IGRS: UniPin dan Kominfo Jajaki Solusi Klasifikasi Game

11 Maret 2026

5
Min Read

Jakarta – Momentum bulan suci Ramadan tidak hanya menjadi waktu untuk introspeksi diri dan ibadah, namun juga dimanfaatkan sebagai wadah silaturahmi dan diskusi mendalam di kalangan pelaku industri game Indonesia. Melalui acara iftar bersama yang diinisiasi oleh UniPin dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Kominfo), para pemangku kepentingan industri game, mulai dari publisher hingga regulator, berkumpul untuk mengupas tuntas tantangan dalam implementasi Indonesia Game Rating System (IGRS).

Diskusi yang bertajuk ‘Tantangan Game Publishers dalam Implementasi IGRS’ ini menjadi panggung utama untuk menggali berbagai perspektif dan wawasan dari para pelaku industri. Tujuannya jelas: merumuskan langkah konkret agar sistem klasifikasi game nasional ini dapat berjalan efektif dan memberikan manfaat maksimal bagi ekosistem game Indonesia.

Memahami IGRS: Panduan Usia untuk Gamer Indonesia

Tita Ayuditya Surya, Ketua Tim Pengembangan Ekosistem Gim Kominfo, menjelaskan bahwa IGRS hadir sebagai layanan krusial untuk mengklasifikasikan konten game. Sistem ini dirancang untuk memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat, terutama orang tua, mengenai kesesuaian usia para pemain dengan konten yang disajikan dalam sebuah game.

"IGRS pada dasarnya adalah sebuah layanan yang memfasilitasi setiap produk game untuk diklasifikasikan. Klasifikasi ini didasarkan pada muatan konten yang ada di dalamnya, kemudian dikelompokkan ke dalam kategori usia tertentu," ujar Tita dalam sesi diskusi yang digelar di GoWork Pacific Place, Jakarta, pada Rabu, 11 Maret 2026.

Lebih lanjut, Tita menegaskan bahwa kebijakan IGRS ini berlaku universal bagi seluruh penerbit game yang ingin memasarkan produk mereka di tanah air. Namun, ia menekankan poin penting: pemerintah tidak berniat menggunakan sistem rating ini sebagai alat untuk menyensor atau membatasi laju kreativitas para pengembang game.

"Kehadiran IGRS sama sekali bukan untuk melarang atau justru menambah beban bagi industri game. Tujuan utamanya adalah untuk memberikan informasi yang transparan kepada pengguna, mengenai konten yang ditawarkan oleh sebuah game beserta rating usianya," tegasnya.

Kominfo, kata Tita, telah berupaya menyederhanakan sistem layanan rating ini agar mudah diakses dan digunakan oleh para publisher. Selain fungsi klasifikasi konten, IGRS juga menyediakan layanan konsultasi dan penanganan aduan bagi para pelaku industri, menunjukkan komitmen pemerintah untuk mendukung kelancaran implementasi.

UniPin: Jembatan Kolaborasi Demi Ekosistem Game yang Sehat

Sebagai salah satu platform terkemuka dalam penyediaan hiburan digital dan layanan top-up game di Indonesia, UniPin menyatakan komitmennya untuk terus mendukung berbagai inisiatif yang mendorong kepatuhan industri gaming. Hal ini sejalan dengan upaya UniPin untuk menumbuhkan ekosistem game yang berkelanjutan di Indonesia.

Poeti Fatima, GM Business Global UniPin, menyambut baik forum diskusi ini. "Sebagai bagian integral dari ekosistem industri game di Indonesia, kami di UniPin sangat percaya bahwa implementasi IGRS memerlukan sinergi dan kolaborasi yang erat antara regulator dan seluruh pelaku industri," ungkapnya.

Melalui forum semacam ini, Poeti berharap tercipta ruang dialog yang konstruktif. Dialog ini diharapkan dapat memfasilitasi pertukaran perspektif, pemahaman mendalam terhadap berbagai tantangan yang dihadapi oleh para game publisher, serta upaya bersama untuk merumuskan solusi terbaik. Tujuannya adalah menciptakan pertumbuhan ekosistem game yang sehat dan berkelanjutan bagi semua pihak.

Namun, Poeti mengakui bahwa tantangan terbesar masih datang dari publisher game global. Banyak di antara mereka yang belum sepenuhnya memahami detail regulasi rating game di Indonesia.

"Kami melihat masih banyak publisher global yang belum sepenuhnya mengerti tentang kewajiban IGRS. Padahal, kepatuhan terhadap sistem rating ini sangat penting sebelum mereka meluncurkan game di pasar Indonesia," jelas Poeti.

Menyadari hal ini, UniPin secara proaktif mengambil peran dalam melakukan sosialisasi kepada mitra publisher mereka. Tujuannya adalah agar para publisher memahami kewajiban klasifikasi IGRS sebelum game mereka tersedia untuk publik di Indonesia.

"Banyak publisher yang sebenarnya memiliki niat baik untuk patuh, namun mereka menganggap IGRS sebagai sesuatu yang baru dan mungkin rumit. Peran kami di sini adalah membantu menjelaskan bahwa IGRS bukanlah momok yang menakutkan. Justru sebaliknya, IGRS dapat menjadi alat pelindung bagi industri game itu sendiri maupun bagi para penggunanya," tambahnya.

UniPin bertekad untuk terus menjadi jembatan komunikasi yang efektif antara pemerintah dan para pelaku industri. Dengan demikian, proses implementasi IGRS dapat berjalan lebih lancar dan meminimalkan potensi kendala.

IGRS: Melindungi Generasi Muda dari Konten Game yang Tidak Sesuai

Sebagai pengingat, Indonesia Game Rating System (IGRS) adalah sistem klasifikasi game yang dikembangkan oleh pemerintah berdasarkan konten dan kelompok usia pemain. Sistem ini memiliki tujuan mulia, yaitu membantu masyarakat, khususnya para orang tua, dalam memilih game yang tepat sesuai dengan usia anak-anak mereka.

Lebih dari sekadar panduan usia, IGRS juga berfungsi sebagai garda terdepan dalam melindungi pengguna dari paparan konten yang tidak sesuai dengan perkembangan psikologis dan emosional mereka.

Sistem klasifikasi IGRS sendiri terbagi dalam beberapa kategori usia yang jelas:

  • 3+: Konten yang aman untuk anak usia 3 tahun ke atas.
  • 7+: Konten yang sesuai untuk anak usia 7 tahun ke atas.
  • 13+: Konten yang direkomendasikan untuk usia 13 tahun ke atas.
  • 15+: Konten yang cocok untuk usia 15 tahun ke atas.
  • 18+: Konten yang diperuntukkan bagi pemain dewasa berusia 18 tahun ke atas.

Penentuan kategori usia ini didasarkan pada analisis mendalam terhadap berbagai unsur konten dalam game. Unsur-unsur yang menjadi pertimbangan utama antara lain: tingkat kekerasan, penggunaan bahasa, tema-tema sensitif yang diangkat, hingga keberadaan elemen perjudian dalam permainan.

Acara iftar bersama UniPin dan Kominfo ini tidak hanya menjadi forum diskusi formal, tetapi juga momen berharga untuk mempererat tali silaturahmi antar pelaku industri. Suasana yang hangat dan informal menciptakan peluang networking yang lebih luas, memupuk kolaborasi antar berbagai pihak.

Dengan terus terjalinnya dialog yang konstruktif antara regulator dan pelaku industri, UniPin berharap implementasi IGRS dapat berjalan semakin efektif. Harapan besarnya adalah IGRS dapat berkontribusi signifikan dalam mendukung pertumbuhan industri game Indonesia menjadi lebih matang, bertanggung jawab, dan berkelanjutan di masa depan.

Tinggalkan komentar


Related Post