Indosat Ooredoo Hutchison Maksimalkan Jaringan 5G Jakarta Jelang Idul Fitri Capai 1.500 Site

Kilas Rakyat

17 Januari 2026

4
Min Read

Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) Outer Jakarta berencana untuk memperluas jangkauan jaringan 5G mereka secara signifikan. Penargetan dilakukan untuk mendukung lonjakan trafik data selama periode libur Natal dan Tahun Baru, serta berlanjut hingga momentum Hari Raya Idul Fitri mendatang. Fokus utama ekspansi ini mencakup wilayah Outer Jakarta dan daerah sekitarnya, seperti Tangerang Selatan, Tangerang, serta beberapa area di Jawa Barat.

Target ambisius IOH adalah mencapai 1.500 _site_ jaringan 5G di wilayah-wilayah tersebut. Khusus untuk area Jakarta Raya, jumlah _site_ yang ditargetkan diprediksi akan lebih besar lagi. Saat ini, IOH telah berhasil mengoperasikan sekitar 800 _site_ 5G dan terus berupaya menambah jumlahnya secara bertahap hingga akhir tahun ini dan menjelang perayaan Idul Fitri.

“Target kami hingga 1.500 _site_ 5G, dan untuk Jakarta Raya tentu jumlahnya lebih besar. Saat ini yang sudah aktif sekitar 800-an, dan akan terus ditambah sampai akhir tahun dan menjelang Lebaran,” ujar SVP Head of Region Outer Jakarta Indosat Ooredoo Hutchison, Eric Danari, dalam sebuah konferensi pers di Tangerang pada hari Senin (22/12).

Eric menambahkan bahwa IOH telah berhasil meluncurkan lebih dari 800 _site_ jaringan 5G sepanjang tahun 2025 ini. Ia menyoroti perbedaan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, di mana kehadiran jaringan 5G belum sebanyak saat ini.

“Bedanya dengan tahun lalu, tahun ini kami sudah meluncurkan lebih dari 800 _site_ jaringan 5G. Tahun lalu belum ada,” paparnya.

Keputusan untuk fokus pada pengembangan teknologi 5G didasari oleh keunggulan inheren yang ditawarkan oleh teknologi ini. Menurut Eric, 5G menawarkan kecepatan yang jauh lebih tinggi, latensi yang lebih rendah, serta stabilitas koneksi yang lebih baik dibandingkan teknologi sebelumnya. Keunggulan-keunggulan inilah yang menjadi nilai tawar utama IOH, terutama bagi segmen pengguna yang sangat bergantung pada koneksi internet yang andal.

“Mengapa 5G? Eric menjelaskan karena memang secara teknologi 5G itu lebih cepat, latensi atau jeda dalam suatu sistem yang lebih rendah dan lebih stabil. Itu yang kami tawarkan, terutama ke segmen-segmen yang sangat bergantung pada koneksi stabil,” ujarnya.

Meskipun potensi penggunaan 5G semakin terbuka lebar, Eric mengamati bahwa masih banyak pengguna yang belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi ini. Ia mencatat bahwa sebagian besar ponsel yang beredar di Indonesia saat ini sudah mendukung jaringan 5G, namun pemanfaatannya masih minim.

Hal ini terjadi karena berbagai faktor, termasuk perlu adanya pengaturan pada perangkat. Sebagian perangkat mendukung pengaturan otomatis, sementara yang lain memerlukan penyesuaian manual. Oleh karena itu, aspek edukasi kepada pelanggan menjadi krusial dalam mendorong adopsi 5G.

“Lebih lanjut, sebagian besar ponsel dengan berbasis jaringan 5G yang digunakan di Indonesia sebetulnya sudah banyak. Namun masih minim yang menggunakannya. Banyak yang sebenarnya sudah punya, tapi belum di-setting. Ada yang otomatis, ada juga yang masih harus manual. Jadi ini juga soal edukasi,” tuturnya.

Berdasarkan data internal IOH, baru sekitar 15 persen dari total pengguna yang ponselnya sudah mendukung 5G, yang benar-benar mengaktifkan dan memanfaatkan jaringan tersebut.

“Data kami menunjukkan, dari pengguna yang HP-nya sudah 5G, baru sekitar 15 persen yang benar-benar mengaktifkan 5G,” jelas dia.

Eric menambahkan bahwa perkembangan teknologi telekomunikasi secara alami bergerak menuju evolusi 5G. Ia membandingkan proses ini dengan perkembangan sebelumnya, dari 2G, 3G, hingga 4G. Saat ini, tren menunjukkan peningkatan jumlah perangkat baru, termasuk di segmen kelas menengah, yang sudah mendukung 5G. Pemanfaatan spektrum yang lebih efisien pada teknologi 5G memungkinkan penyediaan layanan berkualitas tinggi bagi lebih banyak pengguna secara bersamaan.

“Eric menambahkan, kalau perkembangan teknologi memang ke arah 5G. Dari 2G, 3G, 4G, hingga 5G, semuanya terus berevolusi. Saat ini, banyak perangkat baru, termasuk kelas menengah sudah mendukung 5G. Dengan efisiensi spektrum yang lebih baik, 5G mampu melayani lebih banyak pengguna dengan kualitas yang lebih tinggi,” tuturnya.

Ia memprediksi bahwa ekosistem 5G akan terus berkembang pesat, baik dari sisi penyedia layanan telekomunikasi maupun produsen perangkat. Bahkan, riset dan pengembangan untuk teknologi generasi selanjutnya, yaitu 6G, telah dimulai di laboratorium oleh mitra-mitra strategis seperti Nokia, Huawei, dan Ericsson, meskipun implementasi komersialnya masih dalam tahap penjajakan.

“Eric menilai, ekosistem 5G akan semakin luas, baik dari sisi operator maupun perangkat. Bahkan saat ini pengembangan 6G sudah mulai dilakukan di laboratorium bersama mitra seperti Nokia, Huawei, dan Ericsson, meski belum bersifat komersial,” tegasnya.

Tinggalkan komentar


Related Post