Bagi gelandang PSIM Yogyakarta, Iksan Chan, sosok ibu memiliki makna yang mendalam. Bagi Iksan, definisi seorang ibu tak hanya terbatas pada ikatan biologis. Justru, kasih sayang dan peran penting itu hadir dari sosok neneknya, Kartini, yang telah merawatnya sejak kecil. Kisah haru dan inspiratif ini menjadi bukti kuatnya ikatan batin dan peran penting seorang nenek dalam membentuk karakter cucunya.
Sejak kecil, Iksan telah merasakan kasih sayang tak terbatas dari sang nenek. Kartini, yang kini berusia 70 tahun, bukan hanya memberikan cinta, tetapi juga menjadi tulang punggung dalam kehidupan Iksan. Perjuangan dan pengorbanan Kartini telah membentuk Iksan menjadi pribadi yang kuat dan berdedikasi tinggi.
Peran Utama Pengganti Ibu
Sejak Iksan kecil, nenek Kartini telah menggantikan peran ibu kandung dalam hidupnya. Ia selalu hadir mengantar dan menjemput cucunya dari sekolah, memberikan dukungan penuh dalam setiap langkah Iksan.
Perjuangan Ekonomi dan Disiplin yang Ditanamkan
Kartini tidak hanya memberikan kasih sayang, tetapi juga berjuang keras memenuhi kebutuhan cucunya. Di tengah keterbatasan ekonomi, Kartini bekerja keras demi mewujudkan mimpi Iksan.
Pengorbanan untuk Sepatu Bola Pertama
Kartini rela bekerja sebagai penggosok pakaian untuk membelikan Iksan sepatu bola pertama. Ia bahkan meminjam uang saat sepatu Iksan rusak agar sang cucu tetap bisa berlatih dan menyalurkan bakatnya.
“Apapun yang saya minta dari kecil pasti diusahakan nenek walaupun nenek kadang enggak punya uang, tapi pasti diusahakan,” ungkap Iksan, mengenang pengorbanan neneknya.
Disiplin Ibadah yang Membentuk Karakter
Selain dukungan materi, Kartini juga menanamkan nilai disiplin yang kuat pada Iksan, terutama dalam hal kewajiban ibadah. Di tengah jadwal latihan yang padat, Iksan selalu diingatkan untuk tidak melalaikan salat.
Ketegasan Kartini dalam mendidik Iksan membentuk karakter disiplin yang menjadi modal penting bagi Iksan dalam menjadi pemain sepak bola profesional.
“Nenek saya enggak kejam, tapi dia tegas. Ya itu salah satunya tentang salat,” kata pemain asal Medan ini.
Komunikasi Jarak Jauh dan Motivasi Tanpa Henti
Kini, Iksan harus merantau ke Yogyakarta untuk membela PSIM. Jarak memisahkan mereka, namun komunikasi tetap terjalin erat setiap malam melalui telepon.
Dukungan Mental dari Jauh
Nenek Kartini selalu memastikan kondisi cucunya, mulai dari pertanyaan tentang latihan hingga mengingatkan untuk makan. Suara Kartini menjadi penguat mental Iksan setiap hari, terutama sebelum bertanding.
“Habis Maghrib pasti nenek menelepon. Kadang nenek cuma tanya gimana latihan tadi, sudah makan apa belum,” tutur Iksan.
Harapan untuk Menembus Skuad Utama
Iksan sangat merindukan neneknya dan khawatir akan kesehatannya. Hal ini memotivasi Iksan untuk terus berlatih keras, agar bisa menembus skuad utama PSIM dan bisa ditonton langsung oleh neneknya di televisi nasional.









Tinggalkan komentar