penalti Bosnia berhasil menceploskan bola, sementara dua penendang Italia gagal menaklukkan kiper lawan. Italia pun harus mengakui kekalahan dengan skor 1-4 dalam drama adu tos-tosan, setelah sebelumnya bermain imbang 1-1 selama 120 menit.

Tragedi playoff Piala Dunia bukanlah hal baru bagi Donnarumma. Kekalahan dari Bosnia ini menandai kali ketiga Italia tersingkir di babak kualifikasi Piala Dunia melalui jalur playoff, dan ironisnya, Donnarumma selalu menjadi bagian dari skuat dalam setiap kegagalan tersebut.

Jejak Pahit Donnarumma di Playoff Piala Dunia

Kisah kesialan Gianluigi Donnarumma di babak playoff Piala Dunia dimulai pada tahun 2018. Saat itu, Italia menghadapi Swedia. Donnarumma yang masih muda, berusia 19 tahun, duduk di bangku cadangan sebagai deputi bagi sang legenda, Gianluigi Buffon. Italia takluk dari Swedia, dan ia hanya bisa menyaksikan dari pinggir lapangan.

Empat tahun berselang, pada playoff Piala Dunia 2022, Donnarumma sudah dipercaya sebagai kiper utama. Ia memikul tanggung jawab besar untuk menjaga gawang Italia. Namun, nasib berkata lain. Italia secara mengejutkan harus mengakui keunggulan Makedonia Utara di kandang sendiri. Kegagalan ini tentu meninggalkan luka mendalam bagi Donnarumma, yang saat itu baru berusia 23 tahun.

Kini, di playoff Piala Dunia 2026, Donnarumma kembali berada di bawah mistar gawang Italia. Ia bahkan telah dipercaya menyandang ban kapten. Namun, sejarah kembali terulang dengan cara yang menyakitkan. Kekalahan dari Bosnia-Herzegovina di playoff kembali menggagalkan mimpi Italia untuk tampil di ajang sepak bola terbesar di dunia.

Donnarumma sendiri mengungkapkan rasa kecewanya yang mendalam melalui unggahan di media sosial. "Setelah pertandingan melawan Bosnia, saya menangis," tulisnya, dikutip dari ESPN. "Saya menangis karena kecewa tidak mampu membawa Italia ke tempat yang seharusnya."

Ia menambahkan, "Saya menangis karena kesedihan luar biasa yang saya rasakan, bersama seluruh tim Azzurri, yang saya bangga menjadi kaptennya, dan saya tahu Anda, para penggemar tim nasional, juga merasakannya."

Harapan Baru dan Tekad Bangkit

Meskipun diliputi kekecewaan, Donnarumma menunjukkan semangat juang yang patut diacungi jempol. Ia mengajak rekan-rekannya dan para penggemar untuk tidak larut dalam kesedihan. "Kita harus menemukan keberanian untuk membuka lembaran baru, sekali lagi," tegasnya.

"Dan untuk melakukannya membutuhkan banyak kekuatan, semangat, dan keyakinan," lanjut kiper berusia 25 tahun itu. Ia menekankan pentingnya keyakinan untuk terus maju.

"Selalu percaya; inilah kekuatan yang mendorong untuk terus maju. Karena hidup memberi penghargaan kepada mereka yang memberikan segalanya, tanpa menahan diri. Dan di sinilah kita harus memulai lagi. Bersama. Sekali lagi. Untuk membawa Italia kembali ke tempat yang seharusnya," serunya penuh tekad.

Donnarumma telah menjadi bagian dari tim nasional Italia sejak usianya masih 17 tahun pada tahun 2016. Ia pertama kali membela Italia dalam sebuah pertandingan internasional pada bulan September 2016, menjadikannya salah satu debutan termuda dalam sejarah timnas.

Ironisnya, saat Italia terakhir kali berlaga di Piala Dunia pada tahun 2014, Donnarumma baru berusia 15 tahun. Ia hanya bisa menyaksikan negaranya berlaga dari kejauhan. Jika Italia berhasil lolos ke Piala Dunia 2030, Donnarumma akan berusia 31 tahun. Usia tersebut masih sangat ideal bagi seorang kiper.

Masa depan timnas Italia kini berada di tangan para pemain muda seperti Donnarumma. Kegagalan demi kegagalan ini tentu menjadi pelajaran berharga. Dengan kepemimpinan Donnarumma dan semangat pantang menyerah yang ia tunjukkan, Italia diharapkan dapat bangkit dan kembali menunjukkan taringnya di kancah internasional.

Perjalanan untuk kembali ke Piala Dunia memang tidak mudah. Namun, dengan kerja keras, dedikasi, dan keyakinan yang kuat, mimpi untuk melihat bendera Italia berkibar di Piala Dunia bukanlah hal yang mustahil. Para penggemar setia timnas Italia tentu akan terus memberikan dukungan, berharap agar tragedi kegagalan di babak playoff tidak terulang di masa mendatang.

Kekecewaan kali ini memang terasa berat, namun semangat juang Donnarumma dan tim Azzurri patut diapresiasi. Ini adalah saatnya untuk belajar dari kesalahan, memperkuat diri, dan bersiap untuk babak kualifikasi selanjutnya. Italia harus bangkit, dan dengan kepemimpinan sang kapten, harapan itu tetap menyala.

Tinggalkan komentar


Related Post