Tim Labmino, perwakilan Indonesia, berhasil mengukir prestasi gemilang di ajang Samsung Solve for Tomorrow (SFT) Global 2025. Inovasi mereka, RunSight, sebuah kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI), sukses menembus 20 besar dunia. Keberhasilan ini menunjukkan potensi besar generasi muda Indonesia dalam menciptakan solusi teknologi yang berlandaskan empati.
Debut Indonesia di panggung global SFT kali ini menghadirkan kisah inspiratif tentang bagaimana sebuah gagasan sederhana dapat bertransformasi menjadi inovasi yang diakui dunia. Tim Labmino, yang terdiri dari Anthony Edbert Feriyanto, Kaindra Rizq Sachio, Muhammad Fazil, dan Ariq Maulana Malik Ibrahim, membawa pulang karya mereka, RunSight.
RunSight adalah kacamata pintar yang dirancang khusus untuk membantu penyandang disabilitas tunanetra agar dapat berlari dengan aman dan mandiri. Inovasi ini lahir dari kepedulian mendalam terhadap pengalaman teman dekat salah satu anggota tim yang kehilangan penglihatan namun tetap memiliki semangat untuk berolahraga.
Minimnya alat bantu olahraga berbasis AI yang adaptif mendorong tim ini untuk menciptakan solusi yang inklusif. Tujuannya adalah memberikan rasa aman, kepercayaan diri, dan kebebasan bergerak bagi para pelari tunanetra.
Kaindra Rizq Sachio, selaku perwakilan Tim Labmino, menyatakan bahwa ide RunSight bermula dari percakapan ringan dengan seorang teman.
“Kami percaya teknologi seharusnya tidak hanya mempermudah hidup, tetapi juga membuat ruang yang lebih inklusif bagi semua orang,” ungkap Kaindra Rizq Sachio, perwakilan Tim Labmino, dikutip di Jakarta pada Selasa, 16 Desember 2025.
Ia menambahkan bahwa inovasi di bidang olahraga untuk tunanetra yang memanfaatkan AI masih terbilang jarang.
“Kami terpanggil untuk membuat solusi yang benar-benar relevan. Saat akhirnya kami berdiri di panggung global membawa nama Indonesia, kami merasa ide kecil ini akhirnya menemukan tempat yang lebih besar dan berdampak,” jelasnya.
Perjalanan RunSight membawa Tim Labmino melewati berbagai tahapan penjurian. Dimulai dari seleksi tingkat regional yang melibatkan 39 tim dari berbagai wilayah Samsung di seluruh dunia, termasuk Eropa, Asia Tenggara & China, Timur Tengah & Afrika Utara, Negara-negara Persemakmuran, Amerika Utara & Amerika Latin.
Setelah berhasil meraih juara pertama di Indonesia, tim ini kemudian melaju ke tahap regional. Seluruh proses seleksi regional dilakukan secara daring. Setiap tim mempresentasikan proyek mereka di hadapan juri dan peserta dari negara lain dalam ruang pertemuan virtual.
Ketua Tim Labmino, Anthony Edbert Feriyanto, mengungkapkan bahwa tahap regional memberikan perspektif baru yang berharga bagi timnya.
“Meski dilakukan secara daring, atmosfernya berbeda sekali karena kami harus mempresentasikan proyek di hadapan juri dan peserta dari berbagai negara,” ujar Anthony Edbert Feriyanto.
Menurutnya, standar penilaian di tingkat regional mengalami peningkatan yang signifikan. Hal ini menjadi tantangan sekaligus motivasi tersendiri.
“Itu jadi tantangan sekaligus kebanggaan tersendiri karena kami membawa nama Indonesia dan ingin menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia mampu bersaing di level internasional,” tambahnya.
Samsung Electronics Indonesia mengapresiasi pencapaian ini sebagai bukti nyata kemampuan pelajar Indonesia untuk bersaing dan berkontribusi di kancah global.
“Tahun pertama Indonesia ikut SFT Global dan langsung masuk 20 besar dunia adalah pencapaian besar,” ujar Bagus Erlangga, Head of Corporate Marketing, Samsung Electronics Indonesia.
Ia menekankan bahwa perjalanan Tim Labmino menunjukkan sinergi antara kreativitas, teknologi, dan empati. Sinergi tersebut mampu menghasilkan solusi relevan yang diakui secara internasional oleh pelajar Indonesia.
“Hal ini selaras dengan komitmen Samsung dan pemerintah dalam memperkuat literasi teknologi, mengembangkan talenta muda, dan membangun ekosistem inovasi yang inklusif,” jelas Bagus Erlangga.
Selama proses seleksi regional, Tim Labmino tidak hanya mendapatkan bimbingan teknis, tetapi juga wawasan baru mengenai pengembangan ide. Masukan detail dari juri internasional serta paparan terhadap tim lain membantu mereka menyempurnakan pendekatan dalam memecahkan masalah.
Perbaikan meliputi aspek teknis, pengalaman pengguna, hingga kolaborasi dengan komunitas. Wawasan ini semakin memperkuat pemahaman tim tentang dampak teknologi dan meningkatkan kepercayaan diri mereka untuk terus mengembangkan RunSight agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas.
Perjalanan Tim Labmino menjadi bukti nyata bahwa langkah awal adalah yang terpenting. Hingga saat ini, tim ini telah menunjukkan kapasitasnya sebagai perwakilan inovator muda Indonesia di kancah global. Mereka membawa pulang pengalaman internasional, perspektif baru, dan tekad yang kian kuat untuk terus berkarya.
Perjalanan Tim Labmino dalam program Samsung Solve for Tomorrow masih berlanjut. Rangkaian seleksi dan tahapan berikutnya akan diumumkan pada Februari 2026 mendatang.









Tinggalkan komentar