China ajak India beraliansi hadapi dominasi ekonomi AS

Kilas Rakyat

17 April 2025

3
Min Read

China mendesak India untuk bersatu melawan kebijakan perdagangan agresif Amerika Serikat (AS) yang dianggap Beijing sebagai tindakan kekerasan ekonomi. Hal ini dilakukan menyusul pengumuman Presiden AS Donald Trump (dalam konteks fiktif tahun 2025) tentang kenaikan tarif signifikan terhadap impor China, sehingga tarif kumulatif mencapai 104 persen. Langkah China ini menunjukkan upaya untuk membangun koalisi internasional dalam menghadapi proteksionisme AS.

Juru bicara Kedutaan Besar China di India, Yu Jing, secara terbuka mengkritik kebijakan tarif AS melalui media sosial. Ia menekankan kontribusi signifikan China terhadap ekonomi global, termasuk pertumbuhan ekonomi yang konsisten, inovasi, dan sektor manufaktur yang kuat. China juga telah secara aktif menghubungi India untuk meningkatkan kerja sama ekonomi dan antar-masyarakat sebagai bagian dari strategi diplomasi ekonomi.

Presiden China Xi Jinping juga telah secara langsung menyerukan peningkatan kerja sama antara China dan India, sebuah langkah yang menunjukkan upaya untuk mengatasi ketegangan diplomatik yang mungkin ada. Xi menekankan komitmen China terhadap globalisasi ekonomi dan multilateralisme, serta peran penting China dalam pertumbuhan ekonomi global. China, menurut Yu Jing, terus bekerja sama dengan negara lain untuk melindungi sistem perdagangan multilateral yang berpusat pada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Perang Tarif dan Dampaknya

China dan India didorong untuk bekerja sama dalam menghadapi tantangan yang ditimbulkan oleh kebijakan tarif AS. Yu Jing berpendapat bahwa perang tarif ini menghambat pembangunan ekonomi negara-negara, khususnya di negara berkembang. Ia menekankan bahwa pendekatan proteksionis dan unilateralis AS hanya akan merugikan semua pihak yang terlibat. Oleh karena itu, kerjasama internasional dan multilateralisme menjadi sangat penting.

Perlu dicatat bahwa kebijakan tarif AS tidak hanya berdampak pada China. India juga menghadapi tarif yang signifikan atas barang-barang ekspornya ke AS. Namun, India telah menyatakan bahwa mereka tidak akan menerapkan tarif balasan, memilih pendekatan diplomasi dan negosiasi untuk mengatasi masalah ini. Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar, mengungkapkan bahwa India telah meningkatkan intensitas dialog dengan pemerintahan AS.

Strategi Diplomasi India

India, menurut Jaishankar, telah meningkatkan intensitas interaksi dengan AS dalam beberapa waktu terakhir. India mengadopsi pendekatan dialog dan negosiasi untuk menghadapi tarif AS. Hal ini menunjukkan komitmen India untuk menyelesaikan perselisihan ekonomi melalui diplomasi. India juga menargetkan untuk merundingkan kesepakatan perdagangan dengan AS. Hal ini menunjukkan keseimbangan dan strategi yang terukur.

Meskipun India tetap hati-hati dalam memprediksi dampak penuh dari tarif AS, Jaishankar menekankan bahwa India memiliki pemahaman prinsip dengan pemerintahan AS. Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun ada tantangan, hubungan bilateral antara India dan AS tetap kuat dan terpelihara melalui jalur diplomatik. Perluasan kerja sama di bidang lain selain ekonomi juga penting sebagai strategi diplomasi.

Analisis dan Implikasi

Situasi ini menunjukkan kompleksitas hubungan ekonomi internasional dan tantangan proteksionisme. China dan India, sebagai dua ekonomi besar, memiliki kepentingan yang signifikan dalam menjaga sistem perdagangan multilateral yang adil dan terbuka. Kerjasama antara kedua negara dalam menghadapi kebijakan AS dapat menjadi contoh penting bagi negara-negara berkembang lainnya.

Meskipun belum ada kesimpulan pasti dari upaya diplomatik ini, upaya China untuk mengajak India bekerja sama mencerminkan kesadaran akan perlunya strategi multilateral untuk melawan kebijakan proteksionis. Keberhasilan strategi ini akan bergantung pada kemampuan China dan India untuk membangun konsensus dan mengatasi perbedaan kepentingan mereka. Perkembangan selanjutnya akan menjadi penentu arah kebijakan perdagangan global.

Perlu dipertimbangkan juga dampak geopolitik dari kerjasama ini. Meskipun kerjasama ekonomi, perbedaan ideologis dan sejarah hubungan kedua negara perlu dipertimbangkan. Keberhasilan kerjasama ini bisa menjadi tonggak sejarah dalam membentuk tatanan ekonomi dunia yang lebih seimbang dan adil.

Tinggalkan komentar


Related Post