Enam Petenis Putri Indonesia Pecahkan Rekor Grand Slam Sejak 2004

Kilas Rakyat

23 Agustus 2025

3
Min Read

Janice Tjen mencetak sejarah sebagai petenis putri Indonesia yang menembus babak utama US Open 2025. Prestasi ini diraih setelah melewati tiga babak kualifikasi, termasuk kemenangan atas unggulan ketiga Aoi Ito dari Jepang dengan skor 6-1, 6-2. Kemenangan ini sekaligus menandai kembalinya petenis putri Indonesia ke panggung Grand Slam setelah absen selama hampir dua dekade.

Pertandingan melawan Ito berlangsung selama 49 menit. Janice tampil impresif dengan empat ace dan empat winner, tanpa satu pun unforced error. Kinerja yang sangat solid dan menunjukkan mentalitas juara.

Namun, keberhasilan Janice bukanlah yang pertama bagi Indonesia. Sejumlah atlet putri Indonesia telah lebih dulu menorehkan prestasi di Grand Slam, bahkan ada yang mencapai perempat final. Berikut profil keenam petenis Indonesia yang telah lebih dulu merasakan atmosfer Grand Slam:

Lany Kaligis menjadi salah satu pionir petenis Indonesia di kancah Grand Slam. Debutnya di Australian Open 1968 menjadi catatan bersejarah. Sepanjang kariernya, ia berpartisipasi dalam empat ajang Grand Slam, dengan pencapaian terbaik babak ketiga di nomor tunggal dan perempat final ganda putri Wimbledon 1971 bersama Lita Liem Sugiarto.

Lita Liem Sugiarto, pasangan ganda Lany Kaligis, juga memiliki catatan gemilang. Ia memulai debut Grand Slam di Australian Open 1968, kemudian berlaga di beberapa turnamen lainnya, termasuk French Open, US Open, dan Wimbledon. Prestasi terbaiknya serupa dengan Lany, yakni babak ketiga di nomor tunggal. Keberhasilannya di ganda putri bersama Lany menunjukkan kekuatan ganda putri Indonesia di masa lalu.

Romana Tedjakusuma, petenis kelahiran Surabaya, memulai karier profesionalnya pada tahun 1990. Puncak kariernya terjadi pada tahun 1994, di mana ia berhasil berkompetisi di tiga Grand Slam: Australian Open, French Open, dan US Open. Kehadirannya di kancah internasional turut mengharumkan nama Indonesia di dunia tenis.

Nama Yayuk Basuki tentu tak asing lagi bagi pecinta tenis Indonesia. Ia merupakan petenis putri terbaik Indonesia sepanjang masa, pernah menduduki peringkat 19 WTA. Yayuk berpartisipasi dalam lima Grand Slam, termasuk mencapai perempat final Wimbledon. Prestasi ini menjadi yang terbaik yang pernah diraih petenis putri Indonesia di Grand Slam.

Wynne Prakusya melanjutkan estafet prestasi petenis putri Indonesia. Memulai karier profesionalnya pada 1998, ia berhasil menembus Grand Slam pertamanya di Australian Open dan US Open pada tahun 2001. Ia juga turut berlaga di beberapa Grand Slam lainnya, baik di nomor tunggal maupun ganda.

Angelique Widjaja menjadi petenis putri Indonesia terakhir yang berkompetisi di Grand Slam sebelum Janice Tjen. Ia memulai debut Grand Slam-nya pada tahun 2001, dengan berpartisipasi di French Open, Wimbledon, dan US Open. Prestasi terbaiknya adalah mencapai perempat final, menunjukkan potensi yang dimiliki petenis Indonesia di kancah internasional.

Prestasi Janice Tjen patut diapresiasi, karena selain menunjukkan bakat individunya, ia juga menandai kebangkitan tenis putri Indonesia setelah sekian lama vakum di Grand Slam. Semoga keberhasilan ini dapat menginspirasi generasi muda petenis Indonesia untuk terus berjuang dan mengharumkan nama bangsa di kancah internasional. Keberhasilan Janice juga diharapkan menjadi awal dari kebangkitan tenis putri Indonesia di masa mendatang.

Tinggalkan komentar


Related Post