Kepergian Michael Bambang Hartono meninggalkan duka mendalam bagi dunia olahraga Indonesia. Pengusaha sukses yang juga dikenal sebagai pemilik Grup Djarum ini tidak hanya dikenal karena kontribusinya dalam memajukan bulu tangkis nasional, tetapi juga pernah mengharumkan nama bangsa di cabang olahraga bridge. Kabar duka ini dibenarkan oleh Ketua PB Djarum, Yoppy Rosimin, pada Kamis (19/3/2026).
Bambang Hartono, sosok yang akrab disapa, telah memberikan sumbangsih luar biasa bagi perkembangan olahraga Indonesia. Warisannya dalam dunia bulu tangkis melalui klub PB Djarum telah melahirkan banyak atlet kelas dunia, seperti Lim Swie King hingga Kevin Sanjaya Sukamuljo. Namun, dedikasinya tidak berhenti di situ. Ia membuktikan bahwa kecintaannya pada olahraga merambah ke berbagai disiplin ilmu, termasuk olahraga kartu yang membutuhkan strategi dan ketelitian tinggi.
Jejak Sang Maestro Bridge di Kancah Internasional
Perjalanan Michael Bambang Hartono di dunia bridge dimulai sejak usia belia. Ketertarikannya pada permainan kartu ini muncul saat ia berusia enam tahun, antara tahun 1944 hingga 1945. Ia terpesona melihat paman-pamannya bermain bridge, sebuah permainan yang menawarkan jutaan kemungkinan kombinasi kartu. Keunikan inilah yang membuatnya jatuh cinta dan memutuskan untuk mendalami olahraga ini secara serius.
Dengan tekad kuat, Bambang Hartono tak ragu menggandeng pelatih khusus dari Bridge School. Ia juga aktif mengikuti berbagai kompetisi, mulai dari tingkat regional, nasional, hingga internasional. Usianya yang tidak muda lagi tidak menghalanginya untuk terus berprestasi. Pada Asian Games 2018 yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang, Bambang Hartono yang saat itu berusia 78 tahun, menjadi atlet tertua dalam kontingen Indonesia.
Di ajang multievent terbesar se-Asia tersebut, Bambang Hartono berhasil mempersembahkan medali perunggu untuk Indonesia. Prestasi gemilang ini diraihnya dalam nomor mixed team dan super mixed team. Keikutsertaannya di Asian Games 2018 tidak hanya membuktikan semangat juangnya, tetapi juga menjadi inspirasi bagi atlet-atlet muda bahwa usia bukanlah penghalang untuk meraih mimpi.
Prestasi Gemilang yang Mendunia
Sebelum mengukir prestasi di Asian Games 2018, Michael Bambang Hartono telah menorehkan berbagai capaian membanggakan di arena bridge. Pada Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau, ia berhasil meraih medali perunggu dalam nomor bridge beregu putra. Kemenangan ini menjadi bukti konsistensinya dalam dunia olahraga bridge di tanah air.
Di kancah internasional, Bambang Hartono juga menunjukkan kelasnya. Ia pernah meraih medali perak dalam Kejuaraan Dunia Bridge untuk Piala Senior Bowl. Tak hanya itu, pada tahun 2009, ia bersama rekan-rekannya berhasil membawa pulang medali perunggu dari Kejuaraan Bridge International 39th World Team Championships yang diselenggarakan di Sao Paulo, Brasil. Prestasi-prestasi ini menegaskan posisinya sebagai salah satu pemain bridge terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.
Lebih dari Sekadar Olahraga: Keseimbangan Hidup
Di luar kiprahnya sebagai atlet bridge dan pengusaha sukses, Michael Bambang Hartono juga memiliki kebiasaan lain yang menunjang kesehatannya. Ia rutin melakukan meditasi dan berlatih tai chi. Kedua aktivitas ini diyakininya membantu meningkatkan fokus dan ketenangan batinnya, yang tentu saja sangat bermanfaat dalam menghadapi berbagai tantangan, baik di arena olahraga maupun dalam dunia bisnis.
Kombinasi antara ketekunan dalam olahraga, ketajaman dalam berbisnis, serta keseimbangan hidup yang ia jaga, menjadikan Michael Bambang Hartono sebagai sosok inspiratif. Kepergiannya menjadi kehilangan besar, namun warisan prestasi dan semangat juangnya akan terus hidup dan menginspirasi generasi penerus bangsa untuk terus berjuang mengharumkan nama Indonesia di kancah dunia. Dedikasinya pada bulu tangkis dan bridge akan selalu dikenang sebagai kontribusi tak ternilai bagi kejayaan olahraga nasional.








Tinggalkan komentar