Viral di TikTok, kisah pilu Dina Maharani (29) yang mendambakan keluarga harmonis ala Fadil Jaidi justru berakhir tragis. Ia mengalami kekerasan fisik serius dari kakak kandungnya sendiri hingga mengalami luka memar di rahang dan cedera lainnya. Kasus ini telah dilaporkan Dina ke pihak kepolisian.
Peringatan: Cerita ini mungkin akan menimbulkan perasaan tidak nyaman bagi penyintas kekerasan.
Dina, seorang mahasiswi yang juga aktif sebagai brand ambassador kampusnya, membagikan pengalamannya melalui akun TikTok @sarahhanifah17. Dalam unggahannya, ia menyertakan foto-foto luka yang dideritanya, termasuk rahang yang bengkak dan kebiruan, serta bahu kanan yang memar parah. Ia harus menahan rasa sakit di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) seorang diri.
Mimpi Keluarga Cemara yang Bertepuk Sebelah Tangan
"Impianku selalu pengen punya keluarga cemara, bahagia, kompak, tidak pernah saling tersaingi. Tidak pernah iri sama pencapaian keluarganya. Selalu pengen punya kakak dan keluarga kayak Kak @Fadil Jaidi," tulis Dina dalam keterangan videonya. Ia menambahkan bahwa mimpinya ini terkadang membuatnya dihujat netizen karena dianggap terlalu tinggi atau bahkan "fakir miskin".
Namun, ironisnya, kekerasan justru datang dari orang terdekat. "Bahkan sama kakakku sendiri aku sering dikatain kasar. Guys, udah ya jangan jahat-jahat sama aku, aku selalu sendirian di sini. Dari kecil aku selalu mencoba menyelesaikan masalah sendirian, dan ini sudah kesekian kalinya aku diginiin sama kakakku sendiri," keluhnya.
Video yang dibagikannya telah ditonton ribuan kali dan menuai banyak komentar simpati. Kepada detikINET, Dina menceritakan lebih detail tentang peristiwa traumatis yang dialaminya.
Tekanan Keluarga dan Trauma Mendalam
Dina mengungkapkan bahwa keluarganya kini meminta ia mencabut laporan polisi. "Mereka minta tolong sama aku buat cabut laporannya, mereka nggak tanya aku baik-baik saja apa nggak," ujarnya lirih melalui pesan suara pada Rabu (1/3/2026). Ia mengaku masih mengalami trauma berat, terutama saat hendak tidur. "Aku nggak bisa tidur sampai jam 2-3 pagi, jam tidur aku tuh bener-bener jelek banget."
Luka fisik yang dialaminya juga membuatnya merasa malu untuk beraktivitas. "Sampai aku mau ke kampus aja aku nggak berani, aku malu, karena di muka aku tuh lebamnya gede. Terus rahang aku kelihatan gede. Terus yang bahu kanan itu, itu sampai ngeblok," lanjutnya.
Menurut penuturan Dina, ini bukan kali pertama ia mengalami kekerasan fisik maupun verbal dari kakak kandungnya, yang diidentifikasi dengan inisial Y. Namun, ia selalu berusaha menjaga keharmonisan keluarga, meskipun seringkali merasa masalah tersebut tidak terselesaikan secara tuntas.
Pemicu Kekerasan: Pesanan Kue dan Tanggung Jawab
Titik pemicu kekerasan yang lebih parah terjadi ketika Dina mempercayakan kakaknya untuk membuat pesanan kue. Dina meminta kakaknya untuk membayar ongkos kirim sebesar Rp 25.000. Baginya, ini bukan sekadar nominal uang, melainkan bentuk profesionalitas dan tanggung jawab sebagai penjual.
"Memang uangnya nggak gede, tapi aku di sini mau dia tuh profesional. Dia sudah berapa kali nggak profesional. Kayak yang dulu-dulu dia jualan risol, aku nawarin ke manajer aku, terus manajer aku mau order 30 box, dia bilangnya nggak sanggup gitu. Terus ngapain nawarin kalau emang nggak bisa?" keluh Dina.
Masalah ini kemudian melebar. Sang kakak merasa keberatan dan mengungkit perannya dalam mengantar orang tua mereka berobat ke rumah sakit dua kali. Dina merasa heran karena ia lah yang selama ini lebih sering mengantar orang tua berobat.
Kronologi Kekerasan yang Mengerikan
Peristiwa nahas itu terjadi pada 24 Maret 2026. Dina, yang merupakan ibu satu anak, memutuskan untuk menginap di rumah ibunya agar anaknya bisa bertemu neneknya. Keesokan harinya, sekitar pukul 23.00, kakaknya Y datang dengan emosi dan melabrak Dina.
Terjadi adu mulut antara Y, adik ipar Dina, dan Dina sendiri. Ibu Dina hanya bisa menangis dan memukuli kepalanya sendiri karena bingung dan khawatir, yang justru membuat Dina semakin panik. Y akhirnya diusir keluar rumah.
"Itu semua pintu sudah dikunci sama adikku tapi dia masih gedor-gedor. Akhirnya adik ipar aku itu sudah kesel, dan aku disuruh keluar. Akhirnya aku bilang gini, ‘Sudah Ma, aku keluar, nggak apa-apa’. Mamaku bilang, ‘Jangan keluar, nanti kamu habis’," kenang Dina.
Meskipun sudah di luar rumah, Dina tidak menyangka akan menjadi sasaran amukan Y. Ia dihajar habis-habisan oleh kakaknya, yang saat itu ditemani anaknya yang masih duduk di bangku SMP.
"Aku baru mau keluar (dari pagar), tangannya sudah menyamperin aku, sudah mau mencekik, tapi ku tepis. Akhirnya aku bilang, ‘Awas! Jangan di sini’. Terus dia langsung teriak di kuping aku," tuturnya.
Di luar rumah, adu mulut kembali terjadi. Tiba-tiba, Y mendorong badan dan kepala Dina ke arah kanan hingga jatuh ke jalan. Dalam kondisi yang disebut Dina seperti "kesetanan", Y menginjak leher, rahang, dan pelipis Dina. Dina sempat berusaha membela diri dengan menjambak Y hingga kakaknya terjatuh. Spontan, Dina berteriak meminta tolong.
Beruntung, seorang pengendara mobil yang melintas berhenti dan menolong Dina. Ia selamat, meskipun menderita luka-luka dan trauma mendalam.
Bukti dan Harapan untuk Keadilan
Selama momen penganiayaan berlangsung, Dina berhasil merekam audio kejadian tersebut. Rekaman ini menjadi salah satu bukti tambahan yang ia ajukan kepada pihak kepolisian.
"Aku masih recovery karena belikat belakangku itu masih perlu terapi beberapa kali di WM Center. Terus, aku juga besok harus ke rumah sakit buat rontgen rahang aku karena kena TMJ," jelas Dina.
Ia berharap kasusnya tidak diabaikan oleh pihak kepolisian hanya karena pelaku adalah kakak kandungnya sendiri. Dina memahami sifat kakaknya yang mudah meminta maaf namun seringkali tidak tulus.
"Dan aku tahu tipikal kakakku itu, dia gampang minta maaf, tapi dia nggak dengan tulus. Dan aku nggak butuh permohonan maaf dia. Aku cuma pengen dia itu dibayar, membayar apa yang sudah dia lakukan," pungkas Dina dengan tegas. Kasus ini menjadi pengingat pahit tentang bagaimana impian keluarga harmonis bisa berbenturan dengan realitas kekerasan dalam rumah tangga, bahkan dari orang terdekat.









Tinggalkan komentar