Indonesia Berpotensi Ikut Misi Pengamatan Bulan

16 Maret 2026

3
Min Read

Indonesia kini membuka peluang untuk terlibat dalam misi pengamatan astronomi di Bulan, sebuah ranah yang selama ini didominasi oleh negara-negara maju. Potensi ini diungkapkan oleh Emanuel Sungging, Kepala Pusat Riset Antariksa, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Selama ini, observasi astronomi umumnya dilakukan dari Bumi menggunakan teleskop berbasis darat. Namun, kemajuan teknologi kini memungkinkan pengamatan langsung dari Bulan. Hal ini menjadi momentum berharga bagi Indonesia untuk menjajaki kolaborasi dalam eksplorasi antariksa.

"Pagi ini, kita akan membuka wawasan dan mempelajari berbagai peluang yang ada," ujar Emanuel Sungging dalam pernyataan tertulisnya, menggarisbawahi pentingnya pemahaman mendalam terhadap potensi ini.

Keunggulan Observasi Astronomi dari Bulan

Emanuel Sungging menjelaskan bahwa pengamatan astronomi dari Bulan menawarkan sejumlah keunggulan signifikan dibandingkan dari Bumi. Salah satu keunggulan utamanya adalah minimnya gangguan sinyal radio.

"Ketika kita ingin mengamati gelombang radio dari alam semesta dan melakukannya dari Bumi, kita akan menghadapi banyak gangguan dari gelombang radio lainnya," jelasnya. "Namun, jika pengamatan dilakukan di Bulan, gelombang radio dari Bumi akan terhalang, sehingga menghasilkan data yang lebih bersih."

Selain itu, kondisi Bulan sangat ideal untuk penempatan instrumen pengamatan. Bulan memiliki area gelap permanen di bawah kawah yang bersuhu sangat rendah. Kondisi ini membuat kamera pengamatan tidak memerlukan sistem pendingin tambahan, yang berarti penghematan energi dan biaya operasional.

Permukaan Bulan yang relatif stabil dan minim pergerakan juga menjadi keuntungan tersendiri. Hal ini memungkinkan pembangunan instrumen seperti Very Long Baseline Interferometer (VLBI) di Bulan. Kamera yang ditempatkan di sana tidak memerlukan koreksi posisi sesering yang dibutuhkan di Bumi.

"Atmosfer Bulan yang sangat tipis, jauh berbeda dengan atmosfer di orbit terendah Bumi, memungkinkan cahaya bintang terlihat lebih jelas dan detail," tambah Emanuel.

Pembelajaran dari Proyek ILO-X

Chatief Kunjaya, seorang peneliti dari Kelompok Keilmuan Astronomi FMIPA ITB dan Board of Director dari Internasional Lunar Observatory Association (ILOA), berbagi pengalaman mengenai proyek ILO-X. Proyek ini merupakan upaya pengiriman instrumen pengamatan ke Bulan yang berhasil diluncurkan menggunakan pesawat Nova-C.

"ILO-X terbukti sukses karena berhasil mendarat di Bulan dan mampu mengkomunikasikan hasil foto pengamatannya," tutur Chatief. Meskipun demikian, ia mengakui adanya kendala teknis. "Sayangnya, saat mendarat, salah satu kaki pesawat menabrak batu sehingga membuatnya tumbang. Akibatnya, kamera mengamati dalam posisi miring dari bawah dan kurang optimal."

Proyek ILO-X ini sebenarnya merupakan uji coba awal sebelum meluncurkan misi utama, yaitu ILO-1 dan ILO-2. Saat ini, kamera yang digunakan masih bersifat statis, yang berarti pengambilan gambar sangat bergantung pada orientasi pesawat yang membawanya.

"Untuk mengoptimalkan pengambilan gambar di Bulan, dibutuhkan kamera yang bisa bergerak secara otomatis," papar Chatief.

Peluang Kolaborasi untuk Indonesia

Chatief Kunjaya melihat adanya potensi besar bagi Indonesia untuk berpartisipasi dalam misi-misi luar angkasa internasional. Keterlibatan berkelanjutan dalam program ILOA dapat membuka pintu bagi Indonesia untuk eksplorasi antariksa yang lebih luas.

"Indonesia memiliki kesempatan untuk berkontribusi dalam pembuatan kamera yang lebih baik untuk misi ILO-2," ujarnya. Partisipasi ini tidak hanya menambah khazanah ilmu pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana penting untuk meningkatkan wawasan dan kapasitas sumber daya manusia.

Ia menekankan bahwa manfaat dari partisipasi ini mungkin tidak terasa langsung, namun akan sangat signifikan di masa depan. "Indonesia harus mempersiapkan diri, terutama dalam hal capacity building, karena kita berpotensi besar untuk terlibat dalam misi observatorium astronomi di Bulan," pungkas Chatief.

Investasi dalam pengembangan sumber daya manusia dan teknologi di bidang antariksa akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk meraih peran yang lebih strategis dalam penjelajahan luar angkasa global.

Tinggalkan komentar


Related Post